Tulisan berikut adalah kiriman seorang pembaca blog ini melalui email yang ingin berbagi tentang parenting atau kepengasuhan anak. Karena bentuknya curhat, tentu akan sangat bermanfaat sekali jika pembaca lain menambahkan komentar atau sharing pengalaman pembaca, terutama anda yang telah berpengalaman dalam dunia keluarga dan kepengasuhan buah hati. Terima kasih kepada Mbak Atiqah Muhammad yang telah berkenan membagi cerita dan pengalamannya melalui blog ini. Salam hangat buat keluarga ya..
——————————————————-
Ini adalah tulisan yang saya sharing untuk seluruh saudara-saudaraku, berangkat dari buku bacaan, training parenting dan tentunya pengalaman pribadi…

Ayah dan ibu, ternyata sebagian orang tua telah begitu sibuk dan lelah mengasuh dan mendidik anaknya,  semua hal dianggap masalah. Anak nggak mau makan merasa depresi, anak berkelahi dengan adik atau temannya orang tua teriak-teriak, anak coret-coret tembok mata ayah ibunya melotot, anak main kotor diluar ibu dan ayah teriak ‘kotor nak’, kalau anak bisa komplain, anak akan bisa jawab ,’so what gitu loh kalo kotor ?’, iya bu, kan cacingan anak saya kalau main kotor-kotor begitu.  Jawaban ibu: “kan ada obat cacing…”

Ibu tau cara anak belajar? Di antaranya adalah main jorokom itu (kata pak andre jorok is jorokom ). Ibu tinggal temani anak ibu, yang penting gak masuk mulut dan nggak membahayakan dirinya.

Apalagi cara belajar anak ? Main pisau boleh bu ? dia menjawab ‘ ya gak dong bu…masa main pisau di biarin. Saran saya….‘ kasih aja ya bu kalauan dia mau main pisau, ajarkan cara yg benar memegangnya dan ibu temani dia saat main pisau’ bereskan?  Tapi bu….., ‘ah ibu ini cuma malas aja kali nemenin anak belajar..’

Yup… berapa banyak dari kita orang tua yang mau paham dan paham beneran tentang cara anak kita melewati proses belajarnya. Semua alami…tp kitalah org tuanya yang membajak anak kita agar tidak  menjadi pandai, kita bentuk anak kita untuk gak perlu yang namanya belajar, maka jadilah anak kita malas belajar.

Ibu dan ayah, biarlah anak kita bereksplorasi dan tentu temani mereka saat mereka ingin belajar sesuatu yang agak berbahaya. Bukan melarangnya.

Anak bertengkar, dia sedang belajar menyelesaikan masalah, makanya kita orang tua jangan sibuk memutuskan semua persoalan anak.

Anak teriak-teriak dan marah-marah? Anak sedang mengenal emosinya. Ia belajar  tentang emosi lain selain senang dan gembira.

Untuk anak yang sudah mulai agak besar kita boleh membuat kesepakatan, bahwa kita boleh marah tapi tidak menyakiti siapapun.

Ibu dan ayah, bukankah kita juga marah dan emosi? Kenapa kita begitu sibuk menimpali kemarahan anak dengan membentaknya atau bahkan memukulnya? Kenapa saat kita marah atau emosi, kita tidak memberi  ijin anak kita untuk mencubit kita dan memarahi balik kita?

Ayah dan ibu, cubitan yang kita beri ke anak kita sebentar akan hilang, tapi bekas luka di hatinya seumur hidup membekas.

Anak bukan makhluk pendendam, tapi bekas itu akan tertoreh dalam jiwanya. Ibarat paku yang telah tertancap di kayu, lalu paku itu kita cabut, nah ada bekas pada kayu itu.

( maafin umi ya muhaammad dan Ibrahim….menyesal terus kl ingat sesi ini, sering bahkan tiap hari minta maaf sm anak krn luka yg kita buat di jiwa murni mrk )

Kita, orang tuanyalah yang pertama kali mengajarkan kekerasan dan menyakiti orang lain.

Anak gak mau makan

Ayah dan ibu yang baik hati, manusia bisa kok gak makan beberapa minggu. Kenapa cemas banget dan repot kalau anak nggak mau makan seharian.

..Iya bu, segala cara sdh sy lakukan tp tetap gak mau makan’. ..

Buatlah anak kita lapar, manusia pasti ada laparnya. Saya pernah kok gak ngasih anak sy makan 3 hari dan gak minum susu. Akhirnya dia minta sendiri karena perutnya lapar. Sangat baik dan harus memperhatikan pola makan anak yang dalam tumbuh kembang. Tapi memaksanya? Apa yang kita dapat dari sebuah pemaksaan dengan alasan agar anak tidak sakit.  Kalau sudah mulai jengkel, mulailah jurus pamungkas keluar, melotot! Kalau gak mempan, “..nanti ibu gak kasih mainannya ya..!” ( ibu mulai ajarkan anak ancaman), yang lebih wah lagi suara kita mulai meninggi dan herannya anaknya tetap gak peduli dengan suara lengkingan ibunya, yang paling sarkasme mulailah si anak dicubit.

Ya Allah, ibu dan ayah, mengapa jadi malah menyakiti jiwanya dan hany amenambah ia jadi malas makan? Kejiwaaanya terganggu dan malah makin gak mau buka mulut.  Bolehlah buat anak kita merasa lapar. Ajak anak makan di meja makan, jgn disuapin ya bu, kita cerita sambil mereka makan.

Apalagi ya bentuk proses belajar anak? Saya rasa ayah ibu punya banyak hal yang bisa kita sharingkan disini.

Monggo ayah ibu jika ada banyak tambahan lagi, kita berbagi ilmu dan pengalaman.

Ayah dan ibu….ada banyak proses belajar yang dilalui anak dan ternyata byk sekali perbuatan kita yang menumpulkan proses belajar anak-anak kita.

Dalam sebuah training parenting sang pembicara berkata “Kita ada di dekat anak tapi kita tidak bersama anak”

Yuk, ayah ibu, mari kita bersama anak, bersama jiwanya, mendengarkannya, kelak  anak kita tidak menjadi anak yang susah diatur. Makin lekat jiwanya pada kita makin mudah kita mengasuh dan mendidiknya.

See you ayah ibu, semoga dari hari ke hari kita bisa terus menjadi orang tua sholeh dan teruslah berdoa untuk perubahan yang lebih baik bagi kita dan doa untuk anak-anak kita.

penulis dapat dihubungi via email: atiiiqah [at] yahoo.com

———————————————————————————————————

Tulisan lainnya yang berhubungan:

  1. Temani kreativitas anak
  2. Curhat Pendidikan Anak
  3. Lakukan 32 hal ini pada orang tua anda, niscaya anda akan sukses dunia akhirat
  4. 4 Langkah menanamkan keberanian pada jiwa anak
  5. 10 Pelajaran Akhlaq & Sopan Santun bagi Anak-anak
  6. Madu anak pintar
  7. Banyak Anak Banyak Resiko?
  8. Bagaimana mendidik anak?
  9. Agar Anak cinta Al Qur’an
  10. Bayi Bermuka Dua Lahir di India
  11. Perang Iraq: Dua bocah polos ini tengah dilecehkan
  12. Download mp3 Al Qur’an anak-anak: Ahmad Saud, Hasan Al Awwad, Moh Thoha Al Junaid