Banjir di Karawang adalah Kiriman waduk Jatiluhur
Citarum Meluap, Lebih Dari 900 Rumah di Karawang Terendam Banjir
Karawang (KarIn) – Tingginya volume air di sungai Citarum membuat beberapa lokasi di tiga kecamatan di Karawang terendam air. Menurut keterangan Tim SAR dilapangan banjir diperkirakan akan terus berlangsung untuk beberapa hari kedepan, mengingat kiriman air dari waduk Jatiluhur Purwakarta akan terus mengalir deras.
Hingga Jumat 19 Maret ini, tercatat beberapa lokasi diantaranya Perumahan Karaba Indah (Desa Wadas, Telukjambe Timur), Perumahan Bintang Alam (Telukjambe), Dusun Talibaju (Ciampel), Gempol (Tanjungpura, Karawang Barat) terkena banjir. Diperkirakan lebih dari 900 rumah warga menjadi korban. Lokasi terparah adalah Perumahan Karaba, di lokasi ini pada Jumat pukul 3 pagi ketinggian air mencapai 1 meter.
Penyebab utama banjir ini adalah dibukanya air di Waduk Jatiluhur Purwakarta akibat volume air di Jatiluhur semakin banyak akibat kiriman dari Saguling dan Kabupaten Bandung yang terus diguyur hujan.
Rohmat Suhara, Koordinator Bidang SAR (Search And Rescue) Sispamdu Zhadoel yang KarIn temui di lokasi banjir di Perumahan Karaba mengungkapkan selain akibat kiriman air dengan volume yang tinggi dari Jatiluhur, banjir ini juga diakibatkan karena pendangkalan Sungai Citarum, Tanggul yang rendah dan sampah.
Khususnya di Perumahan Karaba, dalam pantauan KarIn di lapangan hingga malam sabtu ini, air sudah mulai surut. Namun warga masih khawatir terhadap meluapnya kembali Sungai Citarum yang lokasinya tidak jauh dari perumahan tersebut. Beberapa warga sementara mengungsi di tenda pengungsian yang disediakan oleh para relawan gabungan dari Sispamdu Zhadoel, PMI Karawang, Sagara, Bridgstoen, PKPM Desa Wadas dan Polres Karawang. Sejauh ini, bantuan dari berbagai pihak sudah masuk ke lokasi-lokasi banjir yang rata-rata perumahan ini.
Iqbal Mustakim, Sekretaris Sispamdu Zhadoel menyayangkan kurang sigapnya Pemkab Karawang dalam mengantisipasi becana banjir yang terjadi setiap tahun ini, terutama dalam pembuatan tanggul yang kokoh. Lebih lanjut Ia pun menuturkan bahwa pembangunan perumahan yang tidak memperhatikan aspek keselamatan dan menyesuaikan dengan lingkungan terutama yang dibangun dipinggiran sungai menjadi persoalan tersendiri.
Dari pihak warga, Wawan salah seorang warga Perumahan Karaba menuturkan bahwa Ia dan warga disana masih khawatir akan terjadi banjir yang lebih besar seiring masih tingginya volume air Citarum. Untuk itu Ia mengharapkan agar pihak-pihak terkait, baik itu Tim SAR dari relawan maupun dari pemerintah memberikan informasi yang detil dan pasti tentang berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Sejauh ini, sampai Jum’at malam menurut Wawan informasi di lokasi masih simpang siur. Di Karaba sendiri tercatat 440 rumah terendam dengan variasi ketinggian air yang berbeda.
Sebagai antisipasi, Warga di berbagai lokasi khususnya yang berada dekat dengan Sungai Citarum dihimbau untuk waspada. Menurut Rohmat Suhara, kecamatan seperti Batujaya dan Rengasdengklok adalah lokasi yang perlu lebih waspada mengingat pintu air Waduk Jatiluhur akan terus dibuka untuk beberapa hari kedepan. Adapun yang bisa dilakukan saat ini menurutnya adalah penyelamatan dan evakuasi, mengingat penanganan sumber banjir termasuk membuat tanggul sudah sulit untuk dilakukan. (Deni Andriana)
BANTUAN BANJIR KARAWANG
Silahkan salurkan donasi bantuan anda melalui Rekening Bank atau bisa juga melalui Paypal sebagai berikut :
BNI Cabang Perguruan Tinggi Bandung
No Rekening : 28141098
Atas Nama : Deni Andriana
Info lebih lanjut dan konsultasi
Email : admin@karawanginfo.com / deni_borin@yahoo.com
YM : deniborin
Telepon : 085220196213
—————————————
VIDEO BANJIR KARAWANG 2010 versi Masbadar



March 21st, 2010 at 4:21 am
Makasyih infonya, mas Badar… aq jga iqtn ngalamin neehh dr hr Sabtu kemarin s/d Senin subuh ini 04.21 AM … Btw, aq di Perumnas Bumi Teluk Jambe blok X no. 18 .. ketinggian air sekitar 60 cm dr jalan utama.. Mohon info lanjutan ttg banjir kiriman ini, qra2 s/d kapan bendungan Jatiluhur akan terus dibuka… terima kasih … >> salonoyah.blogspot.com
March 21st, 2010 at 10:18 pm
wah mas.. thaks infonya saya di jogja jadi kurang tau kabar2 ya.
