Track suara direkam langsung pada film yang telah tercetak. Proyektor menyorotkan sinar melalui track optik yang berkepadatan variatif – tebal atau tipisnya tergantung kuatnya suara asal yang terekam.

Proyektor mengkonversi sinar yang melewati track optik tersebut melalui sebuah sinyal elektronik, melambat atau menguat gambar yang diperoleh tergantung ketebalan track optik tersebut.

Sinyal elektronik lalu berjalan ke speaker bioskop yang mengkonversinya ke dalam energi mekanik kemudian menghasilkan gelombang suara yang dapat didengar oleh penonton.

Hingga awal 1950-an, movie secara umum diproyeksikan ke layar dengan sebuah aspect ratio (rasio lebar dan tinggi) 4 ke 3 dari rasio layar televisi standar. Tapi kemudian bermacam teknik dikembangkan untuk memproyesikan movie pada rasio layar yang berbeda-beda.

Tentang sinerama

Sinerama merupakan proses layar lebar pertama yang diperkenalkan di bioskop pada di tahun 1952. Tiga kamera 35-milimeter dan tiga proyektor digunakan untuk merekam dan memproyeksikan gambar tunggal ke arah layar lebar yang berkelok, dan hasilnya gambar yang terkombinasikan bersama untuk menghasilkan tipuan gambar yang luas. Proses layar lebar lainnya segera menyusul.

Sementara itu proses CinemaScope menggunakan lensa khusus yang dinamakan anarmopik yang mengkompress gambar lebar menjadi film standar 35-milimeter, dan sebuah proyektor yang men-dekompress gambar dan membuatnya dua kali seluas layar gambar standar.

Lain halnya dengan proses VistaVision menggunakan effek layar lebar dengan memakai film 35-milimeter yang ditransport dari kanan ke kiri secara horisontal. Hal ini memungkinkan gambar layar lebar difotografikan tanpa sebuah lensa anarmopik ke film 35-milimeter.

Pada tahun 1960-an Panavision menjadi standar proses layar lebar, menggunakan lensa anarmopik untuk mendapatkan aspek rasio 2.35 hingga 1. Saat ini, sebagian besar film-film Amerika memiliki rasio 1.85 hingga 1, sementara sebagian besar film-film eropa memiliki aspek rasio 1.66 hingga 1. untuk film 70-milimeter, aspek rasionya 2.2 hingga 1.

Film di layar televisi

Ketika film layar lebar dikemas untuk ditampilkan di aspek rasio televisi yang 4 hingga 3, sisi gambar biasanya tidak kelihatan. Untuk manampilkan layar lebar secara utuh pada video rumahan, proses transfernya harus di letterbox.

Proses letterbox adalah menetralkan strip-strip hitam pada atas dan bawah layar televisi, merubah aspeknya untuk menggantikan sebagaimana tampilan film asli pada bioskop.