Saya tidak butuh pendidikan gratis
Melihat iklan sekolah gratis di layar kaca yang bolak-balik tayang bersaing dengan iklan komersial lainnya, membuat saya sedikit dongkol. Pernyataan dalam hati saya yg pertama adalah, kenapa dulu gak ada yah, jamanya era partai XXXXXX berkuasa, dulu ortu saya yg cuma petani susah payah untuk setoran bulanan (SPP/bp3) yg tidak sampe 2000 perak. Ah, tentu saja tidak benar menyesali yg tlah terjadi..
Kini masa telah berganti, zaman berubah. Rupiah pun tidak sehebat dulu lagi, semangat belajar anak-anak kini pun tidak seperti anak-anak dulu, kami biasa bertelanjang kaki bersekolah atau kami berkelompok di tengah sawah di bawah pohon mengerjakan PR, dulu waktu belajar kami selalu penuh meski tidak me;lulu di kelas; guru kami tidak sering beralasan meeting rapat, dulu ada guru yg berkunjung ke rumah-rumah anak didiknya, dulu kami takut-takut jika menyapa guru kami yang kebetulan berpapasan di jalan, dulu kami rajin menulis surat, untuk guru, untuk teman, bahkan shabat penan nun jauh di seberang pulau atau benua.., dulu cuma ada radio untuk berebut mendengarkan sandiwara radio, sehingga mutu bahasa kami pun terpengaruh, dulu cuma ada satu atau 2 stasiun TV yg tidak seneko-neko sekarang ini, dulu tidak ada sinetron tentang anak SMP atau SD yng pacaran, dulu kami tidak pernah melihat HP canggih-canggih dan mahal yg bisa ada tayangan siswa bercumbu dengan guru, dulu kami kreatif membuat telepon dari kaleng, dulu kami biasa berburu buku-buku menarik yg terpajang di perpustakaan.. itu dulu.. duluu sekali, saat itu meski sekolah tidak gratis, namun para orang tua kami rela dan ikhlas menukar keringat mereka untuk biaya buah hati mereka agar merasakan asuhan para guru yng sangat dihormati orang tua kami..
Kini melihat semua kenyataan masa kini, saya ingin berteriak: “….Halo bapak-bapak di sono, di gedung dpr, saya tidak butuh pendidikan gratis buat anak saya, saya butuh pendidikan sederhana, pendidikan yg melihat semua perubahan zaman dan segala kemajuannya dengan sederhana, tidak dengan cara konsumtif, sehingga lebih jelas orientasi pendidikannya..!!”

May 14th, 2009 at 9:27 pm
Sepertinya, rasa itu juga menyeruak hati sebagian dari kita. Tapi, apa daya …