Mencermati kehidupan masyarakat kita pada saat ini, terutama realita keseharian mereka, maka akan kita saksikan pemandangan kehidupan yang sebagian besarnya telah tertimpa fenomena wahn, lemah dan kebobrokan ahklaq terutama generasi muda.

Era globalisasi dan kemajuan tekhnologi telah melesat maju semenjak dimulainya peradaban, namun akhlaq manusia semakin melesat mundur dengan cepatnya. Dan selain aturan Islam, sesungguhnya telah gagal-lah seluruh ajaran, isme dan norma yang mengusung seruan perbaikan tata perilaku ahklaq manusia.

Beberapa bangsa telah di binasakan akibat kebobrokan akhlaq kemanusiaan mereka. Mereka meninggalkan tauhid dan menanggalkan fitroh mereka. Mereka menemui kehancuran. Dan bangsa kita sesungguhnya sedang berjalan di atas contoh skenario tersebut.

Pencegahan tidak lain adalah dengan menanamkan nilai-nilai akhlaq Islam yang bersih luhur dan lurus. Sekarang, pekerjaan untuk itu semua adalah dakwah. Sementara pola dakwah mestinya mengikuti pola yang Rosul SAW telah gariskan dan terapkan di masanya, pada masyarakatnya.

Jalan dakwah Rosul SAW sesunguhnya adalah dakwatu ila tauhid, yaitu berdakwah menyeru manusia agar beribadah hanya kepada Allah saja dan meninggalkan syirik.

Tidak akan bisa begitu saja menyerukan manusia agar berakhlaq karimah dan ber-uswah kepada Rosululloh SAW kalau mereka masih berbuat syirik. Seluruh amal sholeh termasuk ber akhlaq mulia tidak akan diterima Allah, dan bukanlah termasuk akhlaq mulia jika di mata mansuai dipandang berakhlaq tetapi ia tidak berakhlaq di pandangan Allah.

Metode dakwah yang telah digariskan oleh para ulama ialah pola tasfiyah dan tarbiyah. Tashfiyah adalah pembersihan dan murnian ummat dari akhlaq jahiliyah berupa kemusyrikan, kebathilan dan kejahilan, sedangkan tarbiyah ialah pembinaan dan pendidikan ummat dengan ilmu-ilmu din.

Sayangnya, iklim dakwah Islam di Indonesia tidak terlihat adanya ghiroh dan landasan ilmiyah yang benar dan pola kerja para da’i dan para juru dakwahpun masih kurang maksimal. Mereka bergerak dari masjid ke masjid, dari mimbar ke mimbar, dari Jum’at ke Jum’at dan menjamurnya majelis ta’lim serta kemudahan dakwah sarana dakwah, namun hasil yang dicapai masih jauh dari harapan. Sungguh benar bahwa faktor hidayah adalah urusan Allah SWT, dan bukan hak kita untuk mengukur suksesnya dakwah dengan quantitas. Akan tetapi sesungguhnya, qualitas dakwah itu adalah kita yang menentukan. Para muballigh dan juru dakwah adalah penerus risalah kenabian, yakni wahyu yang telah diturunkan Allah SWT kepada Rosulnya. Sudahkah kinerja da’wah kita telah sesuai dengan apa yang digariskan oleh Rosul Nya?

Banyak contoh kebobrokan akhlaq masyarakat sekitar kita jika ingin kita sebutkan. Mulai dari moral yang bejad karena kemusryikan, perzinahan, perjudian dan dosa-dosa besar lainnya.

Maraknya tayangan kekerasan, pelecehan seksual, fenomena dukun dan paranormal, glamournya kehidupan artis dan dunia fantasi, bertebarannya media penyeru maksiat, dan menjamurnya pornografi di internet, sesungguhnya itu adalah realita hancurnya tatanan akhlaq moral generasi kita dan sekaligus membuktikan kurangnya kesungguhan, keseriusan dan qualitas dakwah para da’i, selain itu juga merupakan bukti mandulnya pemerintahan kita.

Itulah sekilas gambaran latar belakang masalah yang telah menggerakkan hati kami untuk mencermatinya dan kemudian menuangkannya dalam bentuk risalah singkat ini.

Tulisan selanjutnya:

No related content found.