Bahan dan Jenis Film yang digunakan dalam proses produksi film / sinema
Bahan film dibuat dari ribbon panjang dan ditempatkan dan digulung pada roll (roda putaran).
Pembuatan lubang-lubang pada sisi film membantu menggerakannya melalui kamera, printer dan proyektor pada kecepatan yang tetap, yaitu 24 frame per detik.
Ketika track (jejak rekam) suara dikombinasikan dan visual effek disempurnakan, gambar dan suara diprint (dicetak) pada satu lembar film dan diputar di bioskop.
Tulisan pendahulu:
Semakin lebar sebuah strip film, maka semakin tajam gambar yang di proyeksikan ke layar. Standar lebar film digunakan untuk movie berjenis feature berdurasi panjang adalah 35 mm (1.38 in).
Sebuah produsksi sekala besar pada umumnya terbit pada film berlebar 70-milimeter (2.76-in), sementara movie berbiaya rendah dan beberapa film berjenis eksperimen biasanya di-syut pada film 16-milimeter (0.63-in) yang tidak lebih mahal.
Saat ini, para pembuat film men-syut sebagian besar film dokumenter dan beberapa film eksperimen pada kaset video digital karena kualitasnya lebih baik dari pada film, lebih murah serta tidak memerlukan proses.
Film itu sendiri terdiri atas sebuah lapisan tipis bahan peka cahaya yang disebut emulsion (emulsi atau larutan), berlapiskan bahan baku selulosa transparan yang fleksibel (mudah dilekak-lekuk). Emulsi pada umumnya berisi bromida perak yang diseimbangkan dalam gelatin (jel/ materi seperti agar-agar).
Emulsi warna film terdiri atar tiga lapis, masing-masing berisi bromida perak di sekitar suatu bahan kimia kering yang sensitif ke satu warna – merah, hijau atau biru. Selama pemrosesan gambar terbentuk pada tiga lapisan yang berkombinasi agar menghasilkan gambar tunggal pada film. Rol film yang dieskspos melewati serangkaian penggulung dan melalui suatu larutan pencuci, pencucian, bak pemberihan, pencucian kedua, dan ruang pengeringan.
Pada akhirnya, film yang telah tercuci dan kering tersebut digulung kembali pada rol. Pada kaset video sebaliknya, tidak membutuhkan pemrosesan.
Kamera video merekam suara dan gambar secara elektronik ke pita magnetik yang dapat diputar ulang secara langsung.)
Ketika larutan diekspos ke cahaya, sebuah gambar terpendam terbentuk. Selama pemrosesan, pelarut merubah halide perak dalam larutan menjadi perak metalik dimana cahaya menyentuh larutan.
Pada langkah pemrosesan berikutnya, kristal halide perak yang tidak ter-ekspos dibersihkan dari larutan dengan cairan kimia yang disebut hypo atau fixer. Yang terjadi, perak metalik, bentuk gambar negatif dari subjek – paling gelap di mana sebagian besar cahaya membentur larutan, dan paling terang dimana cahaya paling sedikit membentur.
Cara membuat gambar positif, cahaya dilewatkan melalui negativ untuk mengekspos rol film lainnya. Dimana negativ paling tebal, secercah cahaya membentur film. Dalam pemrosesan film yang telah diprint, halides perak tak ter-ekspos yang telah dibuang, meninggalkan kebalikan gambar negativ – suatu larutan tipis pada hasil print dimana gambar negativ tebal. Hal ini menyesuaikan area cahaya dari subjeknya. Di mana subjek yang gelap, gambar negativ tipis dan film yang diprint tebal.
Lihat selanjutnya:
- Spesial Effek pada proses produksi film / sinema
- Spesial Effek pada proses produksi film / sinema 2
- Spesial Effek pada proses produksi film / sinema 3
- Spesial Effek pada proses produksi film / sinema 4
- Proses proyeksi dan berputarnya Film pada proyektor
- Proses dan Jenis Proyeksi Layar Film
- Proses Distribusi, rating, labelisasi dan penjualan sebuah film / sinema

Leave a Reply