Setelah sebuah film di-shot, diproses, diedit, dipercantik dengan spesial effek, dilakukan mixing dan diprint, maka film telah siap untuk dipertontonkan.

Film pada umumnya diputar di bioskop, pada sebuah proyektor di bagian belakang bioskop yang menyorotkan sinar melalui kepala para penonton ke arah layar di bagian depan bioskop.

Ketika film berputar melalui proyektor, sinar menyorot melewati film dan memproyeksikan gambar ke depan. Elemen-elemen pokok dari sebuah proyektor adalah sebuah sumber sinar dengan sebuah lensa, sebuah pintu lewat film yang mana film melewatinya dari rol proyeksi, sebuah gigi jentera yang mendorong film ke bawah satu frame setiap satu waktu, sebuah penutup yang membuka dan menutup ketika film melaluinya, sebuah lensa proyeksi, gigi jentera lewat lainnya di mana film berlalu untuk menaikkan rol, dan sebuah head suara optik yang membaca track suara.

Ketika film berputar melalui proyektor, masing-masing image ditampilkan sendiri-sendiri pada layar, dan penutup di-stel agar membuka ketika gambar berada pada sisi depan sumber sinar, dan menutup ketika film tertayangkan.

Proses itu terjadi 24 kali per detik. Penutup juga memiliki helai kedua yng menghalangi sinar sekali sementara msing-masing gambar ditayangkan. Hal ini menghasilkan 48 hentakan sinar perdetik dari 24. (membuat aksi hentakan lebih terang mengurangi berkerlipnya sinar yang penonton memperhatikan.) karena mata manusia tidak berfungsi cepat mengenali masing-masing gambar yang terpisah-terpisah, gambar-gambar pada layar terkombinasi menjadi satu, dan foto yang menampilkan posisi berangkaian seseorang atau sebuah benda yang bergerak menciptakan tipuan gambar yang bergerak secara terus menerus.