Orang muslim itu penyayang, dan kasih sayang adalah salah satu akhlaknya, sebab sumber kasih sayang adalah jiwa yang bening dan hati yang bersih. Dalam mengerjkaan kebaikan, mengerjakan amal sholih, menjauhi keburukan dan menghindari kerusakan, orang muslim selalu berada dalam hati yang bersih dan jiwa yang baik. Barang siapa keadaannya seperti itu, maka sifat kasih sayang tidak terpisah dengan hatinya.

Tulisan sebelumnya:

Oleh karena itu, orang muslim menyukai sifat kasih sayang, memberikannya, menasihati orang dengannya, dan mengajak orang kepadanya, karena dalil-dalil berikut: Firman Allah ta’ala yang artinya “Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” Qs. Al Balad: 17

Ingin mengamalkan sabda Rosul SAW, “Sesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hambanya yang penyayang.” HR Al Bukhary

Sabda Rosul SAW, “Sayangilah oleh kalian siapa saja yang ada di bumi, niscaya kalian disayangi siapa saja yang ada dilangit.” HR Ath Thabroniy dan Al Hakim dengan sanad shahih.

Sabda Rosul SAW, “Kasih sayang tidak dicabut kecuali dari orang yang celaka”

Ingin mewujudkan sabda Rosul SAW, “Perumpamaan kaum mukminin dan cinta mereka, kasih sayang mereka, dan kedekatan mereka, seperti satu badan. Jika salah satu dari anggota badan sakit, maka seluruh anggota badan tidak bisa tidur dan sakit demam.” HR Muslim

Kendati asal-muasal kasih sayang ialah hati yang tipis (sensitif) dan kelembutan jiwa yang membuat orang yang bersangkutan memaafkan orang lain dan berbuiat baik kepadanya, hanya saja kasih sayang itu tidak selamanya sekedar kelembutan jiwa yang tidak mempunyai bukti di luar, namun kelembutan jiwa tersebut mempunyai bukti eksternal, dan fenomena-fenomena yang terlihat di dunia nyata.

Di antara bukti sifat kasih sayang ialah memaafkan kesalahan orang lain, menolong orang yang mendapatkan musibah, membantu orang yang lemah, membri makan kepada orang yang lapar, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, mengobati orang yang sakit, dan menghibur orang yang sedih. Semua ini dan contoh – contoh lainnya adalah bukti dan pengaruh sifat kasihg sayang.

Di antara fenomena-fenomena kasih sayang yang bisa diraba, dan dilihat adalah sebagai berikut:

Al Bukhary meriwayatkan dari Anas bin Malik RA yang berkata, “kami bersama Rosul SAW pergi kepada Abu Yusuf al Qoin, suami wanita yang menyusui Ibrohim. Beliau mengambil Ibrohim, dan menciumnya. Setelah itu kami masuk menemuinya lagi, ternyata Ibrohim telah menghembuskan nafsa terakhirnya, dan mata Rosul SAW berlinang air mata. Abdurrohman bin ‘Auf berkata kepada Rosul SAW, “Engkau menangis, wahai Rasullulloh? Rosul SAW bersabda, ‘Hai anak ‘Auf, ini adalah kasih sayang.’ Setelah itu beliau bersabda, ‘sesungguh mata mengucurkan airmata, hati sedih, kita tidak berkata kecuali apa yang diridhoi tuhan kita, dan kita amat sedih dengan kepergianmu, hai ibrohim’. Kunjungan Rosul SAW kepada anak kandungnya di rumah wanita yang menyusuinya, dan ciuman beliau terhadapnya, dan air mata kesedihan yang keluar dari mata beliau itu adalah fenomena-fenomena kasih sayang hati.

Imam Al Bukhary meriwayatkan dari Abu Hurairoh RA bahwa Rosul SAW bersabda, “Seseorang berjalan dalam keadaan sangat kehausan, kemudian ia turun ke salah satu sumur, dan meminum airnya. Ketika ia keluar dari padanya, ternyata seekor anjing nafasnya kembang kempis memakan tanah basah karena kehausan. Ia berkata, “Sungguh anjing ini telah sampai pada kondisi yang aku sampai padanya.’ Ia pun memenuhi sepatunya dengan air, menahan dengan mulutnya, naik, dan memberikan airnya kepada anjing tersebut. Ia bersyukur kepada Allah, dan Allah pun mengampuni dosa-dosanya.

Turunnya orang tersebut ke sumur, kesabarannya menanggung kesulitan mengambil air dari padanya, dan pemberian air olehnya kepada anjing, itu semua adalah fenomena-fenomena kasih sayang di dalam hatinya, karena tanpa kasih sayang tersebut ia tidak mungkin bisa berbuat seperti itu terhadap anjing tersebut.

Kebalikan dari kejadian di atas ialah kasus yang diriwayatkan Al Bukhary dari Abu Hurairah RA dari Rosul SAW yang bersabda, “Seorang wanita disiksa karena kucing yang ia tahan hingga mati, dan karenanya ia masuk neraka. Dikatakan kepada wanita tersebut, “Engkau tidak memberi makan dan minum kepada kucing tersebut, ketika engkau menahannya. Engkau juga tidak melepaskannya supaya ia bisa memakan hewan-hewan di tanah’.” HR Al Bukhary.Tindakan wanita tersebut menahan kucing tanpa memberinya makan minum ialah salah satu fenomena kekerasan hati, dan tercabutnya kasih sayang dari hatinya. Kasih sayang tidak dicabut kecuali dari hati orang celaka.

Imam Al Bukhary meriwayatkan dari Abu Qotadah RA bahwa Rosul SAW bersabda, “Sesungguhnya aku mengejakan sholat, dan ingin memanjangkannya, tiba-tiba aku mendengar suara tangis anak kecil, kemudian aku meringankan terhadap apa yang aku ketahui (bacaan Al Qur’an), karena begitu besar kesedihan ibunya karena tangisnya.” (HR Bukhary) Pembatalan Rosul SAW dari memanjangkan sholat, dan kesedihan ibu karena tangis anaknya adalah salah satu fenomena kasih sayang yang dimasukkan Allah ta’ala ke hati hamba-hambaNya yang penyayang.

Dikisahkan bahwa Zainal Abidin Ali bin Al Husain dihina orang dalam perjalannya ke masjid, kemudian beberapa orangdari pembantunya ingin memukul orang tersebut, dan menyakitinya, namun Zainal Abidin melarang mereka bertindak seperti itu karena kasih sayangnya terhadap orang tersebut. Ia berkata, “Pak, aku lebih banyak dari apa yang engkau katakan, dan apa yang tidak engkau ketahui tentang diriku itu lebih banyak dari pada apa yang engaku katakan. Jika engkau meminta kebutuhan kepadaku, bilang saja dengan terus terang.” Orang itu tersipu malu, kemudian Zainal Abidin membuka gamisnya, dan menyuruh pembantunya memberikan uang sebanyak seribu dirham kepada orang tersebut. Pemberian maaf, dan pemberian di atas tidak lain adalah salah satu bentuk kasih sayang di hati cucu Rosul SAW.

Tulisan selanjutnya: