Di sebuah kafe, selepas makan siang..
Paijo    : (Cemberut dan sibuk klak-klik di depan laptop, membaca berita online) “Heran saya, apa sih maksudnya blogger ini bikin judul yang ndak karuan separti di ini..?
Paimin    : (sibuk mengusap mulutnya dgn tissu, menyahut acuh tak acuh) “Ada apa Jo, kok ngomel sendirian..?
Paijo    : “ Ini lho, sungguh menyesatkan..!”
Paimin    : “Hati-hati lho bilang istilah ‘sesat menyesatkan’ nanti…….”
Paijo    : “Bukan itu maksud saya, ini lho, coba baca”
Paimin    : (beringsut, lalu melihat ke arah layar LCD, lalu membaca tulisan disebuah situs blog berjudul: Polemik Pasca Eksekusi Bomber Bali, Amrozi, Imam Samudera, Ali Gufron.”
Paijo    : “..Lha wong saya nyarinya informasi yang proporsional tentang eksekusi Imam Samudera cs kok dapetnya tulisan gak jelas begituan..?”
Paimin    : “Halah, itu cuma tulisan iseng..jangan ditanggapi”
Paijo       : “Siapa yang mau menanggapi? Wong saya nyari opini yang sebenarnya..”
Paimin    : “Menurut sampeyan sendiri gimana?”
Paijo       : “Semestinya kalo pada ngomong itu mbokya pada tempatnya, sesuai kapasitasnya, jangan asnul dan asbun.. asal nulis, asal bunyi. Kini di era kebebasan berpendapat, semua pada bebas ngomong, gak peduli ngerti atau enggak, porsinya atau bukan, yang penting bersuara.”
Paimin    : “Kaitannya dengan masalah eksekusi?
Paijo       : “Udah jelas, Amrozi mengaku meledakkan Sari Club, jelas ia pelakunya. Dalam konteks negara yang aman, damai, dan sentosa; maka tindakan seperti itu masuk ke dalam kategori membunuh manusia, membuat terror, menakut-nakuti orang, dsb…”
Paimin    : “Tapi kan, banyak pihak menyangsikan hal itu.., mana mungkin mereka dapat membuat dan melakukannya..”
Paijo       : “Amrozi cs sudah mengaku, mereka bahkan merekonstruksi perakitan dan hingga peledakannya..”
Paimin    : “Siapa tahu mereka dipaksa. Tahu kan polisi Indonesia? Banyak cara buat membuat orang tidak bersalah menjadi tersangka utama..”
Paijo    : “Bagi saya, tidak mudah membuat orang-orang seperti Amrozi cs berbicara meski dipaksa dgn cara-cara ‘tertentu’ untuk mengaku..mungkin mereka memilih mati..”
Paimin    : “Halah, mestinya polisi Indonesia tahu donk, masa cuma sesederhana begitu; rekontruksi dan demo perakitan yang ditunjukan Ali Gufron, mampu merontokan bangunan-banguan beton seluas satu RT..? pasti ada ‘sesuatu’ dengan pemerintahan ini, mereka menutup-nutupi sementara Amrozi dkk dijadikan kambing hitam..”
Paijo      : “Min, kambing hitam itu kalo seseorang yang tidak bersalah lalu ada konspirasi sehingga ia mendapatkan getah dari perbuatan atau sobatose salah satu pihak..”
Paimin   : “Ah, itu dia konspirasi, jangan-jangan pemerintah kita dengan intelijennya berkonspirasi dalam rangka meyakinkan Amrik, bosnya, bahwa kita telah menangkap teroris, ini sekalian meyakinkan bahwa teroris memang ada di Indonesia, padahal Amerika itulah sebenarnya teroris..”
Paijo     : “Huss, jangan banyak berprasangka, marilah kita lihat dari yang nyata nampak di depan mata. Mereka telah mengaku, terlepas dari apakah mereka adalah orang-orang polos yang termanfaatkan semangat dan kekhilafannya, itu kita yg tidak tahu.. bukankah kita dilarang menjustifikasi sesuatu yang masih tidak jelas..?”
