Ahmadiyah Telanjang Bulat Di Sejarah, Latar Belakang Politik Kolonialisme Inggris di Balik Lahirnya Ahmadiyah
Pada tahun 1933 di kota Lahore India, terjadi huru-hara. Pada mulanya para Ulama bersama-sama kaum muslimin yang dikenal dengan sebutan – Golongan Ahrar – mengajukan appeal pada Pemerintah agar aliran Qadiani atau yang lebih dikenal dengan nama: AHMADIYAH, dinyatakan sebagai aliran non-Islam. Mereka juga minta agar Sir Zafrullah Khan, seorang tokoh dari kelompok Ahmadiyah, dipecat dari kabinet India. Zafrullah Khan di samping seorang negarawan terkenal, juga seorang diantara tokoh-tokoh Salvation Army Ahmadiyah yang giat menyusun kekuatan di atas terutama mempengaruhi kalangan pemerintahan maupun militer.
diambil mentah-mentah dari buku; Ahmadiyah Telanjang Bulat
di Panggung Sejarah oleh Abdullah Hasan Alhadar
Artikel lain:
- Kematian menjijikan Mirza Ghulam Ahmad
- Ahmadiyah Jago Berbohong
- Cara Mirza Ghulam menjadi Nabi
- Ahmadiyah mengkafirkan kaum muslimin
- Ahmadiyah lebih berbahaya dari Bandar Narkoba
- Download SKB Ahmadiyah 2008
————————————————-
Berbagai ragam aliran kepercayaan, kebatinan maupun pergerakan yang menamakan dirinya sebagai faham-faham baru dalam Islam, pikiran-pikiran baru tentang Islam. Modernisasi Islam atau Neonisasi Islam, telah berada maupun berkisar berputar di sekeliling tubuh Islam, melekat merapat mengisap tubuh itu bahkan melukainya dalam goresan yang dalam. Mereka pada kenyataannya memecah belah mayoritas, kemudian bagian-bagian dari mereka mengisolir diri dan menyatakan bahwa mereka adalah pewaris-pewaris Islam serta pengikut-pengikutnya adalah muslim-muslim sejati. Banyak kaum Muslimin terkena jerat terbawa jauh bahkan terpisah
dari pedoman Al-Qur’an dan Sunnah.
Pada mulanya patokan-patokan yang dipakai untuk landasan berpijaknya gerakan-gerakan itu tampaknya bersandar pada Kitab Suci Al-Qur’an; Namun pada saat-saat mereka bergerak selangkah ke depan tampaklah isi maupun hakikatnya bertujuan menyimpang bahkan menyesatkan! Mereka sebenarnya merupakan tanda-tanda nyata kelemahan iman maupun kondisi ummat Islam di satu pihak, dan keunggulan musuh-musuh Islam di lain pihak.
Membahas gerakan neonisasi Lslam ini akan banyak memakan tempo, tenaga dan pikiran yang dicurahkan. Karenanya lebih baik diambil satu contoh dari mereka untuk dikemukakan disini. Maka perkenankanlah kiranya jika contoh itu jatuh pada aliran atau gerakan AHMADIYAH yang didirikan oleh MIRZA GHULAM AHMAD dari QADIAN INDIA. Aliran ini terkenal juga dengan doktrin kedatangan kembali Almasih dan Almahdi. Bahkan yang menarik dari aliran ini ialah bahwa Almasih dan Almahdi itu sudah datang dan terdapat pada seseorang yang bernama MIRZA GHULAM AHMAD. Ia merangkap kedua jabatan itu sekaligus.
Aliran Ahmadiyall menyatakan diri sebagai Islam sejati. Organisasinya rapi, keuangannya padat, kerjanya agak lambat namun berbekas pada penganut-penganutnya. Justru karena kerapian organisasi dan kepadatan uangnya, maka Ahmadiyah pikatannya sangat menarik, jeratannya sangat lekat dan sekujur tubuhnya kelihatan mulus dan cantik. Namun demikian, pada hakikatnya di balik kecantikan yang mulus itu, pada darah yang mengalir dalam tubuhnya, rumah tempat bernaungnya, pelindung tempat berteduhnya, semua itu merupakan kenyataan-kenyataan yang sangat berlawanan dengan lahirnya. Hal mana apabila diungkapkan di sini akan menjadi suatu sajian menarik baik sebagai bahan telaal maupun sebagai bahan pengetahuan.
Sungguh sangat menyedihkan bahwa ISLAM dilingkari dan diisap oleh gerakan semacam itu, yang pada lahirnya merupakan MERCUSUAR ISLAM dengan pancaran sinar terang benderang, namun pada hakikatnya mercu suar itu telah mengantar biduk-biduk iman serta pikiran manusia ke tempat labuh yang sesat sehingga menimbulkan tubrukan-tubrukan keras dan kerusakan-kerusakan fatal.
Adalah menjadi harapan-harapan saya dengan tersusunnya tulisan ini, semoga dapat dijadikan pangkal study mendalam terhadap gerakan tersebut maupun terhadap gerakan-gerakan yang lain. Dan semoga pula dapat disisipkan sebagai bahan-bahan tambahan untuk LEMBAGA RESEARCH ISLAM.
Hanya kepada ALLAH YANG MAHA MENGETAHUI jualah saya pasrahkan segala pekerjaan ini dengan memohon ampun serta keridhaanNya.
Kemudian salam dan selawat serta sejahtera terlimpah kepada Rasul MUHAMMAD Nabi penutup junjungan ummat serta tauladan hidup.
Kepada keluarga beliau, kerabat serta sahabat terucap pula salam selawat sejahtera. Kepada TUHAN PENCIPTA ALAM SEMESTA segala puja dan pengabdian tertuju satu. (Ramadhan 1397 H. (16 Agustus 1977 M.)
2.AHMADIYAH SEBAGAI ISOLASIONISME
2.1 BIANG KELADI
Pada tahun 1933 di kota Lahore India, terjadi huru-hara.
Pada mulanya para Ulama bersama-sama kaum muslimin yang dikenal dengan sebutan – Golongan Ahrar – mengajukan appeal pada Pemerintah agar aliran Qadiani atau yang lebih dikenal dengan nama: AHMADIYAH, dinyatakan sebagai aliran non-Islam. Mereka juga minta agar Sir Zafrullah Khan, seorang tokoh dari kelompok Ahmadiyah, dipecat dari kabinet India.
Zafrullah Khan di samping seorang negarawan terkenal, juga seorang diantara tokoh-tokoh Salvation Army Ahmadiyah yang giat menyusun kekuatan di atas terutama mempengaruhi kalangan pemerintahan maupun militer.
Kepala pemerintahan daerah Punjab barat, tuan Mumtaz Daultana, enggan sekali untuk turun tangan serta mengambil sikap bertolak belakang dengan keinginan para Ulama; Ia merasa akan mengakibatkan timbulnya kekeruhan dalam suasana politik di negerinya.
Bagaimanapun juga pada akhirnya pertemuan dengan mereka
tidak bisa dielakkan lagi. Dalam suatu perundingan yang lama, antara para ulama dengan perdana menteri Nazimuddin serta tuan Mumtaz Daultana, tokoh-tokoh dari pemerintahan India ini ternyata bersikap kaku, lamban bahkan menolak untuk mempertimbangkan tuntutan mereka itu.
Suasana hangat dalam pertemuan itu, kiranya telah menembus ke luar gedung meliputi massa kaum Muslimin yang sedang menunggu hasil-hasilnya. Kegelisahan pada mereka telah merata, kesabaran telah lenyap, dan tanpa menanti lebih lama lagi, mereka mulai bergerak turun ke jalan-jalan mengadakan demonstrasi. Kemarahan dan emosi membawa mereka, bagaikan arus yang menyisihkan setiap rintangan di depan bahkan kekerasanpun terjadi di sana-sini.
Pemerintah cepat-cepat turun tangan. Melalui campur tangan militer, keadaan yang penuh ketegangan itu berubah menjadi keadaan yang mencekam dada, pekik dan tangis terdengar, ketakutan tampak pada wajah-wajah mereka. Suatu peristiwa yang sulit untuk dilupakan, telah terjadi di tempat berkumpulnya kaum Muslimin itu. Pada suatu ketika, sebuah jeep dengan kecepatan yang luar biasa mendadak muncul menerjang ke arah kelompok-kelompok massa kaum Muslimin, sambil melepaskan tembakan-tembakan membabi buta. Maka jatuhlah korban yang tidak sedikit jumlahnya.
Seorang Ahmadiyah yang fanatik berkata, bahwa “peristiwa jeep” itu adalah suatu mu’jizat, dan para penembak didalamnya tidak lain adalah Malaikat-malaikat Tuhan yang dikirim untuk menolong Ahmadiyah.
Suatu kenyataan yang jelas ialah, bahwa pemerintah dalam bertindak telah berdiri berat sebelah. Dalam suatu laporan tertulis yang disampaikan oleh hakim-hakim Mohammad Munir dan M.R. Kayani, dimana kedua orang tersebut menghakimi seluruh sidang-sidang perkara Ahrar, ternyata isi laporan mereka itu sangat kabur serta merugikan para Ulama. Naseem Saifi, seorang tokoh Ahmadiyah kelahiran Qadian, mengutip isi laporan tersebut, sebagai berikut:
“Jelas sudah, bila pemimpin-pemimpin Ahrar itu mengetengahkan pada publik hanya soal-soal perbedaan dalam Agama, maka suguhan mereka itu tidak akan berpengaruh apa-apa. Akan tetapi bila pada mereka
diissuekan bahwa Ahmadiyah telah menghina Nabi Muhammad dengan cara mengumumkan kenabian baru sesudah kenabian akhir Muhammad s.a.w. bahkan nabi baru itu jauh lebih mulya. Maka disinilah jebakan pemimpin-pemimpin Ahrar itu mengenai sasarannya dengan tepat. Ummat Muslimin akan tergugah, terkejut, bahkan murka mendengar
pidato-pidato semacam itu.”
Sesudah laporan Munir dan Kayani tersebut, datang lagi laporan dari Badan Penyelidik Kejahatan Pemerintah, yang nadanya lebih keras serta memberatkan pemimpin Ahrar.
Ahmadiyah mengutip isi laporan tersebut:
“Sesungguhnya para pemimpin Ahrar itu tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya telah bermain api. Mereka sedang membangkitkan kemarahan di kalangan ummat Islam sedemikian rupa, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti terjadinya korban-korban jiwa, kerusakan-kerusakan, penghinaan dan lain-lain tidak dapat dielakkan lagi. Suatu tindakan keras harus segera diambil!”
Demikianlah tindakan tangan besi pemerintah telah merenggut jiwa kaum Muslimin tidak sedikit. Sungguh patut disesalkan bahwa telah terjadi peristiwa tragis semacam itu; padahal benih-benih yang menyebabkan timbulnya api kemarahan ummat yang sekaligus telah merenggut jiwa mereka yang tidak sedikit itu, masih tetap bercokol.
Sudah selayaknya bila pemerintah India pada waktu itu menelaah jauh-jauh sebelumnya sebab-sebab dari timbulnya kemarahan kaum Muslimin. Bahwasanya apa yang telah diucapkan oleh pemimpin-pemimpin Ahrar itu, tidak semuanya fitnah semata-mata. Munculnya nabi baru sesudah kenabian akhir Muhammad s.a.w., memang telah dipropagandakan oleh Ahmadiyah, dimana Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah itu sendiri yang mengklaim dirinya sebagai nabi baru di kalangan ummat Islam. Justru inilah, nabi baru itu, benih diantara benih-benih yang ditanam Ahmadiyah, yang telah menimbulkan kemurkaan ummat mencapai puncaknya.
Tiga tahun kemudian setelah terjadinya peristiwa Ahrar tersebut, DR. Mohammad Iqbal, Failosoof dan Pujangga besar Islam mengirim sepucuk surat pada Pandit Nehru, dimana beliau mengutarakan pendiriannya terhadap Ahmadiyah. Isi dari surat beliau tersebut yang bertanggal 21 Juni I936, berbunyi:
“Sahabatku Pandit Jawahar Lal, Terima-kasih atas surat anda yang telah kami terima kemarin Pada saat saya menulis jawaban atas
artikel-artikel anda, saya merasa yakin bahwa anda tidak menaruh minat apapun terhadap sepak-terjang orang-orang Ahmadiyah itu. Kendatipun demikian adanya saya menulis juga jawaban tersebut, ialah semata-mata didorong untuk membuktikan, terutama pada anda,
bagaimana sikap loyalitas kaum Muslimin di satu pihak, dan bagaimana sebenarnya tingkah laku yang ditontonkan oleh gerakan Ahmadiyah itu. Setelah diterbitkan risalah kami, saya mengetahui benar-benar bahwa tidak seorang Muslimpun yang berpendidikan, menaruh perhatian atas
asal-usul maupun perkembangan ajaran-ajaran Ahmadiyah.
Selanjutnya perihal artikel-artikel yang anda tulis itu, bahwasanya bukan saja penasihat-penasihat Muslim anda yang berada di Punjab yang merasa cemas, bahkan hampir di seantero negeri mereka semua cemas. Hal ini lebih membuat mereka gelisah, bila memperhatikan bagaimana ora ng-orang Ahmadiyah bersorak-sorai karena artikel anda itu. Tentu saja dalam hal ini surat kabar Ahmadiyah banyak membantu sepenuhnya timbulnya prasangka dan kecemasan-kecemasan itu. Namun demikian, pada akhirnya saya sungguh bergembira bahwasanya anda tidak sebagaimana yang kami cemaskan itu. Selanjutnya perlu saya utarakan di sini bahwa perhatian saya terhadap ilmu ke-Tuhan-an, kurang. Akan tetapi saya mulai gandrung padanya, ketika saya harus mengenal Ahmadiyah dari asal-usulnya. Ingin saya meyakinkan anda di sini, bahwa risalah yang saya tulis itu adalah semata-mata untuk kepentingan Islam dan India. Kemudian
saya tidak pernah ragu untuk menyatakan disini, bahwasanya orang-orang Ahmadiyah itu, adalah pengkhianat-pengkhianat terhadap Islam dan India.
Saya menyesal sekali tidak mendapal kesempatan menemui anda di Lahore. Saya jatuh sakit pada hari-hari itu dan tidak keluar dari bilik. Bahkan hampir selama dua tahun terakhir ini saya berada dalam keletihan dikarenakan sering jatuh sakit. Harap anda kapan saja bila anda datang lagi ke Punyab. Kemudian apakah anda telah menerima surat saya yang berkenaan dengan usul anda mengenai penyatuan hak-hak kemerdekaan kaum sipil.
Ketika anda tidak menyinggung lagi hal tersebut dalam surat anda, saya merasa kuatir bahwa anda tidak pernah menerimanya. Wassalam, sahabatmu,”
Sd. Mohammad Iqbal.7
Apa sebab DR. Iqbal termasuk diantara mereka yang menyerang
Ahmadiyah, bahkan menyatakan sebagai pengkhianat-pengkhianat
terhadap Islam dan India? Justru pendirian beliau inilah yang harus digaris-bawahi sebagai suatu problema yang patutditeliti sejauh mungkin. Beliau sendiri tidak berkesempatan untuk menulis tentang dalih-dalih maupun dasar-dasar dari pernyataannya yang drastis itu secara luas, mungkin dikarenakan kesehatannya yang banyak terganggu. Akan tetapi beliau tidak lupa memberikan metode-metode yang baik dalam rangka mengenal Ahmadiyah.
Sebaliknya bagi pemerintah India, sudah sewajarnya bila pernyataan Iqbal tersebut dijadikan sebagai titik-tolak daripada penelitian yang seksama terhadap gerakan Ahmadiyah.
Setidak-tidaknya bertindak sebagai penengah yang suka mendengar suara-suara ulama yang tidak diragukan identitas maupun kwalitasnya, termasuk suara Iqbal.
Jika tidak, maka apa yang terjadi kemudian ialah timbulnya gerakan-gerakan estafet para Ulama maupun kaum muslimin yang bersikap menentang hadirnya aliran Ahmadiyah dalam tubuh Islam.
Bukti-bukti timbulnya gerakan-gerakan estafet telah ada. Peristiwa-peristiwa yang hampir sama dan dari sebab-sebab yang sama telah terjadi; mengambil tempat di anak benua India kembali.
Catatan kaki:
1 (1). Iih. I.H. Qureshi, a Short History of Pakistan, 1967, University of Karachi, hal. 245: ( suddenly they reentered public life with their old demand for having the Qadianis declared non Muslim Ö without waiting for the result they started a vigorous agitation for the removal of Zafrullah Khan, a recognised leader of the Qadiani community, from the central Cabinet.).
2 lih. Syed Sharifuddin Pirzada, Evolution of Pakistan, 1963, Lahore, The All Pakistan Legal Decisions, hal. 444: (The chief minister of West Punjab, Mumtaz Daultana, was not reluctant to take any vigorous stand
against it because he felt that it would be politically dangerous).
3 lih. I.H. Qureshi A Short history of Pakistan hal. 245 (the agitation grew in violence and threatened to destroy ordered life.).
4 Ucapan seorang Ahmadiyah bernama: Mohammad Idris, dengan alamat: Gg. H. Murtadho XII/A. 280 Matraman Jakarta, bekerja pada perpustakaan kedutaan Pakistan Jakarta. Ia tinggal di India selama 12 tahun, berada di Lahore ketika peristiwa Ahrar tersebut terjadi.
5 lih. Naseem Saifi Our Movement Lagos The Islamic
Literature 1957 hal. 14: (if they had carried on this religious controversy, as other religious controversies are carried on, they not have perhaps attracted much support. But they clever enough to recognise that the feelings of a muslimin are nowhere more easily and bitterly aroused and his indignation awakened than over a real or fanciful insult to the Holy Prophet. They therefore, began to give out that their activities were meant to preserve the nubuwat of the Holy prophet and to repel attacks on his famous (honor) which had been made by Ahmadis in propagating the belief that the Holy Prophet was not the last of the prophets and that another prophet had appeared who claimed not only to be equal superior to the Holy Prophet. The trick succeeded…).
6 lih.: Naseem Saifi-Qur Movement-hal. 16: (The D.I.G., C.I.D. said in his report: The Ahrar leaders probably do not realise that they are playing with fire. A certain amount of buffoonery can be overlooked, but where feelings are inflamed to such an extent that the murders, riots, the heaping of insults, etc; are threatened, a halt must be called!).
7 lih. Syed Abdul Vahid Thoughts and Reflections of Iqbal Lahore 1964 SH. Mohammad Ashraf Lahore Hal. 306: (My dear Pandit Jawahar Lal, Thank you so much for your letter which I receieve yesterday. At the time I wrote in reply to your articles I believed that you had no idea of the political attitude of the Ahmadis. Indeed the main reason why I wrote a reply was to show, espesially to you, how Muslim loyalty had originated and how eventually it had found a revelational basis in Ahmadism: After the publication of my paper I discovered, to my great surprise, that even educated Muslim had no idea of the historical causes which shaped the teachings of Ahmadism. Moreover your Muslim advisers in the Punjab and elsewhere felt pertubed over your articles as they thought you were in sympathy with the Ahmadiyya movement. This was mainly due to the fact that the Ahmadis were jubilant over your articles. The Ahmadi press was mainly responsible for this misunderstanding about you. However I am glad to know that my impression was erroneous. I myself have little interst in theology but had to dabble in it a bit in order to meet the Ahmadis on their own ground. I assure you that my paper was written with the best of intensions for Islam and India. I have no doubt in my mind that the Ahmadis are traitors both to Islam and to India.
I was extremely sorry to miss the opportunity of meeting you in Lahore. I was very ill in those days and could not leave my room. For the last two years I have been living a life practically of retirement on account
of continued illness. Do let me know when you come to the Punjab next. Did you receive my letter regarding your proposed union for Civil liberty? As you do not acknowledge it in your letter I fear it never reached you, your sincerely, Sd. Mohammad Iqbal.
