Da’wah bertujuan meningkatkan taraf dan tata nilai hidup manusia dengan berlandaskan ketentuan Allah SWT dan Rosul Nya SAW, yang meliputi: agar manusia beriman, bertaqwa serta mentaati segala perintah Allah SWT dan Rosul SAW, melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar, memperbaiki dan membangun masyarakat yang Islami serta menegakkan dan mensyi’arkan agama Islam.

Tulisan sebelumnya:

Untuk lebih detail dan rinci lagi tentang tujuan dakwah Islamiyah secara global, maka penulis di bawah ini menukil tulisan syaikhul Islam Muhammad At Tamimi dalam kitab beliau Kitabut Tauhid dalam bab Da’wah Kepada Syahadat “Laa ilaha illa Allah” Firman Allah Ta’ala:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) hanya kepada Allah dengan penuh pengertian dan keyakinan. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang berbuat syirik (kepada-Nya).” Qs. Yusuf:108

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala mengutus Mu’adz ke Yaman, bersabdalah beliau kepadanya:

“Sungguh, kamu akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka hendaklah pertama kali da’wah yang kamu sampaikan kepada mereka ialah syahadat Laa ilaha illa Allah – dalam riwayat lain disebutkan: “Supaya mereka mentauhidkan Allah” – Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu da’wahkan itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari harta pilihan mereka, dan jagalah dirimu dari do’a orang mazhlum (teraniaya), karena sesungguhnya tiada suatu tabir penghalang pun antara doanya dan Allah.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa perang Khaibar bersabda: “Demi Allah, niscaya akan kuserahkan bendera (komando perang) ini besok hari kepada orang yang mencintai Allah serta Rasul-

Nya dan dia dicintai Allah serta Rasul-Nya; semoga Allah menganugerahkan kemenangan melalui tangannya.” Maka semalam suntuk orang-orang pun memperbincangkan siapakah diantara mereka yang akan diserahi bendera itu. Pagi harinya mereka mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masing-masing mengharap untuk diserahi bendera tersebut. Lalu bersabdalah beliau:

“Di manakah ‘Ali bin Abu Thalib?” Dijawab: “Dia sakit kedua belah matanya.” Mereka pun mengutus seorang utusan kepadanya dan didatangkanlah dia. Lantas Nabi meludah pada kedua belah matanya dan berdoa untuknya, seketika itu dia sembuh seakan-akan tidak pernah terkena penyakit. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan kepadanya bendera dan bersabda:

“Melangkahlah ke depan dengan tenang sampai kamu tiba di tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan sampaikanlah kepada mereka hak Allah Ta’ala dalam Islam yang wajib mereka laksanakan. Demi Allah, bahwa Allah memberi petunjuk satu orang lewat dirimu, benar-benar lebih baik bagimu daripada unta-unta merah.”

Unta-unta merah adalah harta kekayaan yang sangat berharga dan menjadi kebanggaan orang ‘Arab pada masa itu.

Demikianlah beberapa nukilan ayat dan hadits yang disusun oleh syaikhul Islam, Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun pengertian dari susunan redaksional tulisan beliau ini kaitannya dengan tujuan dakwah Islamiyah ialah:

“Da’wah kepada syahadat “Laa ilaha illa Allah” adalah pandangan hidup bagi orang-orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”

Maknanya ialah bahwa tujuan dakwah adalah menegakan kalimat tauhid, yakni pengesaan Allah SWT sebagai satu-satunya ilah yang pantas diibadahi dengan segala bentuk ibadah. Karena tauhid adalah bentuk sempurna akhlaq seorang hamba.

Tulisan selanjutnya: