Memang benarkah Allah ada di mana-mana?
Memang benarkah Allah ada di mana-mana? Jika kita bertanya kepada sebagian saudara kita tempat Allah berada, niscaya kita akan mendapati dua jawaban ngawur;
- Allah ada di dalam diri kita
- Allah berada di mana-mana atau di segala tempat!
Inilah dua keyakinan bathil yang telah mengakar pada pemahaman sebagian kaum muslimin. Dan keyakinan yang ngawur ini saat ini didakwahkan secara terang-terangan oleh kelompok tertentu. Bahkan ada salah satu stasiun televisi menayangkan si sebuah sinetron yang bertemakan bahwa Allah ada di mana-mana.
Jawaban yang pertama datang dari kaum wihdatul wujud, yang telah dikafirkan oleh para ulama kita yang dahulu dan yang sekarang. Sedangkan jawaban yang kedua datang dari kaum jahmiyyah dan mu’tazilah dan mereka yang sefaham dengan keduanya. Ibnul Qoyim menyatakan: “Pertempuran antara Ahli Hadits dan kelompok Jahmiyyah lebih dahsyat daripada pertempuran antara pasukan Islam dengan pasukan kafir”.
Perjuangan gigih para ulama Ahlus Sunnah Wal jama’ah dalam membela aqidah dari kegoncangan faham-faham hitam jahmiyyah sangatlah kuat, sehingga begitu banyak kitab yang bertemakan bantahan terhadap Jahmiyah seperti yang ditulis oleh Imam Ahmad, Utsman bin Said Ad Darimi, Ibnu Mandah, Ibnu Bathal, dan lain-lainnya.
Di mana Allah? Itulah pertanyaan Rasulullah saw kepada seorang budak perempuan kepunyaan Muawiyah As-Sulami ra sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya.
Budak perempuan itu menjawab: ‘Di atas langit.
Beliau bertanya lagi: ‘Siapakah Aku’
Jawab budak perempuan: ‘Engkau adalah Rasulullah’.
Beliau bersabda: ‘Merdekakan dia!, Karena sungguh ia seorang perempuan yang beriman.” (Hadits shahih)
Hadits yang mulia ini merupakan cemeti dan petir yang menyambar di kepala dan telinga ahlul bid’ah dari kaum jahmiyyah dan mu’tazilah dan yang sefaham dengan mereka dari kaum yang menyandarkan aqidah mereka kepada Imam Abul Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ariyi’, yaitu mereka mempunyai I’tiqad: “ALLAH BERADA DISETIAP TEMPAT ATAU ALLAH BERADA DIMANA-MANA !?”.
Jawablah kepada mereka firman Allah swt: “Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu”. (Al-Mu’minun: 91)
Telah berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ra di kitabnya Aqidah Al-Wasithiyyah: “Dan termasuk bagian dari iman kepada Allah ?, yaitu beriman kepada apa yang Allah beritakan dalam kitab-Nya dan dengan apa yang diriwayatkan dari Rasul-Nya ? secara mutawatir serta telah disepakati oleh salafush sholih, bahwa Allah itu berada diatas langit diatas ‘Arsy-Nya”.
Berkata Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah dikitabnya Al-‘Uluw setelah membawakan hadits diatas: “Demikianlah pendapat kami bahwa setiap orang yang ditanyakan, Dimanakah Allah ?. Dia segera menjawab dengan fitrahnya: ‘(Allah) di atas langit !’ Dan didalam hadits ini ada dua masalah, yang pertama: ‘Disyari’atkannya pertanyaan seorang muslim: ‘Dimanakah Allah ?’ Yang kedua: Jawaban orang yang ditanya: ‘(Allah) diatas langit !’ Maka barangsiapa yang mengingkari dua masalah diatas pada hakikatnya dia telah mengingkari Al Mustofa..” Al MUstofa adalah gelar Nabi saw.
Allah swt telah berfirman: “Ar-Rahman (Allah) di atas `Arsy Ia bers-istiwa”. (Thaha: 5)
Aqidah para salafush shalih yang mengikuti mereka seperti Imam yang empat: Abu Hanifah, malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hambal dan ulama lainnya termasuk Imam Abul Hasan Al-Asy’ary sendiri, mereka semua beriman bahwa Allah swt “ISTIWA” diatas ‘Arsy-Nya sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.
