Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
Chairil Anwar (1948)

Syair di atas tentulah semua kita tahu, puisi perjuangan oleh seorang Chairil Anwar yang menceritakan semangat pertempuran rakyat sepanjang jalan Karawang Bekasi.  Berangkat dari sinilah kami, blogkar memompa semangat kami menghadiri sebuah hajat besar para blogger yang diprakarsai oleh Komunitas Blogger Bekasi dan didukung penuh oleh Pemerintah kota Bekasi, Amprokan Bloger 2010.

Puisi Krawang Bekasi ini sendiri terpahat di monumen Tugu Patriot Bekasi, sebuah situs perjuangan yang menjadi salah satu agenda kunjungan para blogger dalam sesi anjangsana pada Amprokan Bloger 2010.

Inilah pose kami saat bersiap menuju Bekasi. Sesuai arahan dari Bapak Humas BLOGKAR, kang Tatang, maka berkumpulah kami di GOR panata yudha, Karawang. Pak Ketuanya kok telat..?