Kalah
Setan di tubuh ini benar-benar berpesta setelah berhasil memukulku jatuh. Tinjunya yang keras merobek topeng besi dan menghancurkan sebagian wajahku. Aku terjerambab dengan seluruh tulang terasa hancur, sendi-sendikku mungkin bergeser dari tempatnya.
Dadaku remuk karena hantaman besi panas membara. Aku terengah parau.
Entah seperti apa bentuk ragaku kini, hanya perih yang kurasakan luar biasa. Aku meludah. Asin dan panas.
Pedangku entah kemana. Mataku nanar menatap nafasku tersengal.
Di atas sana, asap hitam membayang, langit hitam menurunkan bunga api halilintar. Pasukanku mundur teratur setelah sebagian meregang nyawa di medan tanpa perhitungan ini.
Aku terkejut dengan dentuman langkah yang tiba-tiba saja mendekat. Sosok bengisnya yang beraroma kematian menyeruak. Lalu diinjaknya leher hingga separuh mulutku. Wajah buruk rupanya mendekat, ia menyeringai.
Tersedak darah sendiri di kerongkongan, aku hanya melotot memandangnya membusungkan dada dan mengepalkan tangannya yg merah berkeringat darah ke udara.
Hiruk pikuk pasukannya membahana.
Sekali lagi ia merunduk lalu menjambak tengkukku. Aku merasa terangkat dari tanah dengan sakit luar biasa.
Sesaat dalam sekarat aku merasakan terhempas ke tempat paling jauh, gelap, hitam dan hanya bau busuk serta rintihan abadi yang menyayat telinga. Sayup-sayup jauh separuh telingaku yg hancur menangkap gemuruh sorak dan tawa kemenangan..
Lalu senyap…….
Robbii, Laa ilaaha illa anta, kunna minadzdzolimiin.., nastaghfiruka.. wa natuubu ilaik.. Karawang, Ahad 25 Apr 2010, recovered from facebook

Leave a Reply