menurut kabar yang saya dengar apakah benar jatiluhur jebol??
trimkasih…
March 22nd, 2010 at 8:31 am
@Satrio: Masih isu.. semoga tidak benar..
March 22nd, 2010 at 10:21 am
ya allah….rumah bibiku katanya sudah hampir semeter kebanjirannya….untungnya mereka lagi di bandung jd cuma rumahnya yg habis kerendam….sy tunggu info berikutnya yahh
March 22nd, 2010 at 11:11 am
UPDATE PIC: sy tercegat di pintu masuk galuh mas, BTJ dan sekitarnya..
March 22nd, 2010 at 2:41 pm
terus update kang. posisi saya di harmony mas wadas. Terancam !
March 22nd, 2010 at 6:00 pm
Galuh mas juga kena banjir??? Sya liat iklannya itu perumahan yg bebas banjir, pengembang mesti di complain tuh.
March 22nd, 2010 at 10:25 pm
Seluruh pihak yang bersangkutan,harus lebih aktif
March 22nd, 2010 at 10:56 pm
hadooohh…… yampun keknya taun ini banjirnya parah….. updatean infonya saya tunggu ya kang……
March 23rd, 2010 at 6:22 am
Maz, ni fuzie di tirtamulya m0 tau dwonk kbr selengkapnya dri karawang, cmalem ku dpt mz kta’y tanggul jati luhur kan jebol y maz, pa bnar.
March 23rd, 2010 at 9:04 am
apa bener kabarnya bahwa banjir di perum karaba akan surut hari ini?
March 23rd, 2010 at 1:20 pm
UPDATE dari KarawangInfo.com
———————————————-
Jatiluhur Masih Terkendali, Warga Karawang Diharapkan Tidak Terpancing Isu
22nd Mar, 2010 | Penulis: Deni Andriana | Rubrik: Berita
Andrianto, Kepala Seksi Monitoring Bendungan Jatiluhur dalam keterangannya melalui telepon malam ini, mengatakan bahwa volume air di Jatiluhur saat ini memang meningkat seiring meningkatnya kiriman dari Waduk Cirata. Alhasil solusi untuk membuat Bendungan agar tetap terjaga maka air harus dialirkan ke Citarum.
Adapun besaran volume air yang sampai ke Karawang yang membuat terjadinya banjir yang semakin meluas hingga hari disebabkan juga oleh masuknya air dari sungai-sungai lainnya yang bermuara ke Citarum. Intensitas hujan khususnya di Kabupaten Bandung dan wilayah hulu Citarum menjadi penyebab sungai-sungai yang masuk ke Citarum terus deras.
Menepis kabar jebolnya Bendungan, pihak pengelola Jatiluhur menegaskan bahwa kabar itu tidak benar. Karena Bendungan ini masih dalam kondisi aman dan terkendali selama air bisa dibuang secara teratur. Untuk itu, petugas Bendungan Jatiluhur berkordinasi secara aktif dengan petugas Waduk Cirata dan Saguling. Cirata dan Saguling merupakan waduk yang mengirim air ke Bendungan Jatiluhur.
