name of allah

name of allah (Photo credit: Wikipedia)

“Dan sungguh
akan Kami berikan
cobaan kepadamu,
dengan sedikit ketakutan,
kelaparan,
kekurangan harta,
jiwa
dan buah-buahan.
Dan berikanlah berita gembira
kepada orang-orang yang sabar
(Al Baqarah : 155)

Beban hidup yang berat akan terasa makin berat, saat kita menghadapinya dengan keluh kesah. Merasa hidup kian payah dan masa depan makin suram, seolah terpampang dihadapan. Seperti itulah hal yang bisa terekam dalam kehidupan masyarakat kita saat ini. Ketika harga kebutuhan pokok makin melejit, biaya sekolah anak yang kian mahal, yang tidak terimbangi dengan naiknya pendapatan. Bahkan ancaman PHK makin menghantui.

Banyak diantara masyarakat kita yang tidak sabar ketika mengahadapi kesulitan hidup, yangf makin menghipit. Sehingga jalan pintas pun diambil. Yang akhirnya tidak memperdulikan lagi halal haram dalam mengais rupiah.

SIKAP MUKMIN SAAT MENGHADAPI MASALAH
Sebagai seorang muslim, seharusnya kita memahami, bahwa hidup layaknya roda yang berputar, yang tidak selamanya diatas. Tetapi kadang kita berada di tengah, atau dibawah. Bahkan terkadang kita harus melalui kerikil cobaan.

Sama halnya saat kita dihadapkan pada kesulitan ekonomi, semestinya kita menyikapi bahwa semua ini telah menjadi ketetapan Allah SWT, sehingga kita bisa menghadapinya dengan sabar, tenang dan pikiran yang jernih. Itulah yang diwajibkan dalam syari’at. Tidak perlu kita cemas, emosi, apalagi sampai frustasi. Cobalah kita bandingkan dengan kesulitan hidup yang dihadapi Rasulullah J dan para Shahabatnya RA, belum seberapa, namun beliau J dan para shahabat RA mampu menyikapi secara benar. Rasulullah SAW bersabda; “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Seluruh perkaranya adalah baik baginya. Jika dia mendapatkan kesenangan maka dia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika dia ditimpa kesulitan, maka dia bersabar, maka itu juga baik baginya” (Riwayat Muslim No.2999)

Hadits diatas adalah sebagai dorongan bagi kita untuk menghindari sikap pasrah dan pesimis tanpa usaha, serta sikap apatis untuk terus berusaha memperbaiki nasib dan keadaan yang tentunya dalam koridor syar’i. Dengan bekal optimis, sabar, dan tawakal, kesulitan ekonomi yang tengah melilit akan segera berlalu (Bi idznillah)

ALLAH SWT PEMILIK RIZKI
Saat kantong tipis, yang kaya saja mengeluh, apalagi yang miskin. Bagi yang ekonominya dibawah standar tentu hal ini merupakan cobaan yang tidak ringan. Meski ini bukan suatu hal yang aneh, alias sudah biasa tak ada uang di tangan, akan tetapi tetap saja membuat hati menjerit. Apalagi saat kebutuhan mendesak, anak sakit atau Cuma sekedar membuat dapur mengasap.

Masalahnya bagaimana kita menghadapi kesulitan ekonomi agar tidak berdampak buruk untuk diri kita dan agama kita. Sebab tak bisa di pungkiri; kantong tipis terkadang membuat orang gelap mata dan melakukan apa saja. Semisal kriminalitas, mencuri, sampai korupsi, dan tindakan-tindakan yang elanggar syari’at lainnya.

