Dear Gempa Sumatra
Memang patut disadari dan dihayati, kalau kita (maksud saya ‘tanah kita) adalah bagian dari cincin gunung api dunia yang sangat ‘kaya’ akan potensi gempa. Gempa 7.9 Skala Richter pada hari Rabu (12/9) yang berpusat di 159 Km barat daya Bengkulu pada kedalaman 10 m adalah bagian dari audit ‘kekayaan’ potensi gempa yang kita miliki tersebut.
Saya dan sebagian teman yang lain memang tidak merasakan gempa tersebut secara sontak di Sumbar yang merupakan tanah kelahiran, tapi setidaknya ketika masih bersekolah di Limau Manis, masih terkenang gempa April tahun 2005 yang lumayan besarnya.
Kala itu ‘ya’, gempa masih begitu dipelajari dengan seksama-nya, maklum baru beberapa bulan setelah tsunami Aceh yang menewaskan hampir 200 ribu orang. Sedikit banyak, sebagian teman-teman almamater mempelajari apa itu gempa, apa itu tsunami, walaupun istilah skala-nya masih sering salah dan tertukar antara richter dengan liter. Maklum, karena pelajaran tentang gempa banyak didominasi oleh teknik evakuasi dan pendengaran sirine, bukan pada definisi maupun artikulasi.
Berbagai komentar dan pendapat para ahli pun digulirkan, mengenai sistem evakuasi, bangunan tahan gempa, sistem peringatan dini akan tsunami, pembuatan kuda-kuda rumah dari bantalan karet, pembuatan dinding polimer yang ringan, deteksi tsunami melalui awan putih dilangit, sampai pada pengamatan terhadap perilaku hewan 3 atau 5 hari menjelang terjadinya gempa besar.
Masing-masing ilmuwan mengeluarkan ‘jurus’-nya, ahli astronomi memperhatikan perilaku awan atmosfir saat akan terjadi gempa, ahli geotermal mengamati perubahan panas bumi pada saat 30 detik sebelum terjadinya tsunami, ahlis biologi meneliti perilaku hewan menjelang terjadinya gempa besar, insinyur teknik sipil merancang pondasi berbantalkan karet, ahli arsitektur mencanangkan bangunan suku eskimo, tak terkecuali ahli agama yang semakin lantang berceramah masalah tanda-tanda hari kiamat. Tentu, ‘ahli tulis’ juga tak mau diam saja, entah itu berpendapat dan berkelakar tentang gempa, atau hanya sekedar mengutil pembicaraan para pengamat yang ‘ini’ dan yang ‘itu’.
———————–
Bersambung Bag 02: Bersahabat dengan gempa
Ditulis oleh seorang shahabat; Hendriansyah, S.Si,*
*Penulis adalah Staf PT. LG Innotek Indonesia , Pengajar Kimia Bimbel Primagama, Kandidat Magister Manajemen Institut Teknologi Bandung, alumni FMIPA Universitas Andalas-Padang

Leave a Reply