Khususnya mengenai SMS yang beredar mengenai akan di losnya air di Bendungan jatiluhur sebanyak 5.000 M2 (meter kubik), Andrianto pun mengklarifikasi bahwa itu tidak benar. Menurut keterangan, hari ini setiap satu detiknya Bendungan Jatiluhur mengeluarkan air sebanyak 650-680 m2. Jadi air secara bertahap dikeluarkan. Adrianto dan timnya di Jatiluhur berharap agar warga Karawang khususnya tidak terpancing dengan isu-isu yang banyak beredar saat ini. Adapun mengenai warga yang tinggal dibantaran sungai Citarum diharapkan tetap waspada mengingat Jatiluhur akan tetap mengeluarkan banyak air ditambah dengan sumbangan air dari sungai-sungai lainnya yang ikut bermuara ke Citarum. (Deni Andriana)
__________________
Keterangan Foto : Kondisi Waduk Jatiluhur, Senin 22 Maret 2010 (Pukul 13.00 WIB) – oleh : Idris Efendi (Warga Purwakarta)
March 23rd, 2010 at 1:21 pm
UPDATE karawanginfo.com
—————————————-
Korban Banjir di Karawang Saat Ini Butuh Makanan Hingga Alat Evakuasi
23rd Mar, 2010 | Penulis: Deni Andriana | Rubrik: Berita
Menurut keterangan Faisal Muchtar, Koord. Posko Banjir Blogger Karawang di Perumnas Telukjambe, warga sangat membutuhkan bantuan. “Persediaan makanan sudah mulai menipis, butuh air bersih dan warga sudah mulai terkena deman, flu dan gatal-gatal,” ungkapnya lewat SMS pada KarIn selasa dini hari ini (23/3).
Kebutuhan akan bantuan berupa logistik ini pun juga terjadi di lokasi-lokasi lainnya, khususnya yang ada di Karawang Utara. Para relawan dan posko-posko bencana mengharapkan kiriman logsitik untuk kemudian disalurkan kepada para korban. Khususnya yang saat ini berada tidak jauh dari lokasi bencana. Jika memungkinkan diharapkan untuk mengirimkan bantuan secara langsung ke posko-posko yang telah tersedia segera mungkin.
Selain kebutuhan logistik, seperti dalam pantau KarIn pada senin (22/3), alat-alat evakuasi seperti perahu, ambulan dan sejenisnya juga sangat dibutuhkan, mengingat faktanya di lapangan evakusi cenderung berjalan lambat karena kekurangan alat evakuasi terutama untuk lokasi dengan kedalaman hingga 3-4 meter. Adapun peralatan evakuasi yang ada saat ini, sangat terbatas untuk mengcover jumlah lokasi yang semakin meluas.
Adapun bagi mereka yang tidak punya kepentingan langsung dengan para korban di lokasi bencana, para relawan pun menghimbau agar masyarakat tidak terlalu memadati lokasi bencana yang membuat macetnya akses jalan menuju lokasi, terlebih bagi warga yang melakukan wisata bencana dan sekedar ingin tahu.
“Alangkah lebih baiknya, jika masing-masing berperan sesuai kemampuannya masing-masing. Yang mampu untuk sosialiasi, silahkan sosialiasi, yang mampu menggalang dana di daerahnya masing-masing silahkan karena korban sangat membutuhkan,” ungkap Faisal bersama relawan lainnya.
Mengenai kapan berakhirnya bencana banjir ini, tidak ada satu pun pihak yang berani memastikan mengingat masih terus tingginya curah hujan terutama didaerah hulu. Hal ini seiring dengan fakta adanya anomali cuaca atau kondisi alam yang tidak seperti biasanya, musim hujan yang waktunya lebih sempit namun dengan intensitas atau jumlah hujan lebih padat. (Deni Andriana)
March 23rd, 2010 at 4:01 pm
UPDATE dari Karawanginfo.com
——————————————
Gara-Gara Gorong-Gorong : Banjir di Karawang Meluas
23rd Mar, 2010 | Penulis: Deni Andriana | Rubrik: Berita
Gorong-gorong atau saluran pembuangan air dari perumahan yang dibangun tanpa perhitungan dengan kemungkinan tingginya volume air Citarum berakibat masuknya air Citarum saat ini ke komplek perumahan, dan jalan-jalan di perkotaan. Seperti yang terjadi di Jl. Kertabumi dan jalan di Kawasan Galuh Mas dan Rumah Sakit Umum Karawang yang tergenang air, akibatnya kendaraan yang masuk ke lokasi menjadi terhambat.
Menurut Didi Subandi, Mantan Pegawai Waduk Jatiluhur, khususnya untuk perumahan seharusnya pihak pengembang tidak serta merta membuat saluran pembuangan air ke Citarum. “Jadi air dari Ctarum itu masuk lewat saluran-saluran itu menuju perumahan ketika volume air di Citarum tinggi,” paparnya.