Tindakan-tindakan tersebut tidaklah menyelesaikan masalah, akan tetapi malah memperumit masalah. Kebingungan dan banyak mengeluh dalam mengatur ekonomi rumah tangga, bisa membawa pada penyakit jiwa. Renungkanlah firman Allah SWT: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,” (Al Ma’aarij : 19-20)

Jarang diantara kita yang pada saat menghadapi kesulitan hidup, kita instropeksi diri dan berhusnudzhan kepada Allah SWT. Banyak diantara kita yang lupa bahwa semua yang terjadi adalah sudah menjadi taqdir Allah SWT. “Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.” (At Taubah : 51)

Seharusnya kita yakin bahwa sesulit apapun hidup kita, Allah SWT akan tetap menanggung rizki hamba-Nya. Allah SWT berfirman: “Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya,” (Huud : 6)

Jadi, tidak perlu berkecil hati, apalagi berkeluh kesah saat kantong tipis. Perlu diingat bahwa banyak harta bukanlah tolok ukur kebahagiaan. Juga harus dipahami bahwa kaya atau miskin adalah ujian dari Allah SWT kepada hamba-Nya, sehingga diharapkan kita bisa mensyukuri nikmat rizki dari Allah SWT banyak atau sedikit, saat senang ataupun saat susah, juga saat kesulitan ekonomi yang sedang menghimpit. Dengan sikap ini Insya Allah, Allah akan selalu memberi kemudahan dan tambahan rizki. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” .( Ibrahim : 7)

AGAR RIZKI TERUS MENGALIR
Orang yang beriman dan orang yang bertaqwa kepada Allah SWT akan mendapatkan rizki yang cukup, sebagaimana janji Allah SWT
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (Al A’raf :96)

Seorang mukmin akan senantiasa berusaha amanah atas rizki yang Allah SWT berikan. Tidak membelanjakan hartanya untuk hal-hal maksiat dan tidak berguna, apalagi hanya untuk sekedar foya-foya. Karena kemaksiatan merupakan salah satu penyebab datangnya musibah. Rasulullah J telah bersabda:  “Tidallah tampak perbuatan keji pada suatu kaum, melainkan Allah akan menimpakan kepada mertekan kehancuran” (Riwayat Al Hakim, Baihaqi)

Senantiasa mensyukuri nikmat Allah SWT, sselalu berdo’a kepada Allah SWT setiap hendak mengawali usahanya dengen memohon rizki yang halal, termasuk jalan untuk memperlancar rizki, karena tugas kita sebagai hamba adalah berusaha dan mencari, sedang yang memberi adalah Allah SWT. Begitu pula meningkatkan iman dan amal shalih, akan membuat rizki seseorang senantiasa mengalir. Allah SWT berfirman:  “Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia” (Al Hajj: 50)

TAWAKAL TANPA USAHA ???
Sebagian orang menyangka bahwa tawakal identik dengan pasrah total. Ini adalah anggapan yang salah, karena tawakal itu menuntut rasa optimis dan aktif. Perhatikanlah ayat berikut ini:

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (Ath Thalaq:3)

Allah SWT menjamin akan memberi kecukupan kepada orang-orang yang bertawakal termasuk rizki. Apakah artinya orang tersebut tidak berusaha dan tidak bekerja lantas tiba-tiba memperoleh rizki dari langit? Tentu tidaklah demikian.

Orang yang ingin memenuhi kebutuhannya harus berusaha dan bekerja, sama halnya orang yang ingin punya anak harus beristri dan mengumpuli istrinya. Hadits berikut lebih memperjelas:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Alah dengan sebenarnya niscaya Allah akan memberi rizki kepada kalian, sebagaimana memberi rizki kepada burung,mereka pergi pagi dengan perut kosong dan pulang sore dengan perut kenyang” (Riwayat Tirmidzi, dari umar bin Khathab RA dengan sanad shahih)