2.2 KEMURKAAN ESTAFET
Pada tanggal 15 Mei 1953 di kota Lahore Pakistan, seorang Ulama besar, syed Abul A’la al-Maududi, karena menyerang keras aliran Qadiani (Ahmadiyah) dan bersama-sama kaum Muslimin menuntut agar pengikut-pengikut Ahmadiyah dinyatakan sebagai golongan non-muslim, oleh pengadilan
militer di Lahore, beliau dan seorang Ulama bernama Maulana Niazi, dijatuhi hukuman mati!1
Berita vonnis yang tidak disangka-sangka itu, bahkan tidak pernah terlintas dalam pikiran kaum Muslimin, telah menimbulkan kepanikan di kalangan ummat Islam Pakistan, India, bahkan seluruh dunia Islam ikut terkejut atasnya.2
Keputusan akan “membunuh” tokoh kecintaan ummat, seorang mujahid, dan seorang sumber ilmu Agama yang tidak kering-keringnya itu, telah menimbulkan kekhawatiran dan kegelisahan dimana-mana. Kemarahan kaum Muslimin hampir-hampir tidak dapat dibendung lagi. Melihat situasi yang semakin panas itu, pemerintah cepat-cepat turun tangan, mengambil langkah mendatangi Syed Maududi di tempat tahanannya, menawarkan pada beliau
kesempatan untuk mohon ampun dan mohon dikasihani. Namun dengan sikap yang berani dan tegas, beliau berkata: “Tidak, lebih baik aku mati daripada merendah-rendah diri di hadapan suatu Tyran. Jika ini sudah Takdir
Allah, aku dengan segala keikhlasan menerimanya. Akan tetapi jika ini bukan KehendakNya, maka ketahuilah! Jangan coba-coba menyakiti diriku.”3
Melihat pendirian syed Maududi begitu gigih, lebih-lebih sikap dari kaum Muslimin Pakistan, India, dan seluruh dunia Islam dalam suasana prihatin, akhirnya pemerintah menempuh jalan lain dan merobah hukuman mati atas diri syed Maududi menjadi hukuman penjara selama 20 tahun. Namun tidak lama kemudian jumlah 20 tahun itu berobah lagi, bahkan berobah
berkali-kali sehingga sampai pada hukuman penjara dua tahun.
Tindakan drastis oleh pengadilan militer Lahore atas diri Ulama besar itu, menurut sinyalemen maupun pendapat-pendapat tokoh-tokoh pemerintahan dan militer, didasarkan atas pertimbangan politis semata-mata. Namun bila diteliti lebih seksama, pokok pangkal daripada peristiwa 1953 itu, ialah
agitasi golongan Ahmadiyah, yang terang-terangan mengacaukan ketentraman iman kaum Muslimin dan membelakangi aqidah mereka.4
Bahwa sebab utamanya terletak pada kegiatan Ahmadiyah mempropagandakan faham-fahamnya yang bersimpang jalan itu, tidak diragukan lagi. Peristiwa yang sama dan dari sebab-sebab yang sama telah
terjadi lagi, mungkin suatu peristiwa yang akhir, akan tetapi mungkin juga bukan terakhir, telah mengambil tempat di anak benua India kembali.
Pada tanggal 8 Juni 1974, di Islamabad Pakistan, telah terjadi demonstrasi kemarahan kaum Muslimin yang mencapai klimaxnya. Kali ini peristiwa itu lebih banyak makan korban harta benda dan jiwa. Gerakan Ahmadiyah yang mula-mula menceritakan kejadiankejadian tersebut, berkata:
“Sejak Minggu terakhir dari bulan Mei 1974 telah terjadi kerusuhan-kerusuhan di Pakistan. Dengan dihasut oleh kaum Ulama dan digelorakan oleh surat-surat kabar kaum Islam yang fanatik menjalankan tindakan kekerasan terhadap orang-orang dan harta benda milik jemaat Ahmadiyah di Pakistan. Orang-orang Ahmadiyah dibunuh dan mesjid, rumah, toko, perpustakaan, pabrik, gudang dan klinik mereka dirampoki, dihancurkan dan dibakar.
Boikot sosial dan ekonomi dilakukan terhadap orang-orang Ahmadiyah di seluruh Pakistan sehingga mereka tak dapat memperoleh bahan kebutuhan
sehari-hari, bahkan air minum tak dapat mereka beli. Bayi-bayi juga menderita akibat boikot itu, karena susu untuk mereka tak bisa didapat.”5
Bahkan rentetan dari peristiwa itu lebih jauh lagi. Di luar Pakistan, dari kota Mekkah Al-Mukarramah, telah datang keputusan Rabithah ‘Alam Islamy, menyatakan golongan Ahmadiyah sebagai golongan non-Muslim serta melarang anggauta-anggautanya naik haji. Jelas sudah, bahwa penyebab
utama timbulnya kerusakan-kerusakan maupun korban jiwa itu, datang dari Ahmadiyah sendiri. Aliran inilah biang keladi dari kemarahan ummat Islam yang tak terbendungkan itu.
Sungguh sangat disesalkan telah terjadi peristiwa itu, akan tetapi sangat disayangkan bahwa pemerintah tidak mengambil inisiatif jauh-jauh sebelumnya, bahkan jauh sebelum peristiwa-peristiwa yang silam itu, untuk menghentikan aliran Mirza Ghulam itu dan menyatakan sebagai aliran
non-Islam maupun membubarkannya sekaligus!
Sudah jelas, bila golongan kecil Ahmadiyah ini, bila dikaji faham-fahamnya, maupun aqidahnya ataupun hanya disebut-sebut. namanya, akan menimbulkan tidak sedap dan menggelisahkan kaum Muslimin, bahkan bisa terjadi kemarahan-kemarahan dan korban. Ia jauh lebih terorganisir, rapi, sempurna, dan persiapan-persiapan masa depannya maupun keuangannya sangat padat.
Sebaliknya dari peristiwa 1974 itu, gerakan Ahmadiyah sendiri mempunyai pandangan-pandangan yang berbeda. Golongan ini berkata:
“Rahasia di-non-Islamkannya Ahmadiyah, ialah sebagaimana yang diberitakan oleh harian – Imroz Lahore Pakistan, seperti berikut ini: Chiniot, 16 November (74). Menteri Kehakiman Propinsi merangkap urusan Parlemen, Sadar Asghar Ahmad, dihadapan rapat akbar di Jerwala mengatakan, bahwa partai rakyat (yang berkuasa di Pakistan sekarang) telah berhasil menyelesaikan masalah “Khataman Nubuwah” dengan cara
yang amat bijaksana. Penyelesaian masalah ini merupakan kejadian besar sesudah peristiwa Karbala yang tercatat dalam sejarah Islam. Perdana Menteri Ali Butto telah berhasil menghancurkan siasat pemimpin-pemimpin
opposisi dengan menyelesaikan masalah Qadiani itu.”
Kelihatan belangnya, bukan? Kita ini (Ahmadiyah) memang sudah tau. Itulah sebabnya tidak pernah kecil hati. Permainan politik memang begitu. Kaum opposisi di pemilihan umum mendatang (1975) di Pakistan ingin menjadikan masalah Ahmadiyah sebagai issue menarik untuk memperoleh suara.
Tetapi Ali Butto bukan goblog. Dia tau mental “alim-ulama” yang rakus kursi, berselimutkan Agama ingin mencapai tujuan politis.”6
Lebih lanjut Ahmadiyah berkata: “Saudi Arabia atau Rabhitah kalau mencap Ahmadiyah non Islam – tidak mengherankan. Itu biasa, asal jangan Tuhan yang me-non-Islamkan.”7
Bahwa peristiwa di Pakistan itu merupakan tindakan kaum oposisi serta para Ulama dengan maksud untuk mencapai tujuan politis, itu adalah pendapat Ahmadiyah pribadi. Adalah sukar untuk diterima, bahwa ikut sertanya Organisasi Dunia Islam yang berkedudukan di Mekkah itu, termasuk dari rasa
solidaritas atau bertindak dalam rangka membantu tujuan politis kaum oposisi di dalam negeri Pakistan. Melainkan yang logis dan mudah dimengerti, bahwa Rabhitah Alam Islamy telah me-non-Islamkan Ahmadiyah dan sekaligus melarang angauta-anggautanya naik haji, ialah atas dasar-dasar pertimbangan serta penelitian yang seksama akan bentuk
hakiki dari gerakan Ahmadiyah itu. Ulama-ulama di Pakistan, India, atau dimana saja, melihat gerak-gerik Ahmadiyah tidak lagi dari segi-segi lahirnya, akan tetapi pada segi-segi bagian dalamnya.
Kenyataan dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan Ahmadiyah sendiri, bahkan semenjak fajar-fajar munculnya Mirza Ghulam Ahmad dan alirannya, sikap dan tindakan para Ulama selalu menentang keras padanya. Dari suatu pengamatan yang teliti, benih-benih yang ditanam Ahmadiyah di kemudian hari jauh berbeda-beda dari sebelumnya, ia lebih banyak
menonjolkan merk Islamnya daripada sifatnya yang complex, Syukur bahwa dari Ulama-ulama yang masyhur seperti: Mohammad Hadr Husein, Abul Hasan Ali an-Nadwi, Abdul ‘Alim Assidiqhi, Abul Ala al-Maududi dan lain-lain, telah berhasil membuka selubung kulit Ahmadiyah serta mengurai-urai isi dalamnya.
Predikat Ulama yang ada pada mereka, lebih-lebih lagi sebagai putera-putera dari anak benua India, tidaklah menimbulkan keragu-raguan untuk menyatakan bahwa hasil-hasil tulisan mereka tentang kesesatan Ahmadiyah, adalah hasil dari sikap-sikap yang jujur, obyektif dan tidak emosional.
Sehingga apa yang tidak jelas dari “Apa dan Siapa Ahmadiyah itu” menjadi jelas dan disadari.
Namun demikian, kendati hasil telah dicapai, yaitu kesadaran kaum Muslimin terhadap aliran Mirza Ghulam Ahmad itu, akan tetapi pada kenyataannya pencapaian Ulama-ulama itu belumlah sampai pada titik-titik intinya, belum mengena bahkan belum menyentuh sekalipun pada lubuk dasar yang hakiki dari Ahmadiyah. Akibatnya karena hal-hal tersebut, maka problema-problema baru yang tampaknya lebih segar dan logis, susul-menyusul datang dari Ahmadiyah. Bagaikan suatu santapan yang dihidangkan pada kaum Muslimin, lebih sedap dipandang, lebih enak disantap dan lebih komplit dari yang sudah-sudah.
Ternyata Ahmadiyah berada dalam sigap berdiri di atas kuda-kuda, menanti setiap serangan maupun kritikan dari luar dan siap pula menangkis dan menyerangnya. Lebih jauh Ahmadiyah berkata:
“Memang, seperti di persada Indonesia ini, umpamanya, masih ada pula gelintiran manusia-buta yang menganggap Ahmadiyah itu sesat. Sekalipun mereka tak mampu membuktikannya menurut Qur’an dan Hadits Nabi s.a.w.
dan tak pula mampu memperhadapkan “dalil-dalil”nya itu dengan Ahmadiyah, namun sekali-sekali terdengar pula cetusan hati-kotornya yang tak pernah membekas “juridu li-yuthfi ‘u nurallahi bi-afwahihim” (mereka berhasrat memadamkan cahaya kebenaran Ilahy itu dengan mulutnya),
tentu saja tak mungkin. Sebab itu untuk mereka tak lain ialah: “mutu be-ghaidhikum” (benci dan dengkinya akan dibawa atau membawa mereka pada maut.”8
Akhirnya dengan lantang Ahmadiyah berkata: “Anda orang berakal, bukan? Jangan mau diburung-ontakan oleh anasir-anasir yang memusuhi Ahmadiyah dengan cara lempar batu sembunyi tangan. Rata-rata mereka berkaok-kaok dari belakang Ahmadiyah tetapi tidak berani berhadapan. Mereka tau akan kelihatan belangnya.”9
Catatan kaki:
1 lih: Leonard Binder Religion and Politics in Pakistan 1963 University of California Press hal. 302: (In Mid-May 1953, Maulana Maududi and Maulana Niazi were both sentenced to death by a military court sitting at Lahore. The severity of these sentence in an indication of the outraged view that less restrained branch of the services took of the effect of the Ahmadi agitation.
lih: Misbah-ul-Islam Faruqi- Introducing Maududi-1968 – Darr al-Qalam al-Sur St Kuwait-hal. 113: (.., he was made to face a farce of trial by a military tribunal and was awarded death sentence for writing a pamphlet:
the Qadiani Problem.
2 lih: L. Binder hal. 302: religious persons throughout Pakistan were, of course shocked at this action of the military, but perhaps even more astounded at the implied generalization of guilt.
3 lih: M.I Faruqi hal. 114: (When, after the death sentence he was offered option of making an appeal for mercy, his reply was: I would rather lay down my life than request mercy from tyrans. If God has so wished, I
shall gladly submit. But if it is not His decision, no matter what they may plan, they can do no harm to me.)
4 lih: L. Binder hal. 303: (the military and many civil servants, apparently, have been so taken in by propaganda of the jamaat they actually believe that Maududi single handely created the whole islamic constitution controvercy. Regardless of whether this view is correct, the important thing to note is that the islamic constitution controversy was considered the root cause of the dreadful effects of the Ahmadi agitation.)
5 lih: bulletin Ahmadiyah, al-Hisyam, jemaat Ahmadiyah Ujung Pandang, no. 23/24 th. 1974 hal. 2/3.
6 lih. al-Hisyam, no. 25, 1974, hal. 3/7.
7 lih. al-Hisyam, no. 25, 1974, hal. 3.
8 lih. Saleh A, Nahdi Ahmadiyah di mata orang lain, 1971, Rapen Makassar. hal. 3.
9 lih. bulletin al-Hisyam, no. 23/24, 1974, hal. 5.
2.3 TANTANGAN RUTIN
Bahkan jika masih ada niat untuk berhadapan dengan Ahmadiyah, janganlah coba-coba melakukannya. Naseem Saifi, seorang tokoh Ahmadiyah kelahiran Qadian, dengan lantangnya berkata:
“Coba tunjukkan padaku, apa yang telah dicapai oleh mereka (Ulama-ulama) yang memusuhi Ahmadiyah itu? Adakah hasil yang mereka peroleh, ataukah mereka sanggup membendung masuknya orang-orang ke dalam Ahmadiyah?
Jelas sekali, mereka telah gagal, bahkan jika seribu satu macam kitab diterbitkan untuk menentang Ahmadiyah, mereka pasti gagal!”1
Dengan tantangan yang begitu gigih itu, maka Ahmadiyah dengan segala kerapiannya mempertontonkan diri di mata orang lain, dalam bentuk ke-Islamannya yang baik. Apa yang logis, yang segar dan mudah untuk dicerna kaum Muslimin, telah disuguhkan oleh Ahmadiyah. Lebih banyak kitab-kitab Ahmadiyah disertakan didalamnya dengan catatan maupun mukaddimah, bahwa Syahadat Ahmadiyah adalah syahadat kaum Muslimin, bahwa rukun Islam dan rukun iman Ahmadiyah adalah sama dengan kaum Muslimin, memang pada kenyataannya sama. Hal ini tidak perlu dibantah, bahkan Ahmadiyah menegaskan
lagi:
“Ahmadiyah sehelai rambutpun tidak menyimpang dari ajaran Qur’an dan Sunnah Rasul kita Muhammad s.a.w. Untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam di seluruh dunia Ahmadiyah melalui cara dan jalan yang dihalalkan oleh Islam dan dibenarkan oleh undang-undang dan peraturan yang berlaku di mana Ahmadiyah berada dengan menekankan: mengirimkan muballigh-muballighnya ke seluruh dunia; menyiarkan Al-Qur’an dalam berbagai bahasa yang hidup di dunia seperti bahasa-bahasa: Inggris, Jerman, Perancis, Italy, Belanda, Spanyol, Scandinavia, Persia, dan lain-lain; mendirikan mesjid-mesjid di seluruh dunia termasuk mesjid-mesjid di Eropah, Amerika Serikat, Afrika dan lain-lain; menyiarkan buku-buku secara cuma-cuma tentang berbagi masalah seperti perbandingan agama, sistim ekonomi dalam Islam, Kapitalis dan Komunis. Dan seterusnya.”2
Excelent dan menyilaukan bukan? Justru karena inilah, maka usaha-usaha untuk menemukan bentuk yang lama dari Ahmadiyah yakni bentuk fitrahnya, akan mengalami kesulitan dan mungkin kegagalan seperti yang dilantangkan Naseem Saifi di atas. Hal ini telah diduga sebelumnya dan dinyatakan oleh Pujangga besar Isla, DR. Mohammad Iqbal. Beliau berkata:
“Para Ulama di India yang menggunakan pedoman atau hujjah-hujjah Theologis untuk berhadapan dengan aliran Ahmadiyah, pada kenyataannya tidak berhasil mencapai kesempurnaan buat menengok kebagian sebelah dalam dari Ahmadiyah. Cara-cara mereka itu bukan suatu methode
yang effektif. Bahkan bila mereka mencapai suatu success, itu hanya semu (sementara) belaka.”3
Justru karena pedoman atau hujjah theologis yang dipakai para Ulama itu, Ahmadiyah kemudian berputar haluan, berganti taktik, merobah sikap dan menutup segala kemungkinan untuk mengenal asal-usul maupun bentuknya yang semula. Ini terbukti dari adanya kegiatan missi Ahmadiyah yang lebih
banyak menonjolkan kerja dan jasa atas nama Islam, daripada mengungkap-ungkap lagi perihal kedudukan maupun jabatan-jabatan pendirinya, Mirza Ghulam Ahmad. Sudah tentu, dari suatu organisasi yang baik dan sempurna, lebih-lebih dengan keuangannya yang padat, Ahmadiyah sanggup menonjolkan dirinya sebagai organ Islam yang militant.
Banyak pujian-pujian datang dari Ulama-ulama di luar Ahmadiyah, lebih-lebih dari tokoh-tokoh Ketimuran (Orientalist), antara lain yang perlu disebut di sini ialah Prof. H.A.R. Gibb, seorang Guru besar bahasa Arab pada
Universitas Oxford dan Harvard. Gibb berkata tentang Ahmadiyah
“Ahmadiyah adalah gerakan yang giat melawan penyiaran Agama Kristen baik di Indonesia di Afrika selatan maupun di Timur dan Barat.”4
Tidaklah penting untuk memperbanyak halaman-halaman di sini dengan mengutip berbagai pujian terhadap Ahmadiyah, melainkan yang penting untuk dicatat ialah hasrat terpendam yang ingin dicapai Ahmadiyah, yaitu menarik orang-orang baik yang belum memeluk Islam maupun yang sudah Muslim, pada aliran Mirza Ghulam Ahmad. Kemudian dari setiap pribadi yang kena pengaruh itu, dimintanya untuk berbai’at, setia, dan
taat serta meyakini seluruh pangkat, gelar dan kedudukan yang dimiliki Mirza Ghulam tanpa mempersoalkannya lagi. Lebih daripada itu, aliran Mirza Ghulam Ahmad ini telah menyatakan dirinya sebagai Organisasi bentukan Tuhan5, sebagai Islam sejati6 dan sebagai “illa wahidah” hanya satu
yang masuk sorga dari 73 pecahan ummat Islam itu7.
Karenanya, kedudukan illa wahidah pada gerakan Ahmadiyah itu, telah mendorong orang-orang Ahmadiyah untuk tugas suci mengIslamkan kembali kaum Muslimin, atau dengan kata lain, meng”ahmadiyah”kan mereka.
Jelas di sinilah letaknya benih pemecah-belah kesatuan Islam serta mengobrak-abrik ketentraman iman mayoritas ummat Islam yang telah berjalan hampir empat-belas abad itu. Maka tidaklah ragu untuk menyatakan bahwa pujian-pujian yang datang dari orang-orang Barat kepada Ahmadiyah adalah semata-mata untuk tujuan menyuburkan benih pemecah dan pengacau iman itu.
Di Indonesia, hampir di setiap kota-kota besar, Ahmadiyah dapat memperoleh tempat yang subur buat pertumbuhannya.
Meskipun gerakannya lambat namun aliran ini kian hari kian meluas serta membawa bekas. Bahkan di suatu tempat di Jawa Barat, dekat kota Cirebon, sebuah desa atau kecamatan bernama Kayu Manis, Ahmadiyah telah menjadikannya sebagai proyek daerah tauladan, dimana hampir seluruh penduduknya di sana menganut faham yang diajarkan Mirza Ghulam.
Juga dengan cara berdiskusi sambil lalu, dalam kelompok-kelompok kecil baik dengan golongan awam maupun sampai pada golongan mahasiswa, ataupun, mampir bertamu ke rumah teman-teman, gerakan Ahmadiyah aktif menyuguhkan ajaran-ajarannya yang menarik. Sekian jauh mereka telah
berhasil menanam benih-benihnya. Di Indonesia, di Afrika selatan, di Eropah maupun di Amerika, Ahmadiyah menonjolkan dirinya dengan mesjid-mesjid, madrasah-madrasah, poliklinik-poliklinik dan perpustakaan-perpustakaan mereka.
Bukti-bukti inilah mungkin yang menjadi sebab, sehingga penulis dari majallah Tempo, saudara Syu’bah Asa, yang mungkin juga masih ajar kenal dengan Ahmadiyah, telah menulis:
“Bahwa lebih penting daripada mengemukakan ajaran Ahmadiyah dalam perbandingannya dengan faham kaum Muslimin (yang kontra) ialah usaha mencatat perkembangan alam pikiran keagamaan di Indonesia sebagai suatu bagian dari sejarah kita dimana ajaran Ahmadiyah ternyata mempunyai bekas yang bisa diraba meskipun nyaris tak pernah disinggung. Bahkan dengan asumsi pertama bahwa dari mereka banyak bisa diambil
hal-hal yang kedudukan ajaran ini dalam sejarah pemikiran Islam di Indonesia.”8
Jalan pikiran Syu’bah Asa tersebut di atas sebenarnya merupakan garis-garis sentuhan baru dari Ahmadiyah terhadap mereka yang masih belum mengenalnya. Dengan cara-cara yang menarik dan flexible, Ahmadiyah berusaha memperlunak diri dari kekerasan mengisolir dirinya; Mungkin suatu usaha berkompromi telah disodorkan ke tengah-tengah masyarakat Muslimin, dengan penuh harap pada mereka yang berada di luar Ahmadiyah, agar tidak berjerih payah atau meniliti atau memikirkan sebab-sebab, sehingga Mirza Ghulam Ahmad pendiri Ahmadiyah itu, telah memiliki gelar-gelar pangkat dan kedudukan begitu komplex dan penuh; melainkan dimintanya untuk menaruh perhatian yang saksama akan bukti-bukti maupun kenyataan-kenyataan yang ada yang telah dicapai oleh Ahmadiyah dengan success-success missinya. Itulah harapan Ahmadiyah!
Apakah mungkin bagi kaum muslimin mengabaikan begitu saja
akan pangkat-pangkat, gelar-gelar dan kedudukan Mirza
Ghulam? Padahal pengikut-pengikut Ahmadiyah sendiri
meresapkan ke dalam dada mereka seluruh pendakwaan
pemimpinnya itu. Dan bagaimana mungkin, padahal untuk
pangkat-pangkat itulah justru Mirza Ghulam Ahmad muncul di
tengah-tengah kaum Muslimin, dengan berbagai-bagai alasan
demi kepentingan dirinya. Bahkan dalam keterangan-keterangan
pendakwaannya itu, Mirza Ghulam maupun Ahmadiyahnya membuat
suatu surprise di kalangan kaum Muslimin, dengan
mengemukakan dalil-dalil al-Quran dan Hadits, meskipun
cara-cara pemakaian maupun pengertiannya, sangat
dipaksa-paksakan.
Catatan kaki:
1 Naseem Saifi, Our Movement, hal. 8.
2 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan-tuduhan
Ustadz Bakry Wahid B.A. Ujung Pandang, Djema’at
Ahmadiyah Indonesia, 1972, hal. 4.
3 Syed Abdul Wahid, Thoughts and Reflections of Iqbal,
hal. 269: (Suffice it to say that the real nature of
Ahmadism is hidden behind the mist of mediaeval
mystcism and theology. The Indian Ulama, therefore took
it to be a purely theological movement and came out
with theological weapons to deal with it. I believe,
however, that this was not the proper method of dealing
with the movement; and the success of the Ulama was,
therefore only partial.”)
4 Gibb, Aliran-aliran Modern dalam Islam, terjemah L.E.
Hakim, Jakarta Tinta Mas 1954, hal. 77.
5 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah di mata orang lain, hal. 7.
6 Saleh A.,Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
Bakry! hal. 14.
7 Majallah bulanan Ahmadiyah, Sinar Islam, Jajasan
Wisma Damai, no. 13 th. XV/1965, hal. 34 dan lihat
Saleh Nahdi, Ahmadiyah membantah Wahid Bakry, hal. 99.
NOTE: di majalah Sinar Islam tersebut Ahmadiyah
menyebut angka 75 pecahan ummat Islam, akan tetapi di
batahan atas Wahid Bakry, 73 saja, manakah yang dipakai
oleh Ahmadiyah dari dua angka yang berbeda itu?
8 Tempo, 24 Sept. 1974, no. 29, Jakarta Grafiti Pers
hal. 3/ 50.
2.4 MIRZA GHULAM AHMAD DUPLIKAT SIR SYED AHMAD KHAN
Success yang dicapai Ahmadiyah mungkin dapat mengaburkan
pandangan kaum muslimin akan tetapi tidak demikian pada
pandangan Ulama-ulama. Justru sebaliknya, dari success yang
dicapai Ahmadiyah itu timbullah kecurigaan Ulama-ulama
terhadapnya. Kelahirannya yang baru kemarin, bangunnya yang
kesiangan dan daerah-daerah yang dibabatnya bukan hutan
lagi, adalah sebab-sebab diantara sebab timbulnya rasa
curiga.
Usaha-usaha untuk mengenal Ahmadiyah telah disiapkan dengan
baik oleh penulis-penulis India, Pakistan, maupun di luar
kedua negara itu. Akan tetapi sebagaimana dikatakan oleh
Muhammad Iqbal, bahwa cara-cara mereka memperkenalkan masih
belum memuaskan karena methode-methode yang dipakai untuk
itu kurang effektif.
Jelaslah kiranya, bahwa untuk mengetahui “Apa dan Siapa
Ahmadiyah” sampai kepada lubuk dasarnya, pada hakikat
dirinya latar belakang munculnya, kekuatan berpijaknya serta
bayangan tempat berteduhnya, akan memerlukan ketekunan
menggarap dan ketelitian menelaah kitab-kitab Ahmadiyah baik
yang Qadiani maupun yang Lahore. Alhasil kita harus masuk
liwat belakang dari pintu dapur Ahmadiyah, dimana masakan
Mirza Ghulam Ahmad ini, digarap.
Nama “AHMADIYAH” bukan pertama kalinya ada setelah Mirza
Ghulam Ahmad membentuk atau mengadakannya. Jauh-jauh sebelum
Mirza Ghulam dikenal, nama Ahmadiyah itu telah ada. Ketika
Mirza Ghulam masih bocah jadi masih belum ada apa-apa
padanya, Sir syed Ahmad, Khan (1817-1898) pendiri Aligarh
yang mashur itu, pada tahun 1842 membukukan hasil-hasil
kuliyah-kuliyahnya dengan judul: “Al-Khutbatu-Al-Ahmadiyah”
Ketika itu Mirza masih berumur kurang lebih tujuh tahun.
Bahkan jauh-jauh lagi di belakang syed Ahmad Khan, kira-kira
600 tahun sebelum Mirza Ghulam lahir, nama Ahmadiyah itu
telah ada. Syed Ahmad al-Bedawi, seorang pejuang Islam yang
mashur, mendirikan suatu Thariqat yang menggunakan nama
beliau sendiri, ialah Ahmadiyah atau Bedawiyah.1
Bagi Mirza Ghulam Ahmad, adalah lebih tepat bila gerakannya
itu memakai nama “Mirzaiyah” atau “Qadianiah.” Tetapi ia dan
pengikut-pengikutnya tidak menghendaki nama-nama itu.
Berkata seorang tokoh Ahmadiyah:
“Nama ‘Ahmadiyah Qadian’ itu selalu digunakan oleh
orang-orang yang memusuhi Ahmadiyah. Jadi bukan nama yang
tepat beliau ambil sesuai dengan kebenaran tetapi yang made
in orang lain itu yang dipilihnya. Jujurkah begini? Bukankah
ini karena sentimen, dengki,’ dan benci?”2
Maka yang benar ialah yang resmi digunakan oleh orang-orang
Ahmadiyah sendiri terhadap gerakannya yakni gerakan
Ahmadiyah atau Ahmadiyah movement. Nama inilah yang sering,
ditulis dalam sejarah pergerakan Islam, sebagai suatu
gerakan yang bermerk Islam, merek yang telah dipasang oleh
Mirza Ghulam Ahmad dan pengikut-pengikutnya.
Penilaian terhadap aliran ini oleh orang-orang di luar
Ahmadiyah, sebagaimana telah disebutkan, akan sedikit banyak
mengambil tempat di sini. Di antara mereka yang tidak boleh
ditinggalkan begitu saja ialah penilaian Prof. H.A.R. Gibb;
beliau berkata tentang Ahmadiyah:
“Gerakan Ahmadiyah mulai melangkah sebagai suatu
pergerakan Liberal dan gerakan pembaharuan yang
bersifat damai yang membawa minat ke arah satu langkah
baru kepada mereka yang sudah kehilangan kepercayaannya
dalam Agama Islam yang tua. Pendiri gerakan ini, Mirza
Ghulam Ahmad tidak saja mengaku sebagai Mahdi dari
Islam dan sebagai Messiah dari Kristen akan tetapi
jtaga sebagai penjelmaan (Avatar) dari Khrisna.”
Gibb kemudian menambah lagi:
“Bahwa gerakan Ahmadiyah ini adalah gerakan Sinkretis
sebagai reaksi terhadap gerakan Aligarh, dimana Mirza
Ghulam Ahmad menuntut sebagai pembawa wahyu untuk
mentafsirkan baru Islam bagi keperluan zaman baru “3
Demikian ulasan Prof. Gibb. Yang perlu digaris-bawahi dari
ucapan-ucapan beliau, diantaranya ialah bahwa gerakan
Ahmadiyah adalah gerakan Sinkretis sebagai reaksi terhadap
gerakan Aligarhnya Sir syed Ahmad Khan.
Lebih terarah lagi pada wujud yang sebenarnya dari
Ahmadiyah, ialah penilaian Pujangga Islam Muhammad Iqbal.
Beliau berkata:
“Di Barat daya India, negeri dimana keadaan maupun
kondisinya lebih orisinil, primitip dari negeri-negeri
lain di Indla, gerakan yang dilahirkan Sir syed Ahmad
Khan segera mendapat reaksi serta ditandingi dan
diikuti dengan seksama oleh suatu gerakan baru, yakni
Ahmadiyah Mirza Ghulam Ahmad, suatu aliran mistik yang
aneh, mencakup mistik-mistik bangsa Smit dan Arya,
dimana ajaran-ajarannya tidak lagi mementingkan
keutamaan jiwa yang bersih sebagaimana lazimnya pada
ajaran-ajaran sufi, melainkan terarah dan terpusat pada
cita-cita dan kepuasan seseorang yangmengaku dirinya
sebagai Messiah yang dijanjikan.”4
Kemudian lebih tertuju pada orangnya daripada alirannya,
ialah penilaian seorang penulis muslimah dan sufiyah yang
mashur Maryam Jameelah. Beliau berkata tentang Mirza Ghulam
Ahmad:
“Bahwa hampir semua langkah-langkah, cara-cara maupun
idea-idea Sir syed Ahmad Khan, diambil oleh Mirza
Ghulam dan diterapkan dengan seksama, sambil
menyelipkan fatwa bahwa jihad melawan Inggris adalah
kejahatan yang terkutuk.”5
Dari penilaian-penilaian tersebut di atas terhadap Mirza
Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya , ternyata nama Sir syed Ahmad
Khan selalu ada dan disebut-sebut sebagai tokoh yang
mendahului Mirza Ghulam dalam segala aspek. Hal ini
mendorong kita untuk mengenal lebih dahulu pendiri Aligarh
tersebut sebelum sampai pada pendiri Ahmadiyah. Kendati dari
pihak Ahmadiyah jelas tidak membenarkan apa yang dinyatakan
oleh Gibb, Iqbal, dan Jameelah terhadap diri Mirza Ghulam
dan alirannya, akan tetapi tidaklah dapat diabaikan begitu
saja kebenaran-kebenaran dari ucapan-ucapan mereka itu.
Mungkin Mirza Ghulam Ahmah tidak pernah duduk di bangku
sekolahnya syed Ahmad Khan, dan mungkin juga ia bukan murid
Sir syed, namun tidaklah berlebih-lebihan untuk mengatakan
di sini, bahwa menarik kesimpulan dari ucapan-ucapan
tokoh-tokoh di atas, jelas bahwa Mirza Ghulam Allmad telah
berguru pada syed Ahmad Khan secara absentia.
Karenanya mengenal Mirza Ghulam Ahmad melalui suatu langkah
perkenalan pada syed Ahmad Khan, adalah jalan yang enak
ditempuh serta memudahkan.
Catatan kaki:
1 lih. Gibb, Islam dalam Lintasan sejarah, hal. 130.
2 lih.Saleh A. .Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan
Wahid Bakry, hal.88
3 lih.Gibb, Islam dalam lintasan sejarah hal.153, dan lih:
Gibb, Aliran-aliran Modern dalam Islam, 1954, Jakarta,
Tinta Mas, terjemah L.E. Hakim, hal.77
4 lih syed Abdul Vahid, Thoughts and Reflections of Iqbal,
hal.277: (“in the north-West of India, a Country more
primitive and saint-ridden than the rest of India, the
syed’s movement was soon followed by reaction of
Ahmadism – a strange mixture of Semetic and Aryan
mysticism with whom spiritual revival consist not in
the purification of the individuals inner life
according to the principles of the old Islamic sufism,
but in satisfying the expectant attitude of the masses
by providing a promised Messiah”)
5 lih. Maryam Jameelah, Islam and Modernism, 1968,
Lahore-Mohammad Yusuf Khan, hal.54: (“Mirza Ghulam
Ahmad followed faithfully in the footstep of his
Master. In declaring it most desirable to shed one’s
blood in the cause of British imperialism but
condemning jihad as a crime, he was merely carrying
sayyid Ahmad Khan’s ideas to their logical conclusion).
2.5 SIR SYED AHMAD KHAN
Dilahirkan di Delhi pada tanggal 27 Oktober 1817, wafat di
Aligarh tahun 1898, dalam usia 81 tahun. Ayah beliau bernama
syed Muhammad Muttaqi dan kakek beliau bernama syed Hadi.
Pada usia lebih dari tiga-perempat abad itu, benar-benar
merupakan tahun-tahun yang dijalani syed Ahmad dengan penuh
pengabdian serta pengorbanan buat bangsanya. Semenjak usia
yang masih muda, beliau sudah produktif dalam segala aspek
ilmu pengetahuan, seperti ilmu sejarah, politik, hukum,
Agama dan kesusasteraan. Tafsir Al-Qur,an buah karyanya yang
tiada tandingannya itu, telah memberikan kesegaran iman
serta daya kreatif buat sarjana-sarjana Muslim serta
generasi-generasi sesudahnya.
Dalam kegiatan sehari-hari beliau adalah seorang pegawai
sipil dalam pemerintahan Inggris yang berkuasa di India
waktu itu. Akan tetapi lingkungan gerak syed Ahmad Khan
bukan hanya pulang-pergi kantor saja; beliau jauh daripada
itu. Beliau adalah contoh figur pejuang yang tak kenal
letih. Seorang teoritis dan sekaligus seorang realis.
Penelitiannya yang tajam pada situasi dan kondisi bangsanya
yang berada dalam penjajahan Inggris; pengalaman-pengalaman
hidupnya tatkala terjadi perang tahun 1857, dimana kaum
Muslimin hancur berantakan dan berada dalam tragedi hidup,
semua itu telah menggerakkan syed Ahmad pada jalan lepas
yang mengagumkan.
Lebih-lebih lagi setelah kembali dari perjalanannya ke
Inggris tahun 1869 itu, syed Ahmad Khan mendapatkan
saudara-saudaranya dalam keadaan parah, terbelakang, dan
rasa rendah diri.
Dengan diagnose yang jelas itu, syed Ahmad berjuang untuk
perbaikan-perbaikan yang menyeluruh. Lebih dahulu beliau
mengajak kaum Muslimin agar bersikap loyal kepada penguasa
Inggris. Beliau memberi contoh bagaimana nabi Yusuf a.s.
bersikap Ioyal bahkan duduk dalam pemerintahan Fir’aun yang
kafir itu.1 Bagi syed Ahmad, suatu bangsa yang dikalahkan
harus menyiapkan waktu yang lama untuk dapat tegak kembali,
dan hal ini tidak cukup dijalani hanya dengan satu jalan
kekerasan saja, melainkan suatu perjalanan damai yang
effektif haruslah ditempuh. Cara-cara beliau ini merupakan
jalan terbaik dan konstruktif yang benar-benar dapat
dirasakan manfaatnya oleh kaum Muslimin India serta generasi
sesudahnya.
Meskipun demikian sikap syed Ahmad Khan, beliau tidak pernah
menyembunyikan kepribadian Muslimnya. Terhadap
Missionaris-missionaris Kristen yang berusaha menggoncangkan
iman generasi muda Islam, beliau tidak tanggung-tanggung
melawannya. Ketika Sir Muir menerbitkan tulisannya tentang
pribadi Nabi Muhammad s.a.w. sebanyak empat jilid, dimana
isinya merupakan senjata penghinaan terhadap Islam dan
RasulNya, sehingga kitab Muir tersebut dipakai oleh Dr.
Pfandar, seorang zending Kristen yang militant, untuk
mengkocar-kacirkan pemuda-pemuda Islam, maka segera
bangkitlah syed Ahmad Khan dengan sanggahan-sanggahan yang
gemilang. Beliau telah terbitkan jawaban-jawaban atas
tulisan Muir itu, dengan judul: Al-Khutbat -ul-Ahmadiyah,
yang merupakan senjata pengobrak-abrik dasar-dasar dari
tulisan Muir.
Ketika Komisaris pembagian Benares, tuan Shakespeare,
sahabat beliau, menawarkan sebidang tanah serta uang untuk
diri beliau dan keluarga, Syed Ahmad Khan dengan tegas
menolak pemberian itu, bahkan beliau merasa tersinggung
serta tertusuk hati.
“Bagaimana saya harus menerima hadiah itu, kata beliau
dalam pidatonya tanggal 28 Desember I889, ketika
membuka konperensi pendidikan bagi semua muslim India,
bagaimana saya harus menjadi tuan tanah, padahal itulah
penghinaan vang berat buat saya, justru di saat
bangsaku berada dalam penderitaan yang hebat.”2
Apa yang telah beliau saksikan sendiri dalam peperangan
tahun 1857, juga yang terjadi di Khanam Bazar, Balakot dan
di daerah-daerah lainnya, dimana kaum muslimin dibinasakan,
tidak dapat lenyap selamanya dari ingatan syed Ahmad. Ketika
negara berada dalam hukum militer, Ahmad Khan telah berbuat
sesuatu yang amat membahayakan keselamatan dirinya. Dengan
keberanian yang luar biasa ia menerbitkan pamphlet dengan
judul: “Penyebab timbulnya revolusi bangsa India.”
Beliau membuka terang-terangan kesalahan-kesalahan
Penguasa-penguasa Inggris terhadap anak negeri India,
terutama dan terlebih-lebih terhadap kaum Musliminnya.
Phamplet itu beliau sebarkan kemana-mana, bahkan sampai
terbaca oleh anggauta-anggauta Parlemen di Inggris. Demikian
pula ketika Sir W.W. Hunter menulis buku yang berjudul:
“Orang-orang Islam India adakah mereka terikat kesadaran
terhadap pembrontakan melawan Ratu!”3 Syed Ahmad Khan telah
menjawabnya dengan suatu pandangan yang menakjubkan.
Karier syed Ahmad yang gemilang itu telah membuka kesadaran
kaum Muslimin India. Penyair yang mashur, Maulana Hali,
penulis riwayat hidup syed Ahmad Khan, mencatat suatu
peristiwa tahun 1867, ketika beberapa orang Hindu dari
Benares dengan sepenuh daya upaya mengusulkan penghapusan
bahasa Urdu dan tulisan Persia dalam kantor pemerintahan
serta memasukkan sebagai gantinya bahasa Bhasa (suatu logat
Hindu) yang bertuliskan Sankrit.
Syed Ahmad Khan seorang pengawas situasi yang tajam serta
cepat menangkap makna dan tujuan dari orang-orang Benares
itu, merasa terkejut dan menyadari bahwa tidaklah mungkin
kiranya bagi orang-orang Muslim dan Hindu untuk bersatu.
Dari peristiwa itulah lahirnya satu benih baru yang kemudian
tumbuh menjadi suatu gagasan dan akhirnya terlaksana kelak
menjadi suatu negara untuk orang-orang Islam (Pakistan).
Apa yang telah beliau tempuh sebagai suatu cara terbaik
konstruktif serta sangat dirasakan manfaatnya oleh bangsa
Islam India, ialah dibinanya suatu pendidikan yang
menyeluruh bagi semua tingkatan Muslimin. Ketika beliau
pindah dari Ghazipur ke Aligarh pada bulan April 1864, syed
Ahmad Khan memindahkan seluruh kekayaan yang dimilikinya dan
diserahkan untuk masyarakat ilmu pengetahuan Aligarh.
Putera beliau yang mashur, syed Mahmud Ahmad, seorang ahli
hukum, cendikiawan, saling bahu membahu dengan ayahnya dalam
merintis suatu pendidikan buat semua Muslimin. Melalui
Aligarhnya yang terkenal itu terbukalah jalan lempang bagi
keluasan aspirasi dan dinamika kaum Muslimin maupun bangsa
India. Dari Aligarh Universitynya syed Ahmad Khan kelak
lahir suatu badan pendidikan bagi Muslim India, menyusul
,gerakan Universitas Muslim India, kemudian Liga Ummat Islam
India. Semua itu telah mengangkat kepribadian Muslims, harga
diri, serta semangat untuk berjuang. Suatu kemustahilan
logika di atas tanah jajahan Inggris, telah terjadi di
India. Realita yang menggembirakan kaum tertindas muslimin,
hasil jerih-payah syed Ahmad Khan.
Tokoh-tokoh Pujangga besar Urdu seperti Nasir Ahmad, Shibli,
Hali, Zakaullah, Wahiduddin Salim, Abdul Halim Sharar, Dr.
Maulvi Abdul Haq, Zafar Ali Khan, Hazrat Mohani, dan
lain-lain adalah alumni-alumni Universitas Aligarh syed
Ahmad Khan. Pujangga besar Pakistan, DR. Mohammad Iqbal,
menulis tentang syed Ahmad Khan:
“Pengaruh dari syed Ahmad meluas ke seluruh India.
Beliaulah kiranya seorang modernisir yang dengan tangkasnya
menangkap kilatan sinar dari watak zaman yang datang. Obat
mujarrab bagi tubuh Islam yang sakit, telah diberikan oleh
beliau, sebagaimana di Russia diberikan oleh Mufti Alam Jan.
Obat mana tidak lain ialah pendidikan buat setiap Muslim.
Akan tetapi letak kebesaran yang sesungguhnya dari syed
Ahmad Khan, ialah bahwa beliaulah Muslim India yang pertama
kali nnerasakan perlunya pembaharuan alam pemikiran kaum
Muslimin, dan beliau pulalah orang pertama yang
melaksanakannya. Kita boleh saja berbeda pendapat dalam
masalah Agama dengan beliau, akan tetapi kita tidak bisa
menolak suatu kenyataan dari beliau, bahwa pengabdiannya
yang tulus Ikhlas itu, telah menjadikan zaman kehidupan
ummat Islam semerbak harum.”4
Catatan kaki:
1 lih. Maryam Jameelah, Islam and Modernism, hal. 50/54: (In an attemp to reconcile political servility to Islam, Sir sayyid Ahmad Khan cited the example of Yoseph who served the Egyptian Pharaoh loyally and obediently even though the latter was not a Muslim.”)
2 lih.Jamil-ud-Din Ahmad, Early Phase of Muslim Political Movement, 1967, Publishers United Ltd. Lahore, hal.42: (When my late mented friend, mr. Shakespeare, whose I shared and who share mine, wished to give me the taluka of Jahanabad belonging to a prominent family of syeds and yielding an annual income of over one lakh rupees my hearth was deeply grieved. I said to my self no one would be more despicable then I if, at a time when my nation was facing.ruin I should become a talukadar (lanlord) by acception this property. I refused to accept it and said that I had no intention of stayins in India. This was a fact.”)
3 lih. Haroon Khan Sherwani, Islam Tentang Administrasi Negara, Jakarta, Tinta Mas, terjemah M.Arief Lubis, 1964, hal.l98: (The Indian Muhammedans, are they bound in conscience to rebel against the Queen.”)
4 lih.The influence of Sir syed Ahmad Khan remained on the whole confined to India. It is probable, however, that he was the first modern Muslim to catch a glimpse of the positive character of the age which was aoming.
The remedy for the ills of Islam proposed by him, as by
Mufti Alam Jan in Russia, was modern education. But the
real greatness of the man consists in the fact that he
was the first Indian Muslim who felt the need of a
fresh orientation of Islam and worked for it. We may
differ from his religious views, but there can be no
denying the fact that his sensitive soul was the first
to react to the modern age.”) hal. 277, syed Abdul
Vahid, Thoughts and Reflections of Iqbal.
2.6 METODE PENDEKATAN
Itulah tokoh syed Ahmad Khan, seorang diri merencanakan dan
mencetuskan satu revolusi zaman baru bagi ummat Islam India.
DR.J.M.S. Baljon, seorang sarjana bangsa Belanda berkata:
“Syed Ahmad Khan telah merencanakan dan melakukan
pemberontakan (mutiny) India yang kedua.”1
Maka sungguh tidak patut dan keliwat batas bila pendiri Aligarh itu, hendak disejajarkan atau ditandingkan dengan pendiri Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad. Bagaimana hendak ditandingkan, syed ahmad Khan seorang realis tulen dengan Mirza Ghulam seorang khayalis itu? Bahkan tidaklah patut untuk mengatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad telah berguru secara absentia pada syed Ahmad. Jauh dari pada berguru, Mirza Ghulam hanyalah seorang plagiat besar penunggang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan situasi di India. Ia tidak lebih dari seorang pencuri buah-buah dari hasil
tanaman perjuangan pejuang Muslimin.
Untuk kepentingan Islam dan ummatnya misalnya, Mirza Ghulam Ahmad menciptakan gagasan-gagasan yang mustahil dan tampaknya lebih merupakan kisah-kisah advonturir daripada
cerita-cerita yang menggelikan. Di antara kissah-kissahnya
yang menarik ialah, Mirza Ghulam Ahmad harus menjadikan
dirinya lebih dahulu, sebagai Al-Mahdi, Al-Masih, Kreshna,
dan last but not least sebagai Nabi dan Rasul. Andaikata
masih hendak dicari persamaan- persamaan dengan syed Ahmad
Khan dan syed Ahmad Al-Bedawi, maka memang ada juga
persamaan-persamaannya. Nama Ahmad kebetulan sama, nama
putranya yang terkenal sebagai penerus juga sama, yaitu
Mahmud Ahmad; dan nama aliran yang dimiliki mereka sama,
Ahmadiyah. Hanya itu saja persamaan-persamaannya.
Akan tetapi tidak demikian pada spirit, perjuangan, maupun
ajaran-ajaran mereka itu. Kita sudah tahu perjuangan syed
Ahmad Khan, juga perjuangan syed Ahmad Al-Bedawi, yang
semasa hidupnya mengadakan perlawanan dan peperangan yang
sengit terhadap penyerbu-penyerbu kaum salib dalam perang
salib yang ketujuh .
Sedangkan Mirza Ghulam Ahmad adalah sebaliknya, ia dan
Ahmadiyahnya berlindung teduh di bawah naungan salibisme.
Sejarah hidup Mirza dan keluarganya serta gerakannya akan
membuktikan sendiri keterlibatannya itu.
Mungkin perkenalan terhadap Mirza Ghulam Ahmad dan
Ahmadiyahnya, ini masih garis-garis besarnya saja atau masih
serba samar dan tidak to the point. Maka untuk menuju pada
persoalan-persoalan yang lebih jauh, dan lebih lengkap dari
sejarah Mirza Ghulam dan Ahmadiyahnya, methode-methode yang
dianjurkan oleh DR. Muhammad Iqbal akan lebih membantu
sepenuhnya.
Methode beliau yang pertama ialah: Menyusuri jejak-langkah,
sepak-terjang, maupun tingkah laku Mirza Ghulam Ahmad,
ajaran-ajarannya, contoh-contoh wahyu yang ia terima dari
Tuhannya, dan jika ditambah lagi, kehidupan keluarganya.
Methode lainnya, yang juga penting dan effektif ialah,
mencari dan menggarisbawahi letak-letak Ahmadiyah dan
pendirinya di dalam mata rantai sejarah kaum Muslimin India,
sebelum abad keduapuluh, atau meneliti situasi dan kondisi
Muslim India dalam abad kesembilanbelas itu, sejak jatuhnya
Sultan Tipu.2
Dengan methode-methode yang dianjurkan Iqbal itu, perkenalan
pada tokoh yang empunya cerita di sini, MIRZA GHULAM AHMAD,
sampai pada lubuk dasarnya.
Catatan kaki:
1 lih.Jamil-ud-din Ahmad, Early of Muslim political
Movement, hal.136.
2 lih. syed Abdul Vahid, Thoughts and Reflections of
Iqbal, hal. 269:,(A Careful Psychological analysis of
the revelations of the founder would perhaps be an
effective method of dissecting the inner life of his
personality …
Another equally effective and more fruitful method,
from the standpoint of the plain man, is to understand
the real content of Ahmadism in the light of history of
Muslim theological thougt in India, at least from the
year 1799. The year 1799 is extremely important in
history of the world of Islam. In this year, fell Tippu
and his fall meant the extinguishment of Muslim hopes
for political prestige in India; and I do hope that one
day some young student of modern psychology will take
it up for serious study.)
3.1 IDENTITAS SANG PEMIMPIN
Nama dan keturunan: Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah,
mempunyai banyak nama dan keturunan. Suatu keistimewaan buat
dia, konon semua itu diperoleh dari Tuhannya. Bahkan yang
lebih menarik lagi, Mirza Ghulam Ahmad menguasai banyak
bahasa, antaranya: Bahasa Urdu, Inggris, Arab, Parsi, dan
bahasa Ibrani. Dengan bahasa-bahasa itulah ia berdialog
dengan Tuhannya.
Puteranya yang mashur, Bashiruddin Mahmud Ahmad (1899-1965)
yang menduduki tahta khalifah kedua dalam jema’at Ahmadiyah,
menulis tentang saat-saat kelahiran ayahnya, sebagai
berikut:
“Hazrat Ahmad a.s. lahir pada tanggal 13 Pebruari 1835
sesuai dengan 14 Syawal 1250 hijrah, hari Jum’at pada
waktu shalat shubuh, di rumah Mirza Ghulam Murtaza di
desa Qadian. Beliau lahir kembar, yakni beserta beliau
lahir pula seorang anak perempuan yang tidak berapa
lama meninggal dunia. Demikianlah sempurna kabar ghaib
yang telah ada dalam buku-buku Agama Islam, bahwa Imam
Mahdi akan lahir kembar.”2
Demikian Bashiruddin M.A. menceritakan kelahiran ayahnya.
Yang menjadi pertanyaan disini ialah, oleh siapa dan pada
siapa kabar ghaib lahir kembar itu telah disampaikan?
Kemudian dalam buku-buku Agama Islam yang mana kabar itu
dimuat?
Kiranya Bashir M.A. dan Ahmadiyahnya tidak berhasrat atau
kurang perlu untuk menyebut nama orang-orang maupun
buku-buku yang berkenaan dengan kabar ghaib dan lahir kembar
itu.
Lebih lanjut perihal nama-nama yang dimiliki Mirza Cihulam
Ahmad, Bashiruddin maupun Ahmadiyah berkata:
“Asal nama beliau hanyalah Ghulam Ahmad, atau nama
lengkap (full name) beliau adalah Ghulam Ahmad.”3
Kemudian terdapat di depan Ghulam Ahmad, sebuah nama lagi
ialah Mirza. Dengan demikian nama kepanjangannya menjadi
Mirza Ghulam Ahmad. Di antara ketiga sebutan tadi, hanya
Ghulam sajalah yang tidak diperbincangkan. Sisanya yakni
Mirza dan Ahmad, merupakan nama-nama yang mengandung
didalamnya arti dan tujuan yang istimewa.
Menurut Bashiruddin Mahmud Ahmad, perkataan atau sebutan
nama MIRZA adalah untuk menyatakan bahwa ayahnya keturunan
dari MUGHAL (Moghol). Bashiruddin melanjutkan bahwa ayahnya
itu adalah keturunan haji Barlas, raja daerah Kesh, yang
jadi paman Amir Tughlak Taimur.4
Disinilah kiranya kena keturunan Moghol Mirza Ghulam Ahmad.
Lebih lanjut Bashiruddin menulis:
“Dalam tahun-tahun yang akhir dari kerajaan Keiser
Babar, yakni pada tahun 1530 masehi, seorang Moghol
bernama Hadi Beg meninggalkan tanah tumpah darahnya
ialah Samarkhand dan pindah ke daerah Gurdaspur di
Punjab.”5
Hadi Beg inilah yang mendirikan kota Qadian, tempat lahirnya
Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya. Hadi Beg adalah
termasuk dalam urutan yang keduabelas ke atas dari
kakek-kakek Mirza Ghulam. Akhirnya lebih meyakinkan lagi
tentang keturunan mogholnya itu, ayah Mirza Ghulam Ahmad,
Mirza Ghulam Murtaza memberi tahu anaknya bahwa nenek-nenek
moyangnya adalah dari keturunan Moghol.6
Demikian kesaksian sejarah Ahmadiyah tentang darah Moghol
yang, mengalir dalam tubuh Mirza Ghulam Ahmad. Sayang bahwa
darah Moghol ini tidak menjadi kebanggaan bagi yang empunya
maupun bagi Ahmadiyahnya. Mungkin dikarenakan arti maupun
tujuan dari darah itu kurang atau tidak istimewa, atau
samasekali tidak berarti.
Alasannya bisa diduga-duga mengapa darah Moghol sampai
diabaikan begitu saja. Yang penting untuk diketahui ialah,
bahwa setiap nama maupun keturunan yang dimiliki Mirza
Ghulam Ahmad, bahkan gelar-gelarnya sekalipun, datangnya
dari pemberian Tuhannya. Itulah sebabnya meskipun
kenyataannya darah Moghol mengalir dalam tubuh Mirza Ghulam,
akan tetapi karena bukan dari pemberian Tuhan, maka Mirza
segera menumpangi kwalitet Mogholnya itu dengan darah lain
yang baru. Ia berkata:
“Aku mendengar dari ayahku bahwa kakek-kakekku berdarah
Moghol, akan tetapi aku mendapat wahyu dari Tuhan,
bahwa kakek-kakekku berdarah Parsi.”7
Dengan perkataan “akan tetapi,” lebih-lebih lagi ditambah
dengan “mendapat wahyu dari Tuhan” maka praktis kata-kata
atau ucapan ayah Mirza Ghulam tentang darah Moghol, menjadi
lemah atau bisa gugur!
Seringkali diketemukan dalam ucapan-ucapan tokoh-tokoh
Ahmadiyah adanya pertentangan satu dengan yang lain. Bahkan
kadangkala seorang pimpinan Ahmadiyah berkata tentang
sesuatu hal atau masalah, di lain kesempatan orang tersebut
merobah atau mengganti ucapannya yang semula. Misalnya dari
ucapan-ucapan khalifah kedua Ahmadiyah, Bashiruddin Mahmud
Ahmad. Mula-mula ia berkata bahwa perkataan “Mirza” pada
nama ayahnya, menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah
dari keturunan Moghol. Akan tetapi di lain kesempatan ia
berkata:
“Perkataan “Mirza” di dalam namanya Hazrat Mirza Ghulam
Ahmad a.s. menunjukkan bahwa beliau a.s. adalah
keturunan orang Parsi.”8
Pernyataan Bashir yang bertentangan itu telah menimbulkan
keragu-raguan. Bagaimana ia bisa berkata bahwa perkataan
Mirza pada nama ayahnya, adalah untuk menyatakan keturunan
dari Moghol, akan tetapi di lain kitab ia menyatakan bahwa
perkataan Mirza, adalah menyatakan keturunan Parsi?!
Jelas bahwa ucapan-ucapan Bashiruddin tersebut, tidak beres.
Akan tetapi bagi Ahmadiyah hal-hal seperti itu mudah
diselesaikan, bahkan dengan cara-cara yang simple. Jika
Bashir mula-mula menyatakan bahwa Mirza adalah keturunan
Moghol, kemudian ia menyatakan di lain kitab bahwa Mirza
adalah keturunan Parsi, maka Ahmadiyah menjelaskan:
“Adapun Mirza adalah nama kepangkatan dan suku dari
nenek-moyang beliau. Beliau adalah keturunan Parsi dan
keturunan Bangsawan.”9
Di sini Ahmadiyah membuktikan bahwa Mirza Ghulam Ahmad
memiliki dobel keturunan, Moghol dan Parsi. Untuk
membereskan makna dobel keturunan, maka Ahmadiyah menegaskan
lagi:
“Pendiri Jema’at Ahmadiyah, Hadrat Mirza Ghulam Ahmad,
berasal dari keluarga terhormat. MIRZA adalah gelar
yang biasa diberikan kepada kaum ningrat keturunan
raja-raja Islam dinasti Moghol berasal dari Parsi.”10
Demikianlah cara pemberesannya; raja-raja Islam dinasti
Moghol yang berasal dari Parsi. Dengan susunan kalimat yang
demikian, maka kesulitan yang terdapat pada dua buah tulisan
Bashir yang berbeda, telah terpecahkan.
Lebih jelas lagi ialah, bahwa keturunan dalam darah yang
mengalir dalam tubuh pendiri Ahmadiyah itu, hanyalah darah
Moghol saja. Sedangkan keturunan Parsi yang dimiliki Mirza
Ghulam tidak lain kecuali tempat, domisili, dimana
kakek-kakeknya tinggal berdiam. Dengan kata lain, Mirza
Ghulam Ahmad keturunan Moghol dari Parsi.
Namun demikian Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya lebih
mengutamakan tempat asal kakek-kakeknya daripada darah yang
mengalir dalam tubuh mereka. Parsi lebih penting dari
Moghol, sebab di dalam Parsi itulah kepentingan Mirza Ghulam
Ahmad dan Ahmadiyahnya, terletak. Dari keturunan Parsi
terletak makna dan arti maupun tujuan dari sebuah Hadits,
yaitu pada saat Nabi Muhammad s.a.w. sambil menaruh tangan
beliau kepundak sahabat Salman Al Parisi, bersabda:
“Sekiranya keimanan menggantung di bintang tsuraya,
niscaya akan dicapai oleh laki-laki dari Parsi.”
Mirza Ghulam Ahmad berkeyakinan bahwa yang dimaksud dan
dituju dari sabda Nabi Muhammad s.a.w., tidak lain ialah
untuk dirinya, karena dialah anak Parsi itu. Bahkan Tuhan
memberi wahyu padanya:
“Pegang teguhlah iman itu wahai anak Parsi.”11
Sudah jelas bahwa Mirza Ghulam dan alirannya bertekad
sebagai yang empunya hak mutlak atas sabda Nabi s.a.w.
tersebut. Benarkah mereka berhak, benarkah Mirza Ghulam
Ahmad yang dituju sabda Nabi Muhammad s.a.w.?
Padahal Mirza Ghulam Ahmad bukan keturunan Parsi, ia
keturunan Moghol. Lebih-lebih lagi ia kelahiran India,
berdomosili di India. Bahkan ayahnya maupun kakek-kakeknya
sampai kepada Hadi Beg kakeknya yang keduabelas itu, berada
di India. Abad enam-belas masehi mereka sudah di Hindustan.
Sudah hampir tiga ratus tahun kakek-kakek Mirza Ghulam
berurat berakar di India. Tigaratus tahun jauh daripada
cukup untuk memberi titel pada ayah dan Mirza Ghulam Ahmad
maupun pada kakek-kakeknya sebagai pribumi India. Ia harus
dipanggil, tidak dengan panggilan “ya
ibna-Al-Faras”melainkan dengan panggilan “ya ibnul Hind”
wahai anak Hindustan.
Cara-cara yang ditempuh Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya
mengambil Hadits tersebut di atas buat mereka, jelas
merupakan pengingkaran mereka terhadap sejarah serta memutar
balikkan makna dan tujuan yang sebenarnya dari Hadits
tersebut.
Padahal tidak perlu menunggu sampai 1200 tahun kemudian
serta memilih negeri India sebagai tempatnya, untuk
menemukan maupun menunjuk orang yang dimaksud dan dituju
dari sabda Nabi Muhammad s.a.w. tersebut. Justru pada
saat-saat itulah dan di tempat Nabi bersabda makna dan
tujuan dari ucapan Beliau terletak adanya.
Sahabat Salman Al-Farisi mempunyai kissah hidup yang unik
serta mengagumkan. Dalam pengembaraannya mencari serta
menemukan iman Tauhid, putera Parsi yang orisinil ini, pergi
meninggalkan tanah tumpah darahnya Parsi, pergi jauh sampai
ribuan mil, melalui proses perpindahan kepercayaan dari
agama syirik menyembah api (zarahustra) pada agama syirik
mentuhankan Isa Al-Masih (Kristen) dan akhirnya sampai pada
Agama Tauhid yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w.
Ketabahan, gairah, tekad, dan revolusi yang bergolak dalam
jiwa Salman Al-Farisi, mencari kepuasan iman, ketentraman
bathin dan sekaligus menemukannya pada diri Rasulullah
s.a.w., telah mendapat pujian langsung dari Nabi sendiri,
liwat sabda Beliau di atas. Bahkan Salman Al-Farisi, telah
memperoleh kedudukan istimewa. Siapa menduga bahwa musafir
dari ribuan mil ini, telah memperoleh derajat “termasuk dari
ahli bait Nabi” serta mendapat jaminan sorga dari
junjungannya.
Catatan kaki:
1 Sincretisme: aliran atau pergerakan yang ingin
mempersatukan seluruh pergerakan yang ada di bawah
pimpinan seseorang.
2 lih. Bashiruddin Mahmud Ahmad, Riwayat hidup hazrat
Ahmad a.s., 1966, Djemaat Ahmadiyah tjabang Djakarta,
hal. 2, terjemah oleh Malik Aziz Ahmad Khan.
3 lih. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, riwayat hidup
hazrat Ahmad a.s., hal.2 dan lih. J.D. Shams. h.a.,
ISLAM, th.?, Ahmadiyya Muslim Foreign Missions Office,
Rabwah, hal. 16 (his full name was Ghulam Ahmad, )
4 lih. M.B.M.A., riwayat hazrat Ahmad a.s., hal. 1/2
5 lih. idem, hal. 6
6 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Istiftha’, 1378 hijrah,
Rabwah Matba’ah an Nasrah. hal. 75: (fi kitab sawaanah
abaaii wa sami’tu min abi an abaaii kaanuu
min-al-jarthumah almuqliyah).
Al-jum’iyat-ul-syrargiyah linasyru-al-kutub-diniyah
Rabwah.
7 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Al-Istiftha’, hal. 75: (wa
lakin Allah auhii ilaa annahum kaanu min bani Fares, la
minal aghwaan turkiyah.)
8 lih. Bashiruddin Mahmud Ahmad, Djasa Imam Mahdi a.s.,
Soerabaya Anjuman Ahmadiyah Departemen Indonesia
(A.A.D.I.) Gemeente, th. 1940, hal. (c)
9 lih. Suara Lajnah Imaillah (majallah kaum ibu
Ahmadiyah), no. 10, th 11-1974, B.P.L.I. (Badan
Penghubung Lajnah Imaillah Indonesia), Yogjakarta,
hal.27.
10 lih. Sinar Islam (majallah Ahmadiyah), no. 5-6,
1974, Jakarta Yayasan Wisma Damai, hal. 26.
11 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Baqdad, Matba’ah
an-Nashrah, Rabwah 1377h., hal. 26.
3.2 IA TELAH DIFIRMANKAN
Maka apa yang telah dilakukan Mirza Ghulam Ahmad dan
Ahmadiyahnya mendominir hadits demi kepentingan memperoleh
pegangan guna memperkuat dirinya, akan selalu dijumpai dalam
setiap obrolan Ahmadiyah. Sampai-sampai pada ayat-ayat
Al-Quran, tidak terlepas dari pemakaian Mirza Ghulam menurut
cara dan selera mereka. Jelasnya, menggxunakan dasar
Al-Qur’an dan Hadits untuk mengukuhkan pegangan dengan jalan
mengartikan dan mentafsirkan menurut kepentingan dan selera
mereka, adalah watak khas serta hobby yang menyolok yang
dimiliki Mirza Ghulam Ahmad, puteranya, pengikut-pengikutnya
maupun alirannya. Kitab-kitab mereka sendiri yang
membuktikan ciri-ciri khas itu.
Beralih kini pada urutan yang ketiga atau yang terakhir dari
nama pendiri Ahmadiyah, yakni nama AHMAD, maka untuk nama
inilah, Mirza Ghulam, puteranya dan alirannya telah membuat
suatu surprise yang tidak tanggung-tanggung, menarik dan
istimewa: Jauh dari pada nama Mirza, nama AHMAD ini
merupakan kebanggaan bagi yang empunya maupun bagi
pengikut-pengikutnya. Menurut puteranya, Bashiruddin Mahmud
Ahmad, bahwa acapkali beliau (Mirza) suka menggunakan nama
Ahmad bagi diri beliau secara ringkas. Maka waktu menerima
bai’at dari orang-orarg beliau hanya memakai nama Ahmad.
Dalam ilham-ilham acapkali Allah s.w.t. suka memanggil
kepada beliau dengan nama Ahmad juga.1
Bagaimana dengan yang empunya nama, Mirza Ghulam? Dengan
perasaan bangga akan namanya, ia berkata:
“Bahwasanya Allah sendirilah yang memberi nama Ahmad,
padaku, ini sebagai pujian untukku di bumi serta di
langit.”2
Mau apa lagi? Kalau Tuhan yang memberi nama padanya, maka
jangan ada orang yang mencoba-coba untuk meragukannya.
Hanya sayang masih ada kekurangan dari ucapan-ucapan Mirza
di atas. Ia maupun Ahmadiyahnya tidak pernah menceriterakan
bagaimana cara Tuhan memberi nama Ahmad itu.
Setidak-tidaknya ayah Mirza Ghulam ataupun kakeknya, pernah
kedatangan ilham atau dapat mimpi atau bagaimana saja, dari
Tuhan Mirza berkenaan dengan nama Ahmadnya.
Kendatipun kisah atau cerita pemberian nama itu tidak ada,
namun itu tidak berarti bahwa pemberian nama dari Tuhan
tersebut, tidak mempunyai bukti. Justru yang paling berkesan
serta meyakinkan, dibuktikan dengan tandas oleh Mirza Ghulam
Ahmad dan alirannya.
Adapun bukti yang ditunjukkan itu bukan terjadi pada
saat-saat Mirza Ghulam dilahirkan, melainkan pada saat-saat
Nabi Muhammad s.a.w. menerima wahyu. Jelasnya, 1200 tahun
sebelum kelahiran Mirza Ghulam Ahmad, nama AHMAD yang
dimilikinya itu, sudah disebut-sebut Tuhan dalam KitabNya,
Al-Qur’an Al-Karim pada surah As-Shaf ayat.6, sebagai AHMAD
yang DIJANJIKAN.3
Lebih serius lagi dari pada ulasan Ahmadiyah ialah, bahwa
pangkat yang terdapat pada nama Ahmad dalam surah As-Shaf
itu, yakni pangkat Rasul, adalah juga milik Mirza Ghulam;
berkata Ahmaddyah:
“Jika orang benar-benar meniliti maksud Al-Qur’an itu
(surah 61:6 tadi) maka akan mengetahui, bahwa yang
dimaksud dengan nama AHMAD bukanlah Nabi Muhammad saw.
tetapi seorang RASUL yang diturunkan Allah swt. pada
akhir zaman sekarang ini. Bagi kami ialah: Hazrat
(Mirza Ghulam) AHMAD Al-Qadiani.”4
Demikian tafsir dan makna surah Ash-Shaf ayat 6 yang diolah
oleh Mirza Ghulam dan Ahmadiyahnya. Akhirnya dengan ucapan
yang meyakinkan, Ahmadiyah dengan lantang berkata:
“Dengan demikian jelaslah, bahwa yang dimaksud Rasul
Ahmad dalam surah Ash-Shaf ayat 6 tersebut, adalah
pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad
a.s.”5
Inilah dia, obrolan-obrolan Mirza Ghulam dan para
pengikutnya; mereka seringkali menonjolkan watak-watak
Yahudinya dengan Yuharrifu nal kalimah an-mawadi’ih, bermain
sulap, awut-awutan, tamak didalam mengartikan maupun
menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an serta Hadits.
Alasan-alasan yang digunakan Ahmadiyah untuk menguasai nama
Ahmad dalam surah As-Shaf itu, seolah-olah kelihatannya
masuk akal; akan tetapi kalau diteliti dengan seksama, maka
mereka hanya memaksakan agar makna maupun tafsir dari ayat 6
surah As-Shaf itu, dikhususkan pada Mirza Ghulam Ahmad saja.
Dengan kata lain, Ahmadiyah menafsirkan maupun rnengartikan
ayat-ayat Al-Qur’an, menurut jalan pikiran mereka dan
menurut kepentingan mereka. Sebagai alasan mengapa ayat 6
Ash-Shaf itu untuk Mirza, Ahmadiyah berkata:
“Memang dalam Al-Quran surah 61:6 tertulis nama Ahmad.
Tidak mungkin nama itu digunakan bagi Nabi Muhammati
saw. karena disitu tertulis tanda-landa dan
kejadian-kejadian yang lain, terangnya seperti di bawah
ini:
1. Wa huwa yud’a ilal Islam = dan dia (Ahmad) dipanggil
(oleh orang-orang yang mengaku dirinya Islam) supaya
kembali kepada agama Islam. Mengapa demikian? Mereka
menganggap bahwa Hazrat Ahmad a.s. itu sudah
kafir-nauzubillah-, disebabkan mengaku dirinya sebagai
nabi. Marilah kita perhatikan: Nabi Muhammad saw.
berkewajiban memanggil ummat dunia kepada Islam (lih
61:8) tetapi pada ayat tersebut malah mereka itulah
(baca: ummat Islam) yang memanggil Ahmad, supaya
kembali kepada Islam.
2. Yuriduna li yuthfiu nurullahi bi afwahihim: mereka
itu (baca: seluruh ummat manusia di dunia sekarang ini)
ingin benar memadamkan cahaya Allah Ta’ala dengan
mulutnya. Pada zaman Nabi Muhammad saw. yang memusuhi
Agama Allah (Islam) menghunus pedang, tetapi pada akhir
zaman ini, yang melawan dan menghantam Islam tidak
dengan pedang lagi, melainkan dengan “propaganda,”
dengan alat-alat modern, radio dan tulisan-tulisan.
Ingatlah pula lidah lebih tajam lagi dari pedang.
3. Huwalladzi arsala rosulahu bilhuda wa dinil haqqi
liyuzhhirahu ‘ala dini kullihi: Dia, Tuhan itulah yang
mengirim Rasulnya dengan petunjuk, agar dapat ia
(Ahmad) memenangkan agama Allah atas segala
agama-agama. Terlaksananya ayat ini, hanya di suatu
zaman, dimana pergaulan dunia antara agama dengan agama
semuanya, menjadi lebih dekat, jarak antara benua
dengan benua itu seakan-akan dekat, semuanya disebabkan
alat-alat teknik yang modern tadi, bahkan antara bangsa
dengan bangsa kini sudah dapat disatukan (PBB), atau
bila dengan alat ialah: radio dan pesawat terbang. Bila
kita mau menganalisa semuanya ini, mustahil bisa
terkecoh lagi.6″
Demikianlah ocehan-ocehan Ahmadiyah mempropagandakan
alasan-alasan apa sebab Mirza Ghulam yang menjadi pemilik
mutlak nama Ahmad itu. Ditambah lagi dengan ocehan tafsir
yang berlagak berani memperkosa ayat-ayat Tuhan, maka jelas
tidak seorang mufassirpun yang berani berbuat demikian,
kecuali mufassir-mufassir Ahmadiyah yang serba awut-awutan.
Berbicara tentang ayat 7 dari Surah Ash-Shaf tersebut,
dimana sebagian dari ayat yang tersurat: wa huwa (dan dia)
diajak pada Islam, telah digunakan oleh Ahmadiyah sebagai
landasan untuk menguatkan hak milik Mirza Ghulam akan nama
Ahmadnya itu, maka untuk mengetahui yang sebenarnya dari
Firman Allah tersebut, haruslah diketahui keseluruhan
ayat-ayatnya. Dan tidak boleh melepaskan kaitannya yang erat
dengan ayat-ayat yang sebelumnya. Pada bagian akhir dari
ayat 6 surah Ash-Shaf. tersebut:
“Maka tatkala Rasul datang pada mereka dengan membawa
keterangan atau bukti-bukti yang nyata, mereka berkata:
Ini adalah sihir yang terang.”
dilanjutkan kemudian dengan ayat 7 dari surah yang sama,
tersebut:
“Dan siapakah yang terlebih aniaya daripada orang yang
mengada-adakan dusta terhadap Allah, pada saat mana ia
diajak pada Islam? Sungguh Allah tidak memberi petunjuk
pada orang-orang yang aniaya.”
Maka jelas sekali di situ bahwa huwa (ia) adalah orang yang
mengada-adakan dusta terhadap Allah pada saat ia diajak oleh
Nabi Muhammad s.a.w. kepada Islam. Dan bukan seperti yang
diulas Ahmadiyah, bahwa huwa (ia) adalah Ahmad Mirza Ghulam
yang diajak pada Islam oleh orang-orang Islam yang
menuduhnya kafir. Ini hanya silatan lidah dan sulapan mata
yang dibuat oleh mufassir-mufassir Ahmadiyah.
Contoh yang mirip daripada ayat 7 Ash-Shaf tersebut ialah
pada surah Az-Zumar ayat 32, yang tersebut:
“Maka siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang
membuat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran
ketika sampai padanya? Bukankah dalam neraka tempat
tinggal orang-orang kafir?”
Ayat, ketika sampai padanya ialah, ketika sampai kebenaran
yang dibawa Muhammad s.a.w. pada ia (huwa), maka ia
mendustakan ayat-ayat Allah itu. Demikianlah tafsir maupun
makna yang benar.
Alasan yang kedua yang dipakai Ahmadiyah bagi landasan
pegangan Mirza untuk memiliki nama Ahmad ialah ayat:
yuriduna li yuthfi’u nurullahi bi afwahihim. Ahmadiyah
mengatakan, bahwa seluruh ummat manusia di dunia sekarang
ini ingin benar memadamkan cahaya Allah dengan mulutnya,
sedang pada zaman Nabi Muhammad s.a.w. yang memusuhi Agama
Allah (Islam) menghunus pedang. Akhir zaman ini yang melawan
dan menghantam Islam tidak dengan pedang lagi, melainkan
dengan propaganda. Dan ingatlah bahwa lidah lebih tajam dari
pedang. Demikian ulasan Ahmadiyah dari ayat tersebut di
atas.
Inilah bukti kerabunan mata dan kejumutan pikiran mufassir
Ahmadiyah. Mereka terang-terangan menutupi
peristiwa-peristiwa sejarah Nabi, ataupun mereka sedang
bersilat lidah dan membodohi ummat manusia dengan
ocehan-ocehan tafsirnya itu. Apakah benar pada akhir zaman
ini yang melawan dan menghantam Islam tidak dengan pedang
lagi?! Apakah benar pada zaman Nabi Muhammad s.a.w. yang
memusuhi Agama Allah tidak dengan mulut pula?!
Pertanyaan yang pertama akan dijawab kelak, tetapi yang
kedua, karena berhubungan dengan obrolan Ahmadiyah tentang
nama Ahmadnya Mirza Ghulam, akan dijawab; menurut
dasar-dasar dari Al-Qur’anul Karim.
Ayat 78 surah Ali-Imran:
“Di antara mereka itu ada satu golongan yang
memutar-balikkan lidahnya dengan membaca kitab, supaya
kamu kira bahwa ia daripada kitab, padahal bukanlah ia
daripada kitab, dan mereka berkata: ia daripada sisi
Allah. Padahal bukan ia dari sisi Allah dan mereka itu
mengadakan dusta atas Allah sedang mereka mengetahui.”
Ayat 33 surah Al-An’aam:
“Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa engkau (ya
Muhammad) berduka-cita oleh karena perkataan mereka
itu, sesungguhnya mereka itu tiada mendustakan engkau,
tetapi orang yang aniaya itu menyangkal ayat-ayat
Allah.”
Surah Al-A’raf ayat 177:
“Amat jahatlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan
ayat-ayat Kami dan orang-orang yang menganiaya dirinya
sendiri.”
Surah At-Taubah ayat 65:
“Jika engkau bertanya pada mereka, niscaya mereka
menjawab: sesungguhnya kami bercakap-cakap dan
bermain-main. Katakanlah! Patutkah kamu
memerolok-olokkan Allah dan ayat-ayatNya serta
RasulNya?”
Bagian akhir dari ayat 2 surah Yunus:
“Orang-orang kafir berkata: Sesungguhnya ini (Muhammad)
ahli sihir yang nyata.”
Surah Yunus ayat 65:
“Janganlah engkau berduka cita karena mendengarkan
perkataan mereka. Sesungguhnya kekuatan itu bagi Allah
semuanya. Dia mendengar lagi mengetahui.”
Surah Al-Anfal ayat 31:
“Apabila dibacakan ayat-ayat Kami kepada mereka lalu
mereka berkata: Sesungguhnya telah kami dengar jika
kami kehendaki niscaya dapat pula kami mengatakan
seperti ini. Ini lain tidak melainkan dongeng-dongen
orang-orang dahulu kala.”
Surat Al-Anbiya’ ayat 5:
“Bahkan mereka berkata: (Qur’an ini) mimpi yang kacau
balau. Bahkan dia mengada-adakannya, bahkan dia seorang
ahli syair. Sebab itu hendaklah dia mendatangkan satu
ayat (mu’jizat) buat kami, seperti telah diutus
orang-orang dahulu.”
Surat. Ash-Shaffaat, ayat 14/15:
“Apabila mereka melihat ayat (tanda kekuasaan Allah)
mereka memperolok-olokkannya. Mereka berkata: ini lain
tidak hanya sihir yang nyata.”
Surat Shaad ayat 4:
“Mereka takjub karena datang pada mereka pemberi kabar
takut di antara mereka, dan berkata orang-orang kafir:
Orang ini tukang sihir lagi pendusta.”
Surat Az-Zukhruf ayat 7:
“Dan tiadalah datang Nabi kepada mereka melainkan
mereka perolok-olokkan.”
Demikianlah, masih banyak lagi ayat-ayat Tuhan yang
mengetengahkan cara-cara kaum musyrikin hendak memadamkan
cahaya Allah dengan mulutnya. Sesungguhnya omongan mereka
itu keji hina, nista, jahat dan fitnah-fitnah mereka lebih
biadab daripada pembunuhan .
Maka para mufassir Ahmadiyah pada kenyataannya buta atau
sengaja hendak mengelabui ummat dengan mulut mereka. Jelas
bahwa orang Ahmadiyah mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an dan
mengingkari sejarah Nabi s.a.w.
Lebih daripada itu, Ahmadiyah mengingkari sejarah perjuangan
kaum muslimin pada akhir zaman, dengan kata-kata mereka:
bahwa yang melawan dan menghantam Islam akhir zaman ini,
tidak lagi dengan pedang!
Alasan ketiga yang dipakai oleh Ahmadiyah untuk mengukuhkan
Mirza Ghulam sebagai pemilik satu-satunya atas nama Ahmad
dari surat. Ash-Shaf itu, ialah ayat: Huwalladzi arsala
rasulahu bilhuda wa dinil haqqi li yuzhhirohu ala dini
kullihi. Ahmadiyah mengartikan ayat tersebut ialah bahwa Dia
Tuhan itulah yang mengirim Rasul-Nya dengan petunjuk, agar
dapat ia (AHMAD) memenangkan agama Allah atas segala
agama-agama.
Dengan kata lain, Ahmadiyah meyakinkan kita bahwa Mirza
Ghulam (Ahmad)lah pendiri Ahmadiyah itu, yang akan
memenangkan Islam diatas segala Agama. Apakah benar
demikian? Jika alasan-alasan yang sebelumnya, Ahmadiyah
telah menyalah-gunakan ayat-ayat AJ-Qur’an, maka alasan yang
terakhir ini tentu saja dibuat sedemikian pula liwat
ocehan-ocehan mereka yang akan membuat kaum Muslimin
terkecoh. Kelak ocehan-ocehan mereka itu akan terlihat
bentuknya.
Catatn kaki:
1 lih. Bashiruddin MahmudAhmad, Riwayat hidup Hazrat Ahmad
a.s. hal 2.
2 lih. Mirza GhulamAhmad, Al-Khutbatul-Islamiyah, Rabwah
wikalah at-tab-syiir li-tharik uj-jadid, 1388 h., hal. 86:
(wa-an Allaha sammahu Ahmad bima yahmadu bihi-rRabbul Jalil
fil-ardhi kama yahmadu fis-sama’)
3 lih. suara ANSHARULLAH, majallah bulanan Ahmadiyah, no. 3
& 4, Djuni/Djuli th. 1955, P.P. Ansharullah-Pusat Indonesia
Djogjakarta, hal. 18.
4 lih idem Suara Ansharullah, hal. 18.
5 lih. Suara Lajnah Imaillah, majallah kaum ibu Ahmadiyah
no. 10. th. 11. 1974, B.P L 1. (Badan Penghubung Lajnah
Imaillah Indonesia), Yogjakarta, hal. 27.
6 lih. suara Ansharullah, hal. 18/19 (note: aslinya ditulis
dalam ejaan lama, di sini terlanjur dengan ejaan baru).
3.3 AHMAD TERAKHIR
Berbicara tentang nama AHMAD dalam surat Ash-Shaf ayat 6,
dimana tersirat di dalamnya ucapan Nabi Isa a.s. yang
menyampaikan kabar gembira (mubasysyiran) tentang datangnya
seorang Nabi di kemudianku (mim ba’di ismuhu) yang bernama
AHMAD, tidak lain yang dituju dari ucapan beliau a.s. itu,
adalah Nabi Muhammad s.a.w.
Ucapan Nabi Isa a.s. dengan kata-kata “di kemudianku” itu,
tidak akan meloncati seorang Nabi yang benar-benar datang
tepat sesudah dirinya. Lebih-lebih lagi, dan inilah yang
harus menjadi perhatian, bahwa Al-Qur’an adalah Kalam Allah
yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. Dengan demikian
beliaulah orang pertama yang mengetahui akan makna tujuan
serta seluruh yang tersirat dalam ayat-ayat Allah. Dengan
kata lain, Nabi Muhammad Pesuruh Allah yang menyampaikan
kabar gembira dan kabar takut (basyiiran wa nadziiran) pada
ummat manusia, tidak akan menyembunyikan sesuatu kabar dari
Allah seperti yang tersurat dalam Al-Qur’an surah Ash-Shaf
ayat 6 itu.
Jika itu memang ditujukan pada seorang AHMAD dari INDIA dari
desa QADIAN, maka Nabi Muhammad s.a.w. pasti mensabdakannya.
Juga para sahabat Nabi, para Tabiiin maupun yang sesudahnya
akan menyebut “milik siapa Ahmad” pada surah Ash-Shaf itu.
Padahal Nabi tidak menyabdakan, tidak juga para sahabat
maupun Tabi’in.
Jelaslah kiranya bahwa cara-cara yang dipakai Mirza Ghulam
dan Ahmadiyahnya, mencapai konklusi yang terang di sini,
bahwa aliran Qadiani dan pendirinya itu telah melakukan
penghinaan yang terang-terangan terhadap Nabi Muhammad
s.a.w.
Mereka sebenarnya telah menyepelekan tugas suci yang dipikul
Nabi Muhammad, menerima kebenaran, menyampaikan serta
menegakkan kebenaran itu. Tingkah laku maupun cara-cara yang
demikian itulah yang paling disebar-sebarkan Ahmadiyah dalam
kitab-kitab mereka.
Yang haq atas nama AHMAD dalam surat Ash-Shaf ayat 6 itu,
ialah seorang yang menerima wahyu itu sendiri, AHMAD
MUHAMMAD s.a.w. Ribuan tahun sebelum beliau s.a.w. memangku
jabatan Rasul dan Nabi yaitu tatkala Nabi Musa a.s diutus
oleh Allah untuk bani Israil, tersebut dalam sebuah do’anya;
beliau a.s. memohon:
“Ya Allah jadikanlah hamba sebagai pengikut AHMAD.”1
Kemudian sahabat Salman Al-Farisi tatkala berada di Baitul
Maqdis, beliau mendengar dari seorang rahib, yang berkata
padanya:
“Wahai Salman, sesungguhnya Tuhan sedang mengutus
seorang Rasul bernama AHMAD. Ia mau makan dari
pemberian hadiah, akan tetapi ia menolak atas pemberian
sedekah. Di antara pundaknya terdapat tanda dari
khataman Nubuwah. Ketahuilah wahai Salman, bahwa
saat-saat sekarang inilah kedatangannya.”2
Dan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik,
Dharimi, Tirmidzi, An-Nasa’i, Bukhari dan Muslim, dari Jabir
ibn Muth’am, beliau s.a.w. bersabda:
“Padaku ada beberapa nama-nama, Aku bernama Muhammad,
aku bernama AHMAD, Al-Mahi (yang menghapuskan)
kekafiran, Al-Hasyir (yang mengumpulkan) ummat dibawah
naunganku, dan Al-Aghib (yang penghabisan) dimana tidak
ada Nabi sesudahku.”
Demikianlah tentang nama Ahmad dalam surah Ash-Shaf ayat 6.
Adapun yang dipakai alasan oleh Mirza Ghulam Ahmad dan
Ahmadiyahnya, baik Hadits maupun Al-Qur’an, hanyalah suatu
penipuan belaka. Tidak sepotong ayatpun dalam Al-Qur’an yang
menyebut-nyebut nama Mirza Ghulam. Juga tidak sehuah Hadits.
Jika memang ada, maka Mirza Ghulam dan Ahmadiyahlah yang
mengada-adakan. Bahkan andaikata ada sebuah nama Ahmad
kiriman Tuhan yang ditujukan pada Mirza Ghulam, maka itu
adalah kiriman yang datang dari Tuhannya Mirza. Sebab ia
rupa-rupanya memiliki Tuhan yang khas yang hanya menjadi
miliknya. Kelak akan dijumpai dalam beberapa kitab-kitab
Ahmadiyah, Tuhan khas milik Mirza Ghulam itu.
Catatan kaki:
1 lih. Abul-Qasim as-Suhaily, ar-Raudul Unuf,
1332/1914, Marokko Sultanul Maghrib, hal. 106:
(Allahummaj ‘alni min ummati Ahmad).
2 lih. dr. Abdul-Aziz Muhammad Azzam, Muhammad Rasul-ul
A’zham, 1394/ 1974, majlis a’lalisy-syuun al-Islamiyah,
Cairo, hal. 24.
3.4 SETUMPUK ASAL-USUL
What is in a name? Untuk apa Mirza maupun Ahmadiyahnya
memberi embel-embel, komentar terhadap namanya dengan
ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits? Andaikata Mirza Ghulam tidak
berbuat itu semua, maka segala kepalsuannya tidak secepat
itu ditemukan. Tapi apa boleh buat, mungkin dikiranya
alasan-alasan itu yang mendukung sepenuhnya, bahkan yang
bisa diterima kaum Muslimin di luar alirannya. Padahal
justru alasan-alasan itulah yang membuka kedok kepalsuannya.
Demikian juga pada hal-hal lain yang digunakan Ahmadiyah dan
pendirinya, selalu dijumpai sikap-sikap yang ceroboh dan
menggelikan.
Beralih dari nama-namanya pada keturunannya kembali, maka
yang inipun tidak kurang hebatnya. Sebagaimana diketahui
bahwa dari pihak ayah dan kakek-kakeknya, Mirza Ghulam
merangkap dua keturunan, yaitu keturunan Moghol dan
keturunan Parsi.
Akan tetapi yang lebih menarik dari hal keturunan Mirza ini,
ialah dari pihak ibunya maupun nenek-neneknya. Meskipun
Mirza Ghulam jarang bahkan hampir tidak pernah
menyebut-nyebut nama ibunya maupun nama nenek-neneknya
apalagi membanggakannya, namun demikian ternyata mereka
memegang posisi yang menentukan di dalam karier Mirza
Ghulam. Justru keturunan mereka itulah yang lebih mantap
bagi Mirza Ghulam untuk meletakkan dirinya pada kedudukan
yang paling menarik dan jempolan .
Ternyata keturunan Mirza dari pihak ibunya lebih baik,
bahkan lebih istimewa dibanding dengan keturunan dari pihak
ayahnya. Mula-mula Mirza Ghulam membantah dengan tegas bahwa
ia dari kaum Turki.1 Tidak dimengerti mengapa Mirza sampai
membantah dirinya sebagai kaum Turki. Mungkin ada kaitannya
dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Turki, pada waktu
ia hidup. Akhir-akhir dari abad ke 19 masehi sekitar
tahun-tahun 1881 sampai dengan tahun 1900-an, Sultan Abdul
Hamid Turki yang berkedudukan sebagai Khalifah Islam
bersama-sama Sayid Jamaluddin Al-Afghani, seorang agitator
yang paling ditakuti oleh kekuasaan kolonial Barat, terutama
Inggris, telah mendirikan organisasi Pan Islamisme. Suatu
gerakan propaganda gencar anti Barat yang militant, effeknya
yang mendalam dan kuat memaksa kolonial Barat
memperhitungkannya dengan sungguh-sungguh. Kota
Konstantinopel menjadi pusatnya semua orang fanatik dan
agitator anti Barat seperti Jamaluddin.2 Seorang pemimpin
Islam India berseru kepada kekuasaan Brittania:
“Saya berseru kepada pemerintahan Brittania yang
sekarang supaya mengubah politik permusuhannya dengan
Turki, untuk menjaga supaya gunung kemarahan jutaan
rakyat Islam jangan meletus, yang akan membawa
kebinasaan dahsyat.”3
Demikian hebatnya Pan Islamisme menentang dunia Barat
terutama kolonialisme Inggris. Sebaliknya, Inggris telah
menancapkan cengkeramannya dalam-dalam terhadap kaum
Muslimin India. Adanya kontradiksi yang hebat itu, maka
tidak mustahil atau bisa diduga-duga jika orang-orang
seperti Mirza Ghulam Ahmad cepat-cepat mencari posisi yang
enak di tengah-tengah arena politik kaum Muslimin India yang
hangat. Dan yang paling enak atau paling mudah untuk bersih
diri, ialah membantah dirinya dari kaum Turki.
Kalau tidak henar perkiraan di atas atau sama sekali tidak
beralasan maka setidak-tidaknya Mirza Ghulam Ahmad maupun
Ahmadiyahnya sanggup membuat suatu catatan kecil, yaitu
memberi penjelasan, mengapa sampai-sampai Mirza Ghulam
menolak diri sebagai kaum Turki; dan mengapa kata-kata
“Turki” itu sempat disisipkan diantara berita wahyu yang ia
terima dari Tuhannya.
Kembali pada keturunan dari pihak ibunya, Mirza C,hulam
Ahmad ternyata mempunyai keistimewaan yang tidak
tanggung-tanggung. Dengan bangga ia berkata:
“Ketahuilah, bahwasanya Al-Masih Al-Mau’ud itu
datangnya dari golongan QUREIS, sebagalmana Isa
datangnya dari Bani Israel.”4
Al-Masih Al-Mau’ud yang dimaksud ialah Pendiri Ahmadiyah,
Mirza Ghulam. Ia memperoleh gelar itu, dan banyak lagi
gelar-gelar yang ia peroleh dari Tuhannya. Lebih meyakinkan
lagi tentang keturunan Qureisnya, Mirza Ghulam Ahmad berkata
yakin:
“Adalah suatu keharusan bahwa Khalifah ini dari
keturunan Qureis.”5
Gelar khalifah inipun termasuk milik Mirza Ghulam Ahmad.
Satu persatu dari gelar-gelarnya akan dikenal nanti.
Demikianlah pendakian telah sampai ke puncaknya. Keturunan
QUREIS pada diri Mirza Ghulam Ahmad merupakan target
terpenting dari planningnya. Sambil bertepuk dada ia
berkata: “Ketahuilah siapa aku ini! Jika kamu abaikan maka
akan kau hadapi kerugian-kerugian dalam hidupmu.” Qureis
mungkin masih agak luas ruang lingkupnya, karena ia masih
terdiri dari keluarga-keluarga besar. Maka tidak salah lagi
jika Mirza Ghulam Ahmad maupun Ahmadiyahnya memilih satu
keluarga saja di dalam satu rumah yang paling mulia dan
dimuliakan manusia. Dengan perasaan bangga ia berkata:
“Sesungguhnya akulah Al-Mahdi itu, juga Al-Masih
Mau’ud, dimana kedudukannya sudah jelas bahwa untuk
jabatan kedua pangkat ini harus dipegang oleh seorang
dari Bani Fatimah.”6
Apa sebab Mirza memilih Bani Fatimah unluk melengkapi
dirinya? Tidak lain, karena ia akan mengambil alih sabda
Nabi Muhammad s.a.w. yang tersebut:
“Dari Ummu Salamah r.a. aku telah mendengar Rasul Allah
bersabda: Mahdi itu dari anak cucuku, dari anak
Fatimah.”
Maka Mirza Ghulam Ahmadlah yang menyatakan diri sebagai anak
dari anak-anak Fatimah r.a. Kemudian dengan lantang sekali
lagi ia berkata:
“Daripada kakek-kakekku, aku ini keturunan Parsi,
sedang daripada nenek-nenekku aku ini keturunan
Fatimah. Maka bergabunglah pada diriku dua kemuliaan.”7
Jika dua kemuliaan saja, itu masih kurang. Harus ditambah
lagi kemuliaan yang di atas segala-galanya. Last but not
least inilah kemuliaan-kemuliaan itu. Mirza berkata:
“Daripada Tuhanku, telah turun wahyu padaku, bahwa dari
pihak nenek-nenekku, aku ini keturunan Fatimah ahli
baitin nubuwah.
Demi Allah, telah bersatu pada diriku Nasl (keturunan) Nabi
ISHAQ dan nasl (keturunan) Nabi ISMA’IL.”8
Bagaimana Mirza Ghulam Ahmad mengaku menjadi anak-cucu Nabi
Ishaq a.s.? Apakah benar ia keturunan Nabi Ishaq? Mungkin
ada yang tidak beres di sini, dan yang tahu persis bahwa
Mirza tidak beres, adalah ia sendiri. Akan tetapi kalau
Ahmadiyah mengatakan bahwa itu benar dan tidak ada yang
perlu dibereskan, maka kita ucapkan hallo-hallo pada Mirza.
Dengan nasl Ishaqnya itu, maka orang boleh berkata pasti,
bahwa Mirza Ghulam Ahmad juga dari keturunan YAHUDI! Nah
bergembiralah ya Mirza Israeli.
Demikianlah keturunan-keturunan istimewa milik pendiri
Ahmadiyah. Satu lagi keturunan yang tidak boleh diabaikan
juga hak milik Mirza Ghulam Ahmad. Negeri dimana ia
dilahirkan dan dibesarkan, INDIA, juga merupakan salah satu
daripada keturunan-keturunan yang ia miliki. Ahmadiyah
menjelaskan bahwa dalam buku agama Hindu (yang mana?) ada
tersebut bahwa Messiah yang dijanjikan itu adalah orang
INDIA.9
Akhirnya, demikian Bashiruddin Mahmud Ahmad menutup cerita
tentang identitas ayahnya, berkata:
“Maka sempurnalah sudah apa yang telah termaklum dalam
kitab-kitab Ummat Parisi, Ummat Nasrani, Ummat Islam
dan Ummat Hindu tentang datangnya Al-Masih yang
ditunggu-tunggu zaman, yaitu MIRZA GHULAM AHMAI).”10
Itulah bunyi gong Bashiruddin; orang-orang Ahmadiyah boleh
merasa bangga terhadap kedudukan maupun keturunan yang
dimiliki pemimpinnya. Andaikala semua keturunan-keturunannya
disandangkan di belakang namanya, maka inilah dia: Mirza
Ghulam Ahmad AL-MOGHOLI, AL-PARISI, AL-QUREISY, AL-FATIMI
ahli Batin Nubuwah dan AL-ISRAELI dan lagi AL-HINDUSTANI.
Sungguh suatu keistimewaan yang menggelikan.
Catatan kaki:
1 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Istiftaa’, hal. 75: (wa
lakinnal-lah auhi ila annahum kanu min bani faras la
min al-aqwaam ut-turkiyah).
2 lih. L Stoddard, Dunia Baru Islam, terjemahan
Panitya, Jakarta, 1966,hal. 65.
3 lih. L Stoddard, Dunia Baru Islam, terjemahan
Panitya, Jakarta, 1966,hal. 66, 67.
4 lih. Mirza Chulam Ahmad, Al-Khutbat-ul-Ilhamiyah,
hal. (ha’): (wa innahu ma ja’a min-al Qureisy kama inna
Isa ma Ja’a min-bani Israel).
5 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Khutbat-ul-Ilhamiyah,
hal. 13. (wa wajaba anla yakun hadzal Khalifah
min-al-Qureisy).
6 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Khutbat-ul-Ilhamiyah,
hal. 46: (inni ana Al-mahdi alladzihuwa Al-masih
muntadzir al-mau’ud, wama jaa fihi annahu min-bani
Fatimah)
7 idem, idem, hal. 87: (wa ja’alahu min haisul aba’
min abna Faras wa min haisul ummahaat min bani Fatimah
liyajmau fihil jalaal waljamaal).
8 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Istiftha’, hal. 75: (wa
ma’a dzalika akhbarani rabbi bian ba’da ummahati min
banil Fatimah wa min-ahli baitin-nubuwwah; wallahu
fihim nasl Ishaq wa Ismail min kamalil hikmah wal
mushalahah).
9 lih. Bashiruddin Mahmud Ahmad, Ahmadiyya Movement,
Rabwah The Ahmadiyya Muslim Foreign Missions Office,
1962, hal. 47: (from the books of the Hindus it
appeared that the promised Messiah was an Indian).
10 lih. Bashiruddin M.A., Ahmadiyya Movement, hal. 47:
(in short, in him were fulfilled all the prophecies
contained in the books of the Christians, the Parsees,
the Hindus and Muslims), note: semua kitab tersebut di
atas dalam jumlah lebih dari satu; setidak-tidaknya
Ahmadiyyah dapat menyebut masing-masing dua?
3.5 KUNING LANGSAT BUKAN KEMERAH-MERAHAN
Sesudah kita ketahui sejumlah nama maupun
keturunan-keturunan Mirza Ghulam Ahmad, maka adalah lebih
sempurna lagi jika kita kenal lebih jauh identitas
lahiriyahnya. Dalam hal ini perihal warna atau kelir kulit
Mirza Ghulam Ahmad mustahaq untuk diketahui dan dibicarakan
di sini. Sebabnya tidak lain ialah karena orang-orang
Ahmadiyah merasa bangga akan kelir kulit pemimpinnya itu.
Ahmadiyah menjelaskan bahwa dalam beberapa Hadits
diterangkan:
“Kelir kulit yang mulia Nabi Muhammad s.a.w. adalah
PUTIH. Kulit yang mulia Nabi Isa a.s. adalah
KEMERAH-MERAHAN. Kulit yang mulia Nabi AHMAD a.s.
(Al-Masih, II) adalah KUNING LANGSAT.”1
Yang dimaksud dengan yang mulia Nabi Ahmad a.s., tidak lain
ialah Mirza Ghulam Ahmad. Dikemukakan oleh Ahmadiyah bahwa
ada beberapa Hadils yang menerangkan tentang kelir
kulit-kulit ke-tiga Nabi di atas itu. Manakah beberapa
Hadits itu? Cukup kiranya sebuah saja dikemukakan di sini,
maka Ahmadiyah akan tertolong dirinya dari
kecerobohan-kecerobohannya.