Berkata Imam Ibnu Khuzaimah Rahimahullah didalam kitab Tauhid nya (hal: 101): “Kami beriman dengan kabar dari Allah swt sesungguhnya pencipta kami (Allah) Ia istiwa diatas ‘Arsy’-Nya. Kami tidak akan mengganti / mengubah kalam (firman) Allah swt dan kami tidak akan mengucapkan perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada kami sebagaimana kaum yang menghilangkan sifat-sifat Allah, kaum Jahmiyyah telah berkata: ‘Sesungguhnya Dia (Allah) istawla (menguasai) ‘Arsy’-Nya tidak Istawa !”. Maka mereka telah mengganti perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada mereka, seperti perbuatan Yahudi tatkala mereka diperintah mengucapkan: ‘Hithathatun (ampunkanlah dosa-dosa kami),’. Tetapi mereka mengucapkan: ‘Hintah (gandum)’. Mereka (kaum yahudi) telah menyalahi perintah Allah yang maha besar dan maha tinggi seperti itulah kaum Jahmiyyah.”
Yakni: Allah swt telah menetapkan dikitab-Nya yang mulia bahwa Ia Istiwa diatas ‘Arsy’-Nya sesuai dengan kebesaranNya, sedangkan ilmunya meliputi di setiap tempat dan tidak satupun tersembunyi dari pngetahuan-Nya. Kemudian datanglah kaum Jahmiyyah yang mengubah firman Allah swt Istawa (bersemayam) dengan Istawla (menguasai) dan mengatakan Dzat Allah berada dimana-mana dan disetiap tempat. Maha suci Allah dari apa yang disifatkan oleh kaum Jahmiyyah.
Adapun Aqidah salafush Shalih mereka telah beriman dengan menetapkan sesungguhnya Allah ? Istawa diatas ‘Arsy’-Nya dengan tanpa:
1. Tahrif, yakni: merubah lafadz dan artinya.
2. Ta’wil, yakni: Memalingkan dari arti yang dzahir kapada arti yang lain.
3. Ta’thil, yakni: Menghilangkan sifat-sifat Allah baik sebagian ataupun keseluruhan.
4. Tashbih, yakni: Menyerupakan Allah dengan makhluknya.
5. Takyif, yakni: Bertanya tentang kaifiyahnya dengan pertanyaan: Bagaimana caranya ?.
Alangkah bagusnya jawaban Imam Malik Rahimahullah ketika beliau ditanya: “Bagaimana caranya Allah Istiwa (bersemayam) di atas ‘Arsy ?”.
Beliau menjawab: “Istiwa itu bukanlah sesuatu yang asing, tetapi bagaimana Allah beristiwa tidaklah dapat dimengerti. Mengimani tentang Istiwa Allah adalah wajib, akan tetapi mempertanyakan cara Allah beristiwa adalah Bid’ah”. (Fatawa Hamawiyyah Kubra, hal: 45-46).
Demikianlah sikap para pendahulu yang shalih dan para ‘ulama Ahlus Sunnah wal jama’ah. Mereka semua berbicara tentang Allah swt hanya berdasar dalil-dalil yang shahih, dan mengimani apa adanya dari dalil tersebut tanpa tahrif, Ta’wil, Ta’thil, Tashbih, dan Takyif. Maka sudah selayaknya kita mengikuti jejak mereka. Karena tidak ada yang mengetahui tentang Allah swt kecuali Allah swt sendiri yang telah Dia Khabarkan melalui Kitab-Nya dan Hadits Rasul-Nya saw.
Terima kasih atas sumbangan file dari Mas Heru Yulias Wibowo – Redaktur Buletin Da’wah An Nashihah Cikarang Baru, – Bekasi.

September 11th, 2009 at 1:47 pm
assalamu’alaikum akhi Badar,
Numpang coment yah,kalo tidak setuju mohon dimaklumi.
Memang masih banyak hal-hal yang menjadi pertanyaan dari kita sebagai muslim tetapi terkadang kita tidak puas dengan jawaban para ulama kita yang kurang menyentuh secara gamblang permasalahanya. Salah satunya seperti yang akhi badar kemukakan di atas.
Kalo menurut saya , Allah tidak berada pada (dalam) sesuatu tetapi juga tidak berada di luar sesuatu, karena pada hakekatnya Allah suci (bersih) dari unsur ciptaan_Nya , yang intinya hal itu tidak bisa dijangkau oleh akal budi kita, Subhanallah.
October 21st, 2010 at 7:23 pm
salman…
benar..sy sokong..kamu jaffari??