Tawakal burung adalah dengan pergi mencari makanan,maka Allah SWT jamin dengan memberikan makanan kepada mereka. Burung-burung itu tidak hanya diam disarang mereka sambil menunggu makanan datang, tetapi mereka pergi jauh mencari makanan untuk dirinya dan anaknya. Begitu pula seharusnya manusia. Apalagi manusia diberi kelebihan yang banyak dibandingkan seekor burung. Dalam hadits yang lain disebutkan: “Seseorang berkata kepada Rasulullah SAW: ya Rasulullah, akuikat dia (onta ini) dan aku bertawakal, atau aku lepas dan aku bertawakal? Jawab beliau; Ikat lalu bertawakallah” (Riwayat Tirmidzi, dari Anas bin Malik RA, dengan sanad Hasan)

Al Hafidz Ibnu hajar Rahimahullah berkata; “Tawakal itu bukan berarti tidak berusaha dan menggantungkan kepada makhluk, sebab hal itu justru dapat menyeret kepada lawan dari tawakal. Imam Ahmad pernah ditanya tentang seseorang yang hanya duduk di rumah atau di masjid seraya berkata; “Aku tidak akan berusaha sedikitpun sampai datang rizki kepadaku”. Jawabnya; “Orang tersebut jahil, sebab Nabi SAW bersabda; “sesungguhnya Allah menjadikan rizkiku dibawah naungan pedangku” dan sabdanya: “Seandainya kalian bertawakal kepada Alah dengan sebenarnya niscaya Allah akan memberi rizki kepada kalian, sebagaimana memberi rizki kepada burung,mereka pergi pagi dengan perut kosong dan pulang sore dengan perut kenyang”. Nabi SAW menyebutkan, kawanan burung tersebut pergi pagi-pagi untuk mencari rizki. Dan para shahabat RA berdagang dan memelihara pohon-pohon korma mereka. Maka contohlah mereka” (Fathul Bari’)

Usai menjelaskan hadits Umar bin Khathab RA diatas, maka Syeikh Utsaimin Rahimahullah berkata; “Pada hadits ini terdapat dalil bahwa manusia ketika tawakal kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya maka harus melakukan sebab. Orang yang berkata; “Aku tidak akan menempuh sebab (berusaha), Aku bertawakal kepada Allah”, adalah sesat, dan ucapannya salah. Orang bertawakal adalah orang yang mengupayakan sebab dengan menyandarkan upayanya kepada Allah SWT”. Oleh karena itu beliau SAW  mengatakan; “Sebagaimana Allah memberi rizki kepada burung, dia pergi dalam keadaan lapar”. Burung tersebut pergi untuk mencari rizki, tidak hanya diam disarangnya tetapi pergi mencari rizki. (Syarh Riyadush Shalihin 2/520)

Nabi SAW adalah orang yang paling tawakal kepada Allah SWT. Namun beliau tetap melakukan usaha. Beliau ketika bepergian membawa bekal, ketika perang uhud memakai dua baju besi, ketika hijrah ke Madinah menyewa penunjuk jalan. Beliau SAW tidak mengataka; “Aku akan hijrah dan tawakal kepada Allah, tidak perlu menyewa penunjuk jalan”. Beliau juga berlindung dari dingin dan panas. Hal ini tidak mengurangi tawakalnya.

Namun perlu diingat siapa yang usahanya lebih dominan, otomatis tawakalnya kepada Allah akan berkurang. Akibatnya keyakinan bahwa Alah SWT Maha mencukupi akan cacat. Seakan-akan ia memposisikan usaha tadi menjadi satu-satunya sandaran untuk mencapai tujuan dan menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Sebaliknya , siapa yang ketergantungannya kepada Allah berlebihan, mengalahkan upaya (Hanya tawakal dan meninggalkan usaha) sungguhya telah mencela sifat hikmah Allah SWT. Sebab Allah adalah Maha Hikmah. Dia mempertautkan sebab dengan akibat. Orang yang hanya bergantung kepada Allah adalah bagaikan orang yang menginginkan anak tetapi tidak menikah” (Qaulul Mufid 2/87-8). Wallahu A’lamu Bish Shawwab.kontribusi: MAS HERU – CIKARANG

Enhanced by Zemanta

No related content found.