Sedangkan untuk daerah Karawang bagian utara, curah hujan yang tinggi pun menyebabkan pasang atau tingginya air laut, hal ini mengakibatkan adanya dorongan dari laut menuju ke darat. “Untuk Citarum, satu sisi ada tekanan air dari Jatiluhur sedangkan dari arah berlawanan ada juga tekanan dari laut,” jelas Didi disela obrolannya dengan KarIn dan tim posko Blogger Karawang di Perumnas Telukjambe, Senin (22/3) malam.
Lebih lanjut Ia pun menguraikan bahwa rendahnya permukaan pemukiman penduduk dibanding ketinggian maksimal Sungai Citarum menjadi penyebabnya. Idealnya, permukaan tanah yang didiami warga mestinya diukur minimal dengan tingginya jembatan yang ada di Citarum. (Deni Andriana)
March 23rd, 2010 at 9:29 pm
Syukron akhi, di tunggu up date an nya. jazakumullah
March 24th, 2010 at 6:29 am
Saya minta pada pemerintah di Karawang,, agar bantuan berupa makanan,obat”an,,dll harus sampai pada korban,,karna itu amanah,, terima kasih
March 24th, 2010 at 6:31 am
Saya juga mohon agar banjir di Karawang untuk cepat dievakuasi,,agar anak-anak yang kna banjir biar cepat bisa sekolah kmbali,.
March 24th, 2010 at 11:16 am
thanks for updtenya…. y allah mudah-mudahan tidak kecolongan seperti situ gintung….y allah lindungi kami y allah….amien.
March 24th, 2010 at 11:49 am
Berita tentang bencana banjir kali ini di TV sangat kurang, terlalu sibuk dengan berita Bank Century, Susno dan koalisi…cape dech..
Untuk saudara2ku yang kena banjir semoga diberi kesabaran dan ketabahan. amien
March 26th, 2010 at 7:34 pm
UPDATE:
—————————-
Banjir Karawang 2010 : Pemkab Karawang Kurang Siap
24th Mar, 2010 | Penulis: Deni Andriana | Rubrik: Berita
Adapun yang saat ini menjadi tulangpunggung sandaran warga adalah aparat pemerintah ditingkat bawah yakni Desa dan Kelurahan hingga RT/RW, namun mengingat aparat ditingkat bawah ini disibukan dengan pengkondisian lokasinya masing-masing, tentunya diharapkan adanya dukungan dan koordinasi yang baik dari Pemkab.
“Banyak warga yang harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan evakuasi, terutama yang lokasinya berada di kedalaman yang cukup tinggi, kita sebagai relawan tidak bisa berbuat banyak karena kekurangan alat evakuasi dan kurangnya pemetaan lokasi,” ujar salah satu relawan kepada KarIn.
Selain pada evakuasi, kurangnya koordinasi pun terlihat pada pemberian bantuan terhadap para korban. “Memang sekarang sudah banyak posko-posko bantuan dari berbagai pihak baik yang mengatasnamakan organisasi, perusahaan hingga partai politik, tapi saya lihat pada prakteknya cukup disayangkan karena umumnya masih terkotak-kotakan dengan benderanya masing-masing,” ujarnya.
Ia pun kemudian memaparkan masih banyak warga yang kurang mendapatkan perhatian akibat pengkotak-kotakan ini. “Misalnya posko perusahaan A yang cenderung hanya membantu karyawannya saja, begitupun posko partai politik yang memberikan prioritas khusus pada kader-kadernya yang terkena musibah. Padahal disatu sisi banyak warga yang tidak punya keterkaitan dengan sebuah perusahaan atau partai politik yang juga sangat membutuhkan bantuan,” jelasnya.
Di lokasi lain, seorang relawan lain yang KarIn mintai keterangannya Rabu dini hari (24/3) mengatakan khususnya pada bantuan kesehatan atau medis, rumah sakit-rumah sakit besar yang ada di Karawang sejauh ini belum semua turun ke lapangan, menurut pengamatannya hanya ada 1-2 rumah sakit yang kini mau turun mendatangi korban langsung ke lokasi bencana. “Harusnya dinas kesehatan punya kekuatan untuk mengajak semua pihak rumah sakit yang beroperasi di Karawang untuk menjembut bola ke lapangan, karena banyak korban banjir yang membutuhkan pertolongan,” ujarnya pada KarIn.
Kurang baiknya koordinasi antar tim bantuan di lapangan ini, menurut beberapa warga yang KarIn mintai keterangannya diakibatkan ketidak siapan dari Pemerintah Karawang. “Jika Pemkab dan dinas-dinas terkait dibawahnya sudah punya persiapan sebelumnya terhadap bencana tahunan ini, moal mungkin penanganan banjir jadi paburisat (berantakan) kieu euy,” keluhnya.
