Gempa, gempa dan gempa, memang-lah bencana alam yang dari jaman-nya Nabi Adam sudah dikenal oleh manusia. Betapa banyak negeri di penjuru dunia ini yang sudah dibenamkan karena gempa. Gempa bukan lagi hal yang baru atau ‘New” bagi mamalia seperti kita. Kita takut akan gempa, seakan-akan gempa adalah bencana yang se-segera mungkin harus dilawan. Padahal perlu kita sadari, hingga kini belum ada satu teknologi tercanggih di muka bumi ini yang sanggup memprediksi kapan gempa terjadi, apalagi sampai menolak gempa?

Dari gempa harusnya kita belajar untuk berkawan dan bersahabat, menjadi ‘sahabat pena’ minimalnya. Sangat mungkin sekali ada pesan-pesan yang dibawa oleh gempa beserta guncang-guncangannya yang maut itu. Entah itu simbol agama, sains, teknologi, atau persaudaraan. Bersahabat dengan gempa adalah konsekuensi logis dari slogan kita selama ini “Back to Nature” (Kembali ke Alam) atau slogan masyarakat Minang “Alam Takambang Jadi Guru”.

Kembali ke alam berarti secara otomatis harus siap dengan segala ‘reward’ dan ‘punishment’-nya. Tidak hanya ‘green product’ atau ISO XXX yang akan diperoleh, tapi juga berbagai ‘defek’ yang harus diderita, dan gempa adalah salah satu dari sekian banyak defek. Ingat bung !! bumi ini dibangun bukan oleh tangan-tangan nenek moyang mamalia yang bernama manusia, tapi oleh ‘The Most Powerfull Decision Maker” alias Tuhan semesta alam yang menentukan kapan anda diwafatkan dan dimana anda dimakamkan.

——————————————-

<< Tulisan Bag. 01

>>Tulisan Bag. 03

Ditulis oleh ; Hendriansyah, S.Si,*

*Penulis adalah Staf PT. LG Innotek Indonesia , Pengajar Kimia Bimbel Primagama, Kandidat Magister Manajemen Institut Teknologi Bandung, alumni FMIPA Universitas Andalas-Padang