Paimin    : “Tidak jelas gimana? Lihat, kemungkinan besar CIA atau semacamnya bermain di belakang ini semua adalah 99,999 persen, dan itu itu adalah konspirasi. Indonesia dengan negera 99,99% adalah muslim, kaya raya, semua cadangan harta karun berupa tambang apa aja, sumber daya alam apa aja, ada di bumi ini, gimana mungkin  Amrik yang sekarang cengap-cengap mau mati ekonominya tidak ingin berpikir pintas, Irak terbukti, Afganistan terbukti, terbukti kedok mereka..
Paijo    : “Gimanapun Min, hukum harus ditegakkan kepada siapa saja yang bersalah..”
PaiMin    : “Hukum siapa? Hukum toghut? Dan siapa yang bersalah? Siapa pelaku sebenarnya..”
Paijo    : (agak bingung) “Ya hukum negeri kita.. jika bicara hukum, ya inilah negeri kita..inilah hukum kita, tidak ada hukum lain yang berlaku di sini, masa mau mengadili bangsa sendiri pinjam hukum negara orang, lagian membuat dan melahirkan sebuah hukum kan tidak gampang..  sudahlah , bukan kapasitas kita bicara hukum, kalo merasa memang ada peraturan yg lebih adil dan lebih baik dari hukum yang sekarang tegak, marilah kita berlakukan mulai dari diri sendiri, mulai dari keluarga kita dan mulai dari sekarang..”
Paimin    ; “Ini perkara nyawa, Jo, jika salah memberikan hukuman mati kepada seseorang kan fatal akibatnya”
Paijo    : “Begitu pula mereka min, jika Amrozi CS ternyata salah dalam berijtihad dalam jihad mereka, bukannya itu juga fatal? Dalam kondisi perang saja, utusan haram dibunuh, apalagi membunuh tamu yang berkunjung dalam kondisi damai..”
Paimin    : “Tamu yang mana..? orang mereka yg berkunjung ke Sari Club itu adalah para pelaku teroris budaya, teroris akhlak…tamu apaan..”
Paijo    : “Di sana banyak orang Min, tidak semua mereka itu sama.. ada orang2 yg tidak bersalah. Ada yang lagi sekedar numpang lewat, lalu mati terpercik serpihan bom. Lagian kan, selalu ada dialog untuk menkontrol perilaku tamu yang mengancam stabilitas kesopanan dan kemapanan moral sebuah bangsa..”
Paimin    : “Jadi menurutmu, syahidkah kematian mereka?
Paijo       : “Syahid itu seperti pahala puasa, itu urusan mereka dengan Tuhan..”
Paimin    : (merenung)”Ah, Amrozi, nasibmu malang kawan.. semoga jika engkau dan kawan-kawan benar, Allah SWT akan memberimu balasan, jika engkau salah, maka Dia pun akan membalasmu setimpal..”
Paijo    : “Ya itulah Min, terpenting bagi pemerintah semestinya lebih menanggapi aspirasi sebagian besar rakyat dalam ranah agama sebagai pengontrol berkebangsaan. Jangan mau terlalu menurut asing dalam segala kebijakan terutama ekonomi yang menyengsarakan rakyat sehingga kemungkinan terlahirnya kembali pribadi2 seperti amrozi bisa diminimalir.. kita butuh intelek2 muda yang suaranya mampu mengontrol bangsa ini dengan semangat seperti Amrozi dan kawan.. semangat dalam koridor yang sesuai..”
Paimin    : “Semoga semua pihak saling memahami, saling menahan diri agar demi keberlangsungan hidup bangsa ini…”
Paijo      : (Menutup laptopnya) “eh, udah hampir jam 13 nih, siap-siap..ah”
Paimin    : “Brapa lama yah, berita tentang eksekusi ini menjadi primadona headline banyak media..?”
Paijo       :  “Gak tahulah.. udahlah mari kita teruskan kerja..”
Paimin    : “Ya, bekerja juga sebuah ibadah..”
Paijo      : “Insyallah, bekerja yang bener dengan niat yang ikhlas..”

No related content found.