“Seharusnya fungsi pemerintah dalam hal ini menjadi pengatur untuk mengarahkan segala macam bantuan, sehingga bantuan tidak menumpuk dilokasi-lokasi tertentu,” tambah warga lainnya.
“Saya lihat kemarin malam banyak mobil mewah yang berjalan keluar menuju pintu tol Karawang Barat, saya tidak mau suudjon tapi saya berharap kalau mobil-mobil itu bukan mobil pejabat-pejabat Karawang yang lebih memilih mengungsi keluar kota,” ungkap seorang warga lainnya.
Mengenai perkembangan kondisi banjir sendiri, saat ini Karawang bagian utara menjadi lokasi yang membutuhkan bantuan, mengingat lokasinya yang jauh dari Karawang bagian kota. Salah satunya adalah di Kecamatan Batujaya. Batujaya sendiri menjadi daerah yang beberapa desanya terendam banjir di wilayah Karawang bagian utara akibat luapan Citarum dan pasangnya air laut di muara.
Dede Kontributor KarIn di Kecamatan Batujaya semalam (23/3) pukul 21.30 WIB lebih, melaporkan bahwa warga Desa Segar Tanjung malam tadi dievakuasi ke wilayah Desa Segaran. Hingga rabu (24/3) siang ini, Dede mengungkapkan warga disana sangat membutuhkan kiriman bantuan seperti selimut, obat-obatan dan makanan. (Deni Andriana)
March 26th, 2010 at 7:35 pm
UPDATE:
————————————-
Korban Banjir di Karawang Kini : 16 Ribu Rumah dan 66 Ribu Jiwa Lebih
25th Mar, 2010 | Penulis: Deni Andriana | Rubrik: Berita
Dilihat dari perkembangannya, dalam seminggu ini air banjir turun naik seiring dengan buka tutupnya pintu air di Bendungan Jatiluhur Purwakarta. Biasanya air banjir akan naik sekitar pukul 01.00 – 03.00 WIB dini hari, seiring dengan dibukanya pintu air Bendungan Jatiluhur.
Terus menerusnya kiriman Jatiluhur ini membuat Citarum semakin kewalahan, alhasil beberapa lokasi yang tadinya cukup aman kini pun terkena banjir, diantaranya Karawang bagian utara yakni Batujaya dan Rengasdengklok. Adapun Pakisjaya sebagai daerah akhir dari Citarum, harus menerima kiriman dari Citarum disamping pasangnya air laut, sehingga beberapa desa di kecamatan ini yang berdekatan dengan Citarum harus tersapu bersih oleh air yang meluap.
Berikut adalah lokasi-lokasi banjir yang ada di Kabupaten Karawang hingga tanggal 24 Maret 2010 sesuai keterangan Dinas Sosial Kab. Karawang yang KarIn mintai datanya pada tanggal 24 Maret pukul 23.30 WIB :
Karawang Barat (7.591 rumah / 31.457 jiwa)
Karawang Barat (412 rumah / 1.744 jiwa)
Telukjambe Timur (3.576 rumah / 1.6520 jiwa)
Telukjambe Barat (494 rumah / 1.963 jiwa)
Ciampel (81 rumah / 312 jiwa)
Batujaya (250 rumah / 1.083 jiwa)
Pakisjaya (1.533 rumah / 4.545 jiwa)
Rengasdengklok (857 rumah / 2.551 jiwa)
Klari (97 rumah / 350 jiwa)
Jayakerta (1.192 rumah / 5.790 jiwa)
Dilihat dari statistik diatas, kini total rumah yang terendam akibat banjir dari meluapnya Sungai Citarum ini menjadi 16.083 rumah dengan jumlah warga yang menjadi korban sebanyak 66.315 jiwa. Seperti yang diungkapkan oleh Amid, petugas pendataan di Dinas Sosial pada KarIn dini hari ini, data yang ada pada Dinas Sosial diatas masih bisa berkembang dan bertambah mengingat ada beberapa daerah yang belum melaporkan kondisi terbarunya. (Deni Andriana)
March 28th, 2010 at 12:41 am
buat semua saudara saya yang di karawang,,,, tolong saya kasih tau di daerah lolohan teluk ampel banjir nya parah nggak,, dan tolong hubungi saya,,…..ni nomer hp saya.. 46657384…. saya mohon kepada semua saudara saya yang di karawang.. terima kasih