Lebih lanjut Ahmadiyah menambahkan bahwa kalau Nabi Isa a.s.
itu kulitnya kemerah-merahan sedangkan Hazrat Mirza Ghulam
Ahmad a.s. itu kulitnya kuning langsat, itu merupakan satu
bukti yang menggelora, bahwa Al-Masih yang datang kedua
kalinya itu bukanlah Almasih putera Maryam r.a. yang dulu
itu. Sebab seandainya Nabi Isa a.s. yang dulu itu datang
keduakalinya di dunia ini selaku Al-Masih II, pastilah
Almasih II itu kulitnyapun kemerah-merahan, bukan kuning
langsat.2
Demikianlah salah satu alasan dari seribu satu macam alasan
yang dipakai Ahmadiyah untuk memahkotai Mirza Ghulam dengan
gelar Al-Masih kedua. Berbicara tentang warna kulit manusia
di atas dunia ini, maka warna “kuning langsat” itulah yang
lebih menarik bagi orang-orang Asia khususnya. Memang
demikian, justru itulah kulit yang dimiliki Mirza Ghulam
Ahmad, benar-benar menggelora! Seorang cucunya berkata
tentang kakeknya itu:
“Bahwasanya Mirza Ghulam Ahmad termasuk dalam golongan
yang paling elok.”3
Begitu eloknya dia, wahai siapa pula yang lidak jatuh hati
padanya?!
Catatan kaki:
1 lih. Suara lajnah Imaillah, no. 10 th. 11, 1974, hal. 33.
2 idem, hal. 33.
3 lih Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau’ud a.s., Yayasan
Wisma Damai, Bandung 1971, hal. 7
3.6 LAMPU ALADIN DI TANGAN MIRZA
Sudah tentu yang jatuh hati padanya adalah puteranya
Bashiruddin, cucu-cucunya dan orang-orang yang buta hati dan
buta pikiran. Kepalsuan yang begitu kentara ternyata dapat
disulap-sulap menjadi elok dan bergelora berkat
propaganda-propaganda obralan dan pakaian-pakaian kebesaran
yang menyolok.
Keistimewaan Mirza Ghulam Ahmad yang explosiv itu bukan
hanya terdapat pada nama-nama keturunan-keturunan maupun
kelir kulitnya, bahkan jauh daripada itu, lebih banyak dan
lebih istimewa lagi terdapat pada pangkat-pangkat
gelar-gelar maupun jabatan-jabatan yang menjadi miliknya.
Bukan kepalang-tanggung hebatnya, tidak seorang Nabi maupun
seorang Rasul sebelumnya yang memperoleh kedudukan begitu
tinggi, mulia, seperti yang pernah diperoleh Mirza Ghulam
Ahmad. Bahkan lebih tinggi, lebih mulia dari Yesus Kristus
yang dianak-Tuhankan oleh kaum Kristen. Letak kehebatannya
ialah bahwa semua milik Mirza Ghulam Ahmad diperoleh
langsung dari Tuhannya. Maka marilah berkenalan dengan orang
Qadian yang superior ini. Mirza Ghulam Ahmad mendapat
julukan Pelindang “telur” Islam.1 Tidak dijelaskan mengapa
Islam dikiaskan dengan telur itu. Setidak-tidaknya telur
gampang sekali retak atau pecah. Alangkah lemahnya kondisi
Islam sehingga dikiaskan sebagai telur belaka dan Mirza
Ghulam Ahmad adalah orangnya, pelindung dari keretakan dan
pecah itu, ataukah ia yang mengerami dan sekaligus yang
menetaskan telur itu?!
Beralih pada gelar-gelarnya yang lain, Mirza Ghulam
dikatakan sebagai penjaga kebun Allah.2 Mungkin yang
dimaksud kebun di situ adalah Islam atau sorga? Pendek kata
demikian pendapat Ahmadiyah, pribadi Mirza Ghulam Ahmad itu
patut dihormati sebab ia berkhasiat sebagai “kibriti
ahmar.”3 Oleh wujudnya itu maka nampaklah kehidupan agama
Islam.
Selanjutnya Mirza Ghulam Ahmad adalah mujaddid akbar,4
kepala dari semua pembaharu yang dikirim ke dunia untuk
memperbaharui Islam yang di dalam akidah-akidahnya telah
terdapat banyak kontradiksi-kontradiksi. Bahkan lebih dari
pada mujaddid akbar, Mirza Ghulam turunnya ke dunia ini
sebagai “Fadhlan kabiran” bagi ummat manusia.5 Kemudian
masih juga perihal turunnya Mirza Ghulam ke dunia, Ahmadiyah
berkata:
“Pada hakikatnya ketika Imam Zaman turun ke bumi maka
besertanya turun ribuan cahaya demi cahaya, dan di
persada langit terjadi suatu suasana kemeriahan, dan
terjadilah suatu penyebaran rohaniyat dan nuraniyat
yang menggugahkan orang-orang berbakat suci. Pendeknya
barangsiapa yang mempunyai bakat untuk menerima ilham
semenjak itulah ia mulai menerima ilham.”6
Dan siapakah Imam Zaman itu? Maka pada saat ini, kata Mirza
Ghulam Ahmad, ‘aku berkata tanpa merasa takut dan gentar
sedikitpun, dengan kerunia dan anugerah Allah Ta’ala
menyatakan: “Imam Zaman itu adalah alcu sendiri.”’7
Bagaimana Hadits mengenai Imam Zaman itu? Ahmadiyah berkata
telah mengutip sebuah Hadits, akan tetapi sayang tidak
menyebut tentang isi maupun perawi-perawinya; Dikatakan
dalam Hadits itu bahwa, “barangsiapa yang kembali ke hadirat
Allah dalam keadaan tidak menahu atau tidak mengenal tentang
Iman Zamannya, ia akan datang dengan mata buta dan matinya
berada dalam keadaan jahiliyah”!8
Demikian vonnis Ahmadiyah terhadap Muslimin maupun yang
bukan Muslim, yang berada di luar aliran Mirza Ghulam Ahmad;
kalau tidak mau tahu atau tidak mau kenal Imam Zaman itu,
maka ia mati jahiliah!
Ingin tahu bagaimana akhlak Imam Zaman Mirza Ghulam Ahmad
itu? Ahmadiyah dengan lantang berkata:
“Pada diri Imam Zaman Mirza Ghulam Ahmad telah cocok
sepenuhnya kandungan ayat: Innaka la-’ala khuluqin
‘azhim.”9
Innaka la ‘ala khuluqin azhim, Al-Qur’anul-Karim ayat 4
suratul-Qalam, yang disampaikan Allah s.w.t. kepada
Nabi Muhammad s.a.w. sebagai insan kamil yang dihiasi
ahlak mulia, dengan enaknya diambil alih begitu saja
oleh Mirza Ghulam Ahmad sebagai kualitet dari akhlaknya
sendiri. Ia merasa telah memiliki segala-galanya. Di
tangannya ada lampu aladin, tinggal ia menggosok maka
segala keinginannya terkabul!
Perhatikanlah kini sebaris pantun yang ditujukan pada Mirza
Ghulam Ahmad, dibuat oleh pengikut-pengikutnya yang setia:
“Wujudnya meliputi segala-gala.
sedang engkau hanya sebagian
Kau akan binasa jika
melarikan diri dari padanya.”10
Pantun diatas bukan saja satu peringatan keras bagi mereka
yang melarikan diri dari lingkungan rumah Mirza Ghulam Ahmad
tatkala wabah pes melanda Punjab termasuk Qadian, melainkan
juga satu peringatan keras buat setiap orang yang tidak
masuk Ahmadiyah, bahwa mereka akan binasa, yakni mati kafir
jahiliyah! Kemudian ia, Mirza Ghulam Ahmad, dikenal sebagai
khatamal aulia’, yakni wali yang paling sempurna.11
Disamping kata khatam yang diartikan sempurna itu, ternyata
Ahmadiyah memberi arti lain juga yakni: akhir. Sebab Mirza
Ghulam Ahmad mengambil lagi kedudukan yang lebih meyakinkan
dengan berkata: Aku adalah Wali yang terakhir sebab tidak
ada wali sesudahku. Yang dimaksud tidak ada wali sesudahku
ialah wali-wali yang berada di luar lingkungan Ahmadiyah.12
Mereka bukan wali dan tidak bisa jadi wali, kecuali kalau
mereka mau masuk menjadi pengikut-pengikut Mirza Ghulam
Ahmad.
Langkah-langkah berikut yang ditempuh Mirza Ghulam Ahmad
adalah langkah-langkah yang paling berani, dalam arti kata
ceroboh, dari seorang Qadian yang mengaku dirinya Muslim.
Sesudah dikenal sebagai khatamal aulia’ Mirza Ghulam dikenal
juga sebagai Muhaddats yakni orang yang diajak
bercakap-cakap oleh Allah.13 Bahkan Ahmadiyah mengatakan
dari tingginya derajat Mirza Ghulam Ahmad, sampai-sampai
Allah Taala dengan sangat terbukanya bercakap-cakap dengan
beliau.14 Seringkali terjadi soal jawab dan waktu itu
ditanya, waktu itu juga datang jawaban.15
Last but not least, Ahmadiyah berkata:
“Dan DIA (ALLAH) membuka tabir dari sebagian wajahNya
yang bercahaya dan mengkilap itu. Bukan itu saja,
bahkan seringkali demikian rupa seolah-olah Allah
Ta’ala tengah bergurau dengan beliau.”16
Explosive bukan! belum lagi, Mirza Ghulam belum meledakkan
seluruh ambisinya. Bagaimana hendak diartikan oleh Ahmadiyah
kata-kata: seolah-olah Allah Ta’ala tengah bergurau dengan
beliau?!
Lebih dari itu, mungkin dikarenakan Mirza Ghulam sudah
melihat dari sebagian wajahNya yang bercahaya dan mengkilap
itu maka wajah Mirza kena kecipratan cahaya mengkilapnya
Tuhan. Salah seorang cucunya yang bernama: Mirza Mubarak
Ahmad tokoh pimpinan dalam instansi tahrikjadid yang
mengemudikan missi-missi Ahmadiyah di luar Pakistan dan
India, menyanjung kakeknya Mirza Ghulam Ahmad dengan
kalimat-kalimat yang amat mengesankan:
“Ketika hari raya Adha tiba, demikian Mubarak Ahmad
bercerita, setelah beliau (Mirza Ghulam) duduk di kursi
dan mulai berpidato, nampak seakan-akan beliau berada
di alam lain. Mata beliau hampir-hampir tertutup dan
wajah suci beliau begitu bercahaya nampaknya
seakan-akan Nur Ilahy itu menyelimutinya dalam keadaan
luar-biasa bercahaya dan terang. Pada saat itu wajah
beliau sukur dipandang dan dari kening beliau cahaya
demikian memancar-mancar, sehingga, menyilaukan tiap
orang yang memandangnya.”17
Selanjutnya sang cucu meneruskan puja-pujinya terhadap
kakeknya dengan mengatakan bahwa beliau (Mirza Ghulam)
adalah Satu nur yang dizhahirkan ke dunia untuk menyinari
ummat manusia.18 Beliau adalah juga Bulan Purnama yang
sempurna.19
Dengan gelar satu Nur dan Bulan Purnama yang sempurna itu,
maka sebenarnya Mirza Ghulam Ahmad boleh dipastikan, bahwa
pada wajahnya terdapat satu cahaya yang sedap dipandang.
Akan tetapi kalau mengingat kata-kata Mubarak Ahmad bahwa
Mirza pada keningnya ada cahaya demikian memancar-mancar
sehingga menyilaukan setiap orang yang memandangnya, maka
apakah gerangan kiranya cahaya yang melekat di dahi Mirza
Ghulam itu?! Kalau tidak sinar cahaya sang surya, mungkinkah
ia cahaya mercusuar, yang langsung menyorot mata-mata para
pengikutnya dari jarak yang tidak jauh, katakanlah tiga mil
laut?!
Catatan kaki:
1 lih. Mirza Ghulam Ahmad, perlunya seorang Imam Zaman,
terjemah: R. Ahmad Anwar, 1996, P.P. Majlis Chuddamul
Ahmadiyah Indonesia, Jakarta, hal. 17.
2 lih. idem hal. 17.
3 lih. idem hal. 17.
4 lih. Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah selayang pandang,
Khuddamul Ahmadiyah, Surabaya 1963, hal. 27
5 lih. Saleh A. Nahdi, Soal-Jawab Ahmadiyah 1, Ujung
Pandang, RAPEN, 1972, hal. 23.
6 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Imam zaman, hal. 10
7 idem, hal. 32.
8 idem hal. 10 dan lih. majallah Ahmadiyah Sinar
Islam-no.13, 1965, Bandung, Yayasan Wisma Damai, hal.8
9 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Imam Zaman, hal. 15.
10 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Perlunya Imam Zaman, hal. 18.
11 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-khutbat-ul-ilhamiyah, hal. 9.
12 lih. Mirza Ghulam Ahmad, idem, hal. 10: (wa ana khatam-al
auliya’ Ia wali ba’di illal lazhi huwa minni wa ala ahdi.)
13 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Ajaranku, alih bahasa R. Ahmad
Anwar, Bandung Yayasan Wisma Damai, 1966, hal. 43.
14 lih. Mirza Ghulam Ahmad, perlunya seorang Imam Zaman,
hal. 20
15 lih. Idem, hal. 20.
16 lih. Idem, hal. 20.
17 lih. Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau’ud a.s., hal. 83.
18 lih. idem hal. 87.
19 lih. idem, hal. 5.
3.7 MIRZA GHULAM TOKOH PENJELMAAN
Lebih banyak lagi kita mengenal tumpukan pangkat, gelar
maupun ibarat-ibarat yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad, maka
kita akan lebih meyakini letak hakiki dari tokoh Ahmadiyah
itu dalam sejarah Islam. Tidak lebih kalau kita mengumpulkan
seluruh pangkat yang ada dalam sejarah kerohanian semua
Agama, maka Mirza Ghulam Ahmad merupakan juara, baik sebagai
kolektor maupun sebagai pemilik dari hasil-hasil koleksinya
itu. Ia berkata tentang dirinya:
“Akulah hajar aswad yang dimiliki bumi ini, aku dicium
ummat manusia guna memperoleh berkahnya.”1
Selanjutnya Mirza mengaku sebagai khalifah akhir zaman,2
juga bergelar sebagai Guru Jagat3 yakni guru bagi seluruh
ummat manusia. Karena sifatnya yang meliputi, maka Mirza
Ghulam Ahmad mengambil langkah-langkah baru agar dapat
memperoleh simpati dari ummat Hindu dan Buddha. Untuk ini
Mirza Ghulam berkata:
“Sebagaimana kita ketahui di negeri India, seorang nabi
telah lama pergi beberapa abad yang silam, yakni yang
dikenal dengan nama: Krishna. Ia juga dipanggil,
Ruvaddar Gowpal, si perusak sekaligus juga si
pembangun, nama itu semua juga diberikan padaku. Sejak
waktu itu bangsa Arya menanti-nanti kedatangan kembali
sang Kreshna. Maka ketahuilah, aku inilah Sang Kreshna.
Tuhan telah memberi kabar padaku bahwa Kreshna yang
sedang dinanti-nantikan kedatangannya itu, tidak lain
adalah aku raja bangsa Aryan.”4
Mirza Ghulam Ahmad menerangkan bahwa dari gelarnya sebagai
Ruvaddar yakni si perusak tidak lain bahwa ia adalah orang
yang akan membunuh musuh-musuhnya dengan dalih serta
alasan-alasan yang kuat. Dengan pengertian yang demikian
itu, maka Mirza Ghulam Ahmad telah merobah makna asal
daripada kata-kata Ruvaddar atau sang Perusak sebagaimana
yang terdapat dalam agama Hindu.
Kedudukannya sebagai raja bangsa Aryan dan sekaligus sebagai
Kreshna, menurut Ahmadiyah telah dinubuwatkan dalam kitab
suci kaum Hindu, dimana dikatakan bahwa akan datang kelak
seorang Autar yang mempunyai spirit dan martabat seperti
Kreshna, atau sebagai buruz dari padanya, dan sudah
dipastikan, demikian Mirza Ghulam, bahwa aku inilah sang
Kreshna.
Untuk lebih meyakinkan terhadap kedudukannya itu, putera
Mirza, Bashiruddin M.A. pernah mengatakan bahwa Tuhan
sendirilah yang mewahyukan pada Mirza bahwa ia adalah
Kreshna. Antara lain Tuhan menurunkan wahyu:
“Engkau ya Mirza adalah Kreshna, namaku telah
dinyanyikan dalam kitab suci Gita.”5
Peristiwa diatas tersebut, yakni turunnya wahyu pada Mirza
sebagai sang Kreshna, mempunyai keistimewaan yang perlu
digarisbawahi. Mula-mula Tuhan sendirilah yang mengabarkan
bahwa dalam kitab suci Gita pujian terhadap Mirza telah
dinyanyikan. Dan yang menarik lagi bahwa wahyu di atas
disampaikan pada Mirza Ghulam oleh Tuhan, dalam bahasa
India. Maka tidak ragu-ragu lagi kalau orang-orang India
akan meyakini kabar tersebut! Dengan kata lain, Mirza Ghulam
Ahmad maupun puteranya dan alirannya ingin menunjukkan sikap
berbaik hati dan bertoleransi bahkan telah beriman pula
terhadap kitab suci kaum Hindu. Bukankah Tuhan Mirza alias
Tuhannya ummat Islam, yang menyebut-nyebut “Gita,” kitab
suci orang-orang Hindustan itu? Apakah Ahmadiyah akan
mengatakan bahwa Tuhannya Mirza juga menyebut-nyebut nama
kitab suci golongan Kristen, yakni kitab Beibel untuk
kepentingan Mirza Ghulam?
Mungkin kalau Mirza Ghulam yang berkompromi dengan kaum
Hindu, itu masih bisa diterima, akan tetapi kalau Tuhan yang
berbuat demikian untuk diri Mirza, maka jelas sudah itu
hanya suatu obrolan kosong. Lebih menarik lagi jika Tuhan
sampai-sampai menurunkan wahyu pada Mirza dengan kata-kata:
“Engkau juga adalah Brahman Avatar, dan engkau adalah
seorang yang telah dinubuwatkan semua nabi-nabi.”6
Terus-menerus tiada henti-hentinya, Mirza Ghulam menyusun
seluruh pangkat dan gelar-gelarnya. Ia juga seorang yang
digelari Rahmat Mujassam, yakni rahmat untuk keluarga,
rahmat untuk kawan, rahmat untuk musuh, rahmat untuk
tetangga, pembantu-pembantu, peminta-peminta dan untuk ummat
manusia.7 Rahmat (?) yang diberikan pada musuh, tetangga,
dan ummat manusia oleh Mirza, akan merupakan cerita yang
menarik dan sangat mengesankan.
Selanjutnya Mirza Ghulam Ahmad dikenal juga sebagai Sultanul
Kalam, yakni raja di raja penulis yang karya-karyanya tiada
tolok bandingannya.8 Sebagai Sultanul-kalam, Mirza Ghulam
ternyata memiliki mu’jizat bahasa Arab dan untuk ini ia
mengajukan tantangan pada siapa saja yang berani menandingi
keistimewaan bahasa Arabnya. Bashiruddin Mahmud Ahmad
berkata:
“Tuhan telah mengkurniai Mirza Ghulam Ahmad ilmu bahasa
Arab yang luar-biasa, bahkan tidak dapat ditandingi
sekalipun oleh mereka yang empunya bahasa itu sendiri.
Untuk menyebarluaskan permaklumannya itu, ia telah
menulis dan menerbitkan buku-buku dalam bahasa Arab
kemudian menantang musuh-musuhnya, termasuk
penulis-penulis di negeri Arab, Mesir dan Syria,
andaikata mereka ini masih meragukan kedudukan Mirza
Ghulam Ahmad. Tentu saja jawaban atas tantangannya
harus dengan bahasa Arab pula. Namun kalau dilihat pada
karya-karya Mirza, bagaimana keindahan sastranya,
syair-syairnya, dan kehebatan serta kepadatan maknanya,
maka tidak seorangpun yang akan berani muncul sebagai
penantangnya. Buku-buku hasil karyanya itu sampai
sekarang masih ada, dan kami masih membuka front bagi
siapa yang berminat menandinginya.”9
Siapa pula yang berani menantang bahasa Arab Mirza Ghulam?
