Kutamaneuh: Lumbung padi Karawang

Kutamaneuh: Lumbung padi Karawang (Photo credit: iksamenajang)

Tidak seperti Ramadhan tahun lalu, hujan di ramadhan ini belum menyapa Karawang hingga saat ditulis postingan ini. Panas yang menerpa terasa membakar kepala, mungkin menembus kap mobil atau merasuk ke balik helm bagi mereka yang di jalanan, debu yang tidak ramah membumbung dan berhembus kencang tertiup sisa-sisa angin kemarau.

Melintasi Karawang di siang bolong di atas deru mesin tua, pesawahan yang biasa saya jumpai menghampar hijau di sepanjang jalan, kini bak hamparan karpet coklat usang. Hanya tandus yg terlihat di sana. Sisa-sisa panen berupa jerami kering terlihat menumpuk, sebagian lagi menghitam bekas di bakar petani. Tak terlihat seekor burung sawah pun terbang melintas, cericit mereka bagai punah begitu saja. Deru angin panas menerpa ketika saya paksa motor melaju lebih kencang.

Tahun lalu selain cuaca yg bersahabat, tempat kerja saya juga lumayan dingin. Kini tidak lagi. Pengap tinta, bahan kimia, bensin dan kertas kerap membuat hidung sensitif saya yg pernah mengidap ISPA delapan tahun yang silam, tersiksa.

Pasca kopdar dengan beberapa rekan blogger Karawang di awal Ramadhan kondisi fisik saya drop abis. 3 hari terpaksa libur puasa.

Maghrib adalah saat-saat terindah paling ditunggu. Asam jawa dan gula merah terseduh hangat dalam satu mug besar menjadi menu favorit membuka shaum. Tidak ada yang lain, atau lebih tepatnya tidak berselera terhadap yang lain kecuali sedikit.

Menyusuri jalan pulang sepanjang Adiarsa, Johar, Margasari hingga tembus Citra Kebun Mas, tidak ada kenyamanan kecuali sedikit. Jika beruntung, di persimpangan kereta saya lolos, tidak harus mengantri menunggu si ular besi itu melintas, jika harus menunggu, itu juga bagian yg menyiksa. Asap motor lain, aroma bensin, debu yang bercampur-campur dengan sampah lainnya, bau keringat biker lainnya. Dan, ratap pengemis bak meriam dalam perang,  fiuh..

Jalanan sepanjang Margasari memang sedikit baik, namun  perbaikan di beberapa bagiannya membuat pemandangan menjadi  kumuh. Sepeda motor terpaksa bersempit-sempit di sepanjang sisi jalan. Lalu jalanan perumahan Citra yang rusak menambah penyiksaan raga ini yang makin rapuh di atas roda ber-sock breaker lemah.

Berat.. sungguh ramadhan yang berat.

Nanar mata ini menatap langit yang cerah kebiruan dengan sedikit awan putih membias di sana. Panas, terik..

Hujan, kurindu hujan.. kurindu gelegar halilintar menghantarmu mengaliri setiap retakan jengkal tanah.

Wahai Tuhan, jikalau banyak dari kami yang membuat langitMu menahan hujannya, ampuni kami..

kami, terutama saya bukanlah hambaMu yang kuat.. jikalau tidak karena rahmatMu, tidak mungkinlah kedua kaki ini masih mampu menopang bebannya..

Wahai Tuhan, wahai Rabb, kami rindu sejuk hujan rahmatmu yang tidak saja menghijaukan kembali bumi yang kami nodai ini, tapi jiwa-jiwa rapuh ini mengharap ruh kehidupannya kembali..

ya Ramadhan, maafkan kami, meski terseok ruh mengikutmu.. tak akan lekang cinta ini..

Saya yakin pembaca memiliki pengalaman berbeda ramadhan ini, jika anda menulis di kolom komentar saya pasti senang membacanya..

Enhanced by Zemanta