Cukuplah Gempa sebagai Nasihat..
Apakah saya belum bicara gempa kemarin? Baiklah saya akan bercerita. Saat itu, pukul empat belas empat puluh lima menit, kursi saya bergoyang dan berputar. Karena merasa aneh sebab badan saya tidak beringsut kemanapun, maka sekejap kemudian saya menyimpulkan sebuah gempat tengah terjadi. Setelah berteriak mengingatkan rekan kerja yang lain, kami pun berhamburan ke luar dengan sedikit panik sebab tembok kantor nan kokoh terlihat bergetar melimbung.
Lima menit atau lebih mungkin. Namun lima menit itu merubah semuanya. Mungkin saat itu semua saluran operator seluler sibuk luar biasa, internet akan kebanjiran traffic dan televisi yang selalu telat menyiarkan berita beritanya akan tergopoh menghubungi kontributor daerahnya, sebab gempa yang tercatat 7 lebih pada schala richter itu ber-episentrum di sekitar pantai selatan pulau Jawa, belakang Tasik Malaya.
Senewen karena batere ponsel saya ngedrop dan semua nomor tersimpan di memori telepon, bukan di SIM card, saya cuma pasrah gak bisa nelpon sana-sini. Detik com, kaskus dan saluan berita lainya berisikan melulu info gempa.
Sejenak mereka yang mencerca sebuah agama karena sebuah isu terorisme, mendadak hilang dari peredaran media, sebab jika Tuhan membuat analogi sebuah teror bernama gempa, siapa tah kan dapat berargumen di hadapan-Nya?
Tuhan benar-benar menampar kita semua ketika Ramadhan ini dipenuhi semarak semu dan dihiasi kekhusuan yang dibuat-buat. Cukup lima menit sekian detik, akal manusia berbalik ketika menyaksikan reruntuhan batu bata merenggut nyawa tanpa pandang dosa, meluluh lantakan beberapa yang kokoh berdiri megah, meretakkan semua aspal keras di jalanan. Butuh menit-menit berikutnya? Tidak. Cukuplah dikatakan bahwa rasa takut masih dibutuhkan untuk mengibadahi-Nya.

September 7th, 2009 at 9:40 pm
Banyak hikmah yg dapat kita ambil dari peristiwa ini mas.
Mudah2an kita termasuk hamba2-Nya yang pandai bersyukur
wassalam mas