October 22nd, 2010 at 8:46 am
Ternyata ada aliran baru atau jawaban ketiga yang tidak bisa menjawab dan menyimpulkan Allah tidak berada di mana-mana, padahal kalo tidak di mana-mana maka berarti Allah tidak ada (?)
Al Quran ada untuk dibaca, ia memberikan informasi, Ulama ada karena mereka ahli ilmu, mereka bisa memberikan penjelasan dengan kefahaman mereka tentang tafsir, sebab mereka mengerti Ushul Tafsir.
Kalo Al Quran tidak dibaca, Ulama tidak digubris: Fahami saja agama ini seenak perut sendiri..
October 22nd, 2010 at 10:42 pm
orang Indonesia mengatakan “Allah di langit”, orang amerika yang ada dibumi bawah kita akan mengatakan “Allah di langit”, jadi hanya dengan jawaban “Allah dilangit” pun sudah mewakili secara global isi semesta ini, keagungan Allah tak mungkin terjangkau oleh akal budi, karena memang Allah tak mungkin sama dengan ciptaanNya, jadi secara logikapun mengimani bahwa “Allah dilangit” sudah benar. langit menurut kehendak Allah sesuai dengan kemahasucian Allah, bukan langit seperti yang kita perkirakan, yang kita bayangkan, karena semua yang kita pikirkan, dan kita bayangkan adalah makhluk. Wallahu A’lam bishowab
October 23rd, 2010 at 8:31 am
@fatul: subhaanallah, pinter ente..
December 12th, 2011 at 11:47 pm
Share artikel pendek: (maaf quotasi/catatan kakinya tidak tertulis)
Paling mudah memang menyatakan Alloh di langit. Dalam bahasa hadits memang menggunakan kata samaa’ utk hal itu, tp apakah artinya sama? Kesulitan kosakata adlh yg cukup mendasar, bagaimana Rasul membicarakan ledakan nuklir saat beliau lihat dlm isra mi’rajnya? beliau menggunakan istlh pohon. (btw bentukny memang seperti pohon)
Yang fatal adalah keyakinan menganggap ayat2 istiwa sebagai fakta, sedangkan ayat fakta dianggap ayat mutasyabihat (konotasi). Maksud saya arsy dan tawaa Alloh itu dianggap fakta, istiwaa itu ditafsirkan suatu subjek menempati objek ruang. Fakta ayat itu yaitu arasy memang sebuah tempat yg kita anggap memiliki ukuran ruang dan waktu sebagai objek dr istiwaa Alloh. Sedangkan ayat fakta Alloh lebih dekat daripada urat leher manusia dan lain2nya dianggap mutasyabihat atau konotasi yaitu Alloh Maha Mengawasi setiap hamba tapi Allohnya sendiri istiwa (baca: bertempat) di Arasy. Padahal fakta tersebut sudah sejalan dengan nalar manusia dan pengetahuan, sedangkan istiwaa sendiri harusnya tidak boleh ditafsir dgn kemauan kita sebagaimana wajah, tangan, jari-jari, betis Alloh pada ayat2 lainnya tidak boleh ditafsirkan memang anggota badan Alloh tetapi konotasi2 lainnya yg pantas sesuai sifat-sifat Alloh yg tidaklah serupa dengan hamba-Nya.
Maka kemudian hadist2 tentang Alloh dan ruangannya menjadi dikritisi jika ditafsirkan dengan kehendak sifat manusia, seperti Alloh turun ke langit dunia di sepertiga malam. Dikiritisi jika ditafsirkan Alloh turun kelangit dr sebelumnya di Arasy. Kemudian ada yg iseng menanyakan bumi itu bulat berarti Alloh tidak pernah di arasy lagi dong sesudah bumi dicipta krn selalu bertempat ikut memutari bumi di bagian belahan bumi yg malam. Kalau sudah seperti ini mohon jgn menyalahkan yg iseng tp mengoreksi tafsir dr istiwaa itu paradoks krn sudah ditekankan sendiri tidak boleh ditafsirkan sesuai sifat makhluk.
Sayangnya itu menjadi hadist fakta tidak seperti tafsir untuk ayat semisal hati yang berada di Jari2 ArRohman yg dikontasikan kekuasaan Alloh membola-balik hati. Kursi Alloh meliputiLangit dan bumi yg ditafsirkan kekuasaan-Nya. Mohon jangan sampai menyalahkan orang yg sudah paham akan sifat Tuhan-nya dan mereka percaya akan istiwaa Alloh tp tidak menganggap istiwaa itu berarti subjek bertmpat pada objek.
Wallohu a’lam