Konon tawuran pelajar sudah menjadi budaya di Indonesia, terutama Jakarta. Begitu pula yang terjadi kemarin, sudah jadi tradisi katanya.

Link berita tawuran terkait bisa dilihat di sini: >>tawuran sman 6 dan wartawan 2011<<

Kalo sudah tradisi, maka perlu kesungguhan dan kesabaran semua pihak yang terkait untuk merubahnya.

Saya tidak tahu yang sebenarnya di lapangan, tetapi dari beberapa sumber yang saya baca, para wartawannya pun tidak sepenuhnya menjadi pihak yang menjadi korban hingga sepenuhnya bisa dibenarkan. Miris sekali melihat generasi muda dengan “darah muda”nya yang tidak terkendali, miris juga melihat pihak media yang mungkin kurang teliti (semoga tidak ya) melihat tempat-tempat ‘angker’ sarang macan-macan muda, sehingga peliputan tidak bisa dibedakan dengan peliputan/aksi peliputan damai di tempat-tempat tawuran lain.  Turut bersedih bagi rekan-rekan wartawan yang terluka (luka fisik mungkin capat sembuh, kesal di hati semoga tidak menjadi dendam).

Semoga adik-adik kita di SMA itu kelak tidak harus kehilangan banyak kesempatan dan nama baik sebab kini dengan social media yang mampu menyebarkan aneka sisi pemberitaan kasus itu telah banyak melahirkan ‘penghakiman’ yang berlebihan.

Setidaknya langkah terbaik adalah penyelesaian dengan jalan damai dan kekeluargaan, sehingga apa yang semestinya dibenahi dari kedua belah pihak bisa segera dilakukan secepatnya.

sumber foto: http://assets.kompas.com/data/photo/2011/09/19/1616524p.jpg