Tidak seorangpun yang menjawab tantangan itu! Bahkan, kata
Ahmadiyah melanjutkan, juga syed Rasyid Ridha yang pernah
mendapat tantangan itu, tidak berani menjawabnya.10 Apa
sebab Mirza Ghulam Ahmad konon menguasai bahasa Arab tak
terkalahkan? Ahmadiyah menjawab:
“Perbendaharaan kata-kata beliau bertambah secara
sangat ajaib, 40.000 kata dasar diperoleh Mirza Ghulam
hanya dalam waktu satu malam saja!”11
Akhirnya Bashiruddin M.A. putera Mirza Ghulam itu, berkata:
“Kemu’jizatan bahasa Arab Mirza Ghulam Ahmad, menyamai
kemu’jizatan Al-Qur’an ul-Karim.”12
Jika demikian kedudukan bahasa Arab Mirza Ghulam, maka ia
benar-benar raja di raja pena. Apakah ia juga raja untuk
bahasa Urdu, Parsi dan Inggris? Kita akan tahu kelak
bagaimana contoh dari bahasa Arabnya Mirza Ghulam yang tak
terkalahkan itu.
Dan yang paling menarik dari kehebatan bahasa Arab Mirza
Ghulam Ahmad, ialah sebagaimana yang diceritakan sendiri
olehnya, bahwasanya segala yang diucapkan Mirza Ghulam
adalah ayat-ayaf suci yang diawali dengan
Bismillahir-Rahmanir-Rahim, serta meyakini isi dari
ayat-ayatnya sebagaimana meyakini ayat-ayat Al-Qur’anul
Karim.13 Itulah ciri-ciri khasnya bahasa Arab Mirza.
Masih meneruskan tentang pangkat-pangkatnya, dikatakan oleh
Ahmadiyah maupun oleh Mirza sendiri, bahwa dari sudut tugas
memperbaiki keadaan ummat dan membereskan masalah-masalah
yang dipertikaikannya baik yang menyangkut Sunnah dan
Hadits, beliau Mirza Ghulam Ahmad adalah Imam Mahdi.14
Kemudian dilihat dari sudut tugas menghadapi Dajjal dan
fitnah-fitnahnya yang hebat di akhir zaman ini dan tugas
menghadapi musuh-musuh Islam dengan keterangan-keterangan
yang nyata dan tak terpatahkan, beliau adalah Al-Masih yang
dijanjikan.
Perihal kedudukannya sebagai Al-Masih itu, oleh karena
munculnya di kalangan Islam, maka Mirza Ghulam Ahmad
bergelar Al-Masih Al-Muhammady, sebab Al-Masih yang pertama,
yakni Isa Al-Masih adalah Al-Masih Al-Israeli.15 Mirza
Ghulam Ahmad ternyata masih menggosok-gosokkan lampu
aladinnya, atau ia semacam lipan berkaki seribu, ambisinya
untuk memiliki seluruh pangkat kerohanian, masih disusunnya
lagi. Dan inilah klimax dari cita-citanya. Mula-mula ia
mengaku sebagai Nabi, akan tetapi bukan Nabi yang membawa
syari’at melainkan sebagai Nabi Ummati, yakni nabi dari
ummatnya nabi Muhammad s.a.w. Sebagai nabi ummati, Mirza
Ghulam bisa juga memakai gelar-gelar seperti: nabi ghair
tasy’ri’, nabi buruzi, nabi zilli, nabi majazi, nabi
lughowi, yang kesemuanya hanya menunjukkan sebagai bayangan
atau pantulan atau nabi dari ummat nabi Muhammad s.a.w.
Akan tetapi karena Mirza memiliki lampu Aladdin, apa
kehendaknya pasti terkabul. Bahkan ternyata ia bukan saja
sebagai nabi bayangan tetapi sebagai nabi yang membawa
dekrit dari Tuhan yang mungkin disetarakan dengan syari’at.
Last but not least, Mirza Ghulam ternyata mengangkat dirinya
sebagai Rasul Allah dengan sekaligus memperolen sanjungan
s.a.w. (sallallahu alaihi wasallam).16
Apa lagi yang belum menjadi miliknya? Ternyata Mirza masih
mengumpulkan lagi pangkat-pangkat yang luar-biasa. Ia harus
menjadi segala-galanya. Ia berkata dengan bangga:
“Sesungguhnya Allah telah memberiku semua nama-nama
dari para Nabi.”17
Yakni bahwa Mirza Ghulam Ahmad boleh dipanggil dengan
panggilan nama-nama semua nabi.. Sesungguhnya, berkata Mirza
Ghulam:
“Bukan saja, aku ini dipanggil dengan nama Isa anak
Maryam, bahkan semua nabi baik nama mereka maupun
martabat mereka telah aku terima dari Allah. Itulah
sebabnya sebagaimana yang dijanjikan Tuhan dalam
Baraheen Ahmadiyya, aku ini adalah Adam, aku Nuh, aku
Ibrahim, aku Ishaq, aku Ya’kub, aku Ismail, aku Musa,
aku Daud, aku Isa, anak Maryam, dan aku Muhammad dalam
arti buruznya.”18
Dengan martabat para nabi yang ia miliki itu, maka Mirza
Ghulam Ahmad sanggup menonjolkan beberapa mu’jizat dari para
nabi, maupun mengalami beberapa peristiwa seperti yang
dialami mereka.
Satu nama lagi yang ia terima dari Tuhannya ialah:
Abdulkadir, entah untuk panggilannya itu ia sejajar dengan
sayidina Abdulkadir Jaelani, atau Abdulkadir yang lain,
kurang jelas.19
Demikianlah cerita tentang nama, pangkat gelar dan kedudukan
yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad. Dan sekedar untuk
menyegarkan pikiran, inilah keseluruhannya itu: Mirza Ghulam
Ahmad adalah kibriti ahmar, hajar aswad pelindung telur
Islam, penjaga kebun Allah, bulan purnama, satu Nur, Guru
Jagat, Fadhlan kabiran, Rahmat Mujassam, Sultanul kalam,
Raja Aryan. Mujaddid, Mujaddid Akbar, Khatamul Aulia’,
Khatamul Khulafa’, Imam Zaman, Imam Mahdi Al-Ma’hud, Hakim
yang adil, Al-Masih Al-Mauud, nabi buruzi, nabi dengan
dekrit Tuhan, Rasul Allah s.a.w., Abdulkadir, Adam, Nuh,
Ibrahim, Musa, Isa, Ya’kub, Ishaq, Daud, Ismail, dan semua
nabi. Aku adalah Kreshna, Brahman Avatar, dan aku adalah
Kodrat Tuhan yang berjasad.20 Perihal akhlak dan perangainya
maka Mirza GhulamAhmad adalah: Seekor singa jantan yang
tampil ke depan, pemaaf, penutup kekurangan orang lain,
pemurah, setia, rendah hati, sabar, syukur, memadakan yang
ada, pemalu, tunduk mata, menjaga diri dari segala
keburukan, rajin, mencukupkan dengan yang dapat, tidak suka
formalitas, sederhana, menyayangi, adab Ilahi, adab Rasul,
dan orang-orang suci Agama, pendamai, tidak suka
berlebih-lebihan, suka melaksanakan kewajiban, suka memenuhi
janji, terampil, bersimpati, suka menyebar agama, mendidik,
indah dalam pergaulan, pengamat harta, berwibawa, kesucian,
periang, penyimpan rahasia, ghairat, ihsan, pemelihara
martabat orang, baik sangka, bersemangat, ulul’azam,
penjaga-diri, tenang berpikir, menahan amarah, menahan
tangan dan lisan dari perbuatan lancang, berkorban, waktunya
selalu penuh, mengatur perkembangan ilmu dan ma’rifat,
pencinta Tuhan dan RasulNya, pengikut Rasul yang sempurna,
mempunyai daya tarik magnitis, satu daya penarik yang ajaib
disegani, berbakat kecintaan, katanya mengesankan, doanya
makbul.21
Itulah Mirza Ghulam Ahmad, tidak ada satu kekurangan lagi
bukan? Itulah keinginannya dan untuk itulah puteranya maupun
pengikut-pengikutnya percaya tanpa reserve. Siapa yang tidak
percaya dan tidak mengakui sebagai Imam Zaman dimana
tercakup kenabian dan kerasulannya, maka matinya mati
jahiliyah of mati kafir.22
Catatan kaki:
1 Analyst, Facts about Ahmadiyya Movement, 1951,
Ahmadiyya Anjuman Isha’at-l-Islam, Lahore, hal. 28: (I
am that Hajar-i-Aswad that has been accepted on this
earth by the people and is touched by them for
blessing).
2 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Khutbat-ul-ilhamiyah, hal. 82.
3 lih. Malik Aziz Ahmad Khan, Jasa Imam Mahdi a.s., hal. 139
4 lih. The Review of Religions, March 1966, Rabwah,
hal.79: (we find that in the country known as India, a
Prophet of God has gone before, in the ages of past,
who bore the name “Kreshna,” he was also called
Ruvaddar Gowpal (i.e. destroyer, on one side, sustainer
and developer, on the other). This name too, has
bestowed on me. Since, therefore, the Aryan people,
these days, are awaiting the second advent of the Lord
Krishna, I am that Krishna. I am not making claim
purely on my own behalf; Allah has revealed to me, time
and time again, that the Knshna expected to appear
towards the latter days, was none other than my self -
King of the Aryans.)
5 lih.Basharuddin M.A, Ahmadiyya Movement, hal. 4:
(Brahman av-tar sa mo-kwa-bi-la achha na-heen. Aye
Krishna dar Go-pal teri meh-ma Geeta men hai. (Thou an
the Blessed Krishna, the cherisher of Cows, and thy
praise is chanted in the Gita.)
6 lih. Bashiruddin M.A., Ahmadiyya Movement, hal.4
7 lih. Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau’ud a.s., hal. 47
8 lih. Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau’ud a.s. hal. 47
9 Bashiruddin M.A., Ahmadiyya Movement, hal. 115:
(…, he made an announcement that God has bestowed
upon him an extraordinary knowledge of and command
over, the Arabic language which could not be matched
even by those whose mother tongue was Arabic. In
persuance of this announcement he wrote and published
several books in Arabic and called upon his opponents,
including the people of Arabia, Egypt, and Syria, if
they doubted his claim, to write books in Arabic, which
should, in point of literary style, purity of diction,
beauty of composition and the excellence and pregnancy
of meaning, match those written by himself, but none
has so far dared to take up the challange. The books
written by him are still extant, and we still claim
that they cannot be matched, and that God’s hand would
be raised against any person who presumes to make an
attemp to match (them.)
10 lih. Bashiruddin M.A., Invitation, Rabwah, Ahmadiyya
Muslim Foreign Missions 1961, hal. 97: (Arabs were
included in the challenge, one book being specially
addressed to Syed Rashid Riza of Al-Manar. The Syed did
not accept the challenge.)
11 lih. Bashiruddin M.A., Invitation, hal. 97: (When
the Ulama had done their worst, God granted him special
knowledge of the Arabic language. His vocabulary grew
miraculously to 40.000 root-words in a single night.)
12 lih. Bashiruddin MA., Invitation, hal. 97. (This
miracle of language imitates the miracle of the Holy
Quran. It is a sign of the Promissed Messiah’s truth.)
13 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Istifta’, hal.77: (wa
nu’minu biha kama nu’minu bi kitabillah khaliqil Anaam,
wahii hadzihi: bismillahirRahmanirRahim)
14 lih. Saleh A.Nahdi, Selayang Pandang Ahmadiyah, hal.
29, serta hampir semua kitab-kitab Ahmadiyah.
15 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Khutbat-ul-Ilhamiyah,
hal. dzal dan hal. zai. Juga oleh sdr. Drs Bahrum
Rangkuti (sekjen) Departemen Agama pada puisinya yang
berjudul “Silaturahmi (II)” pada halal bihalal di-Bali
Room dari masyarakat Sumut 29/12/’69, menyebut Isa a.s.
sebagai al-Masih al-Israeli.
16 M.G.A., Khutbat-ul-Ilhamiyah, hal. muka, perlunya
seorang Imam zaman, hal. 32, Tuhfah Bagdad, hal. muka
dan lainnya.
17 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-lstifta’, hal. 82:
(sammani rabbi ibrahim wa kadzanka sammani bi jama’i
asmail-anbiya min adam ila khatimurusl)
18 lih. The Review of Religions, Mart 1966, hal.10:
(But, in the heavenly records. Isa, the son of Mary, is
not only the name given to me: I have other names as
well, twenty six years ago, which Allah made me put
down in the pages of Baraheen-i-Ahmadiyya. There is no
prophet of God whose name and qualities Allah has not
bestowed on me. Therefore, as God has promised in
Baraheen-i-Ahmadiyya, I am Adam. I am Noah, I am
Abraham, I am Isaac, I am Jacob, I am Ismail, I am
Moses, I am David, I am Isa, the son of Mary; and I am
Muhammad, in a sense and manner I call burzi.)
19 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Thuhfah Bagdad, Rabwah
Matba’ah An-Nadrah, 1377, hal 29: (ya Abdulkadir inni
ma’aka asman wa araa).
20 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-wasiyat-Neraca Trading
Company-Jakarta 1949, hal . 12
21 lih Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mauud a s, hal. 85/86
22 lih. Mirza Ghulam Ahmad, perlunya seorang Imam
Zaman, hal. 10/32.
4.1 CIUMAN JUDAS1
Kedudukan, pangkat-pangkat serta tingkah laku yang
dipamerkan oleh Mirza Ghulam Ahmad, putera dan cucunya
maupun oleh pengikut-pengikutnya yang tiada
tolok-bandingannya, pada hakikatnya hanyalah merupakan
perisai atau selubung dari kelemahan, kepalsuan yang
terdapat didalam diri Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya.
Demikianlah satu kelemahan harus dilindungi banyak kekuatan,
barulah persembunyian itu berhasil lolos dari setiap
pencaharian. Akan tetapi satu keanehan telah terjadi, bahwa
kekuatan-kekuatan yang dipamerkan Ahmadiyah itu, ternyata
menjadi boomerang memukul balik pada dirinya sendiri.
Kekuatan-kekuatan dalil yang dipakai tentang kemahdian Mirza
Ghulam Ahmad, kealmasihannya, kenabian dan kerasulannya
akhirnya menjadi satu bahan yang menarik untuk dibicarakan.
Justru pada posisi-posisi Mirza Ghulam yang berat itulah, ia
dan alirannya menutup semua kemungkinan bagi lolosnya suatu
penelitian terhadap dirinya. Kubu-kubu pertahanan yang
dibangun Mirza dan Ahmadiyahnya dalam masalah ke-mahdian
kealmasihan, kenabian maupun kerasulannya, merupakan
kubu-kubu yang ampuh untuk diterobos.
Akan tetapi, sebagaimana dikatakan tadi, satu keanehan telah
terjadi; justru daripada pertahanan yang tertutup rapat itu,
secara tidak sengaja pintu-pintu rahasia dari kubu-kubu
pertahanan Ahmadiyah, terbuka lebar dan mereka sendirilah
yang membukanya. Bahkan boleh dikata ibarat tubuh
bertelanjang bulat di hadapan cermin seiarah, Mirza Ghulam
Ahmad dan Ahmadiyahnya telah mempertontonkan segala jenis
kemunafikannya yang paling samar sekalipun. Padahal
Ahmadiyah pada zhahirnya menyuguhkan ajaran-ajarannya ke
tengan-tengah masyarakat diluar Jemaatnya, dengan segala
macam kalimat-kalimat puji dan puja kepada Allah dan Nabi
Muhammad s.a.w.
Penjelasan-penjelasan yang menarik yang disajikan Mirza dan
Ahmadiyahnya tentang sebab-sebabnya mengapa ia harus menjadi
nabi, rasul dan sebagainya itu, menurut Ahmadiyah sama
sekali tidak mengandung maksud untuk mengecilkan kedudukan
Nabi Muhammad s.a.w. Mirza Ghulam Ahmad, kata Ahmadiyah,
tidak lain hanyalah khadim nabi Muhammad, melanjutkan serta
menerangkan ajaran-ajaran tuannya.2 Bahkan Mirza Ghulam
adalah orang pertama yang jatuh cinta pada Nabi Muhammad.
Dalam syairnya Mirza Ghulam berkata:
“Lihatlah kepadaku dengan pandangan rahmat
dan kasih wahai penghuluku.
aku adalah seorang sahayamu yang paling hina dina.
wahai kekasihku,
cinta kepadamu sudah amal meresap dalam jiwa ragaku,
ke dalam jantungku dan benakku.
wahai taman firdaus dari seluruh kegembiraanku!
Alam pikiranku tidak pernah sunyi sesaat atau
sedetikpun dari mengenang engkau.
Jiwaku sudah menjadi milikmu.
Jisimkupun bercita-cita benar ingin terbang
ke hadiratmu.
alangkah bahagianya bila dalam diriku ada daya
untuk terbang.”3
Dalam syairnya yang lain, Mirza Ghulam berkata lagi:
“Sesudah asyik kepada Allah, akupun mabuk pula pada
keasyikan terhadap Muhammad. Kalau ini dikatakan kufur,
maka demi Tuhan akulah orang yang sangat kafir!”4
Bahkan dari keasyikan Mirza Ghulam kepada Nabi Muhammad,
menurut Ahmadiyah, ia telah fana fir-rasul yakni pada
dirinya membayang wujud yang mulya Rasulullah s.a.w.5
Malahan bila diperhatikan benar-benar, Mirza Ghulam adalah
kenabian Muhamadiyan juga, yang zhahir dalam suatu cara yang
baru. Ibarat melihat cermin, demikian Ahmadiyah melanjutkan,
kamu tidak menjadi dua, bahkan kamu tetap satu juga adanya,
kendatipun nampaknya dua.6 Salah seorang pengikut Mirza yang
setia menceritakan bahwa ia pernah melihat dalam mimpi,
wujud suci Hadrat Rasulullah Muhammad Mustafa s.a.w. adalah
juga merupakan wujud suci Hadrat Mirza Ghulam Ahmad, Masih
Ma’uud a.s. Aku tidak ingat, demikian sahibul mimpi
melanjutkan, apakah lebih dahulu melihat Mirza sahib Mirza
Ghulam Ahmad atau melihat wujud suci nabi Muhammad s.a.w.
Tetapi yang jelas ialah kedua wujud suci itu telah
diperlihatkan dalam keadaan hanya merupakan satu wujud suci.
Hal ini mengandung arti, bahwa pada masa kini, pantulan dan
kazhahiran yang sempurna dari wujud suci nabi Muhammad
adalah wujud Mirza Ghulam Ahmad.7
Apakah yang demikian itu, tidak suatu penghormatan pada nabi Muhammad oleh Mirza Ghulam?! Maka, terimalah nabi yang datang dari Allah ini, demikian seru seorang Ahmadiyah.
Akan tetapi dilain kesempatan datang ancaman keras dari Ahmadiyah pada mereka yang tidak mau percaya pada kenabian Mirza, dengan kata-kata lantang:
“bahwa semua orang Islam harus percaya pada nabi Mirza Ghulam Ahmad; kalau tidak, berarti mereka tidak mengikuti ajaran-ajaran Al-Qur’an. Dan siapa-siapa yang tidak mengikuli Al-Qur’an maka ia bukan muslim. Dan
barangsiapa mengingkari seorang nabi, menurut istilah agama Islam disebut kafir!”
Demikian Ahmadiyah, mula-mula mereka memuji-memuji Nabi
Muhammad, kemudian minta agar ia diakui sebagai nabi,
akhirnya ia mengancam vonnis kafir bagi siapa-siapa yang
tidak mau percaya kenabiannya. Jelas disini adanya
watak-watak munafik pada diri Mirza Ghulam maupun
pengikut-pengikutnya.
Namun demikian apakah benar kaum Muslimin tidak mengikuti
ajaran-ajaran Al-Qur’an bila tidak mengakui Mirza Ghulam
Ahmad sebagai nabi? Untuk menjawab soal diatas sebaiknya
kita lebih jauh melihat ajaran-ajaran Ahmadiyah tentang
sebab-sebabnya mengapa Mirza Ghulam memakai gelar nabi.
Dalil-dalil yang dipakai Ahmadiyah guna menguatkan landasan
bagi tegaknya kenabian maupun kerasulan Mirza Ghulam, ialah
dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits. Tentu saja menurut penafsiran cara-cara mereka sendiri. Mula-mula dalil yang dipakai, berkisar pada ayat “khataman nabiyin” dalam surah Al-Ahzab ayat 40. Kata khatam disitu menurut Ahmadiyah bukan berarti “penutup” melainkan termulya. Jadi nabi Muhammad adalah nabi yang “termulya,” bukan nabi penutup. Oleh karena
itu pengertian yang diberikan oleh sebagian orang-orang Islam terhadap kata khatam dengan pengertian pintu wahyu tertutup, bertentangan dengan kandungan Al-Qur’an dan sabda-sabda Rasulullah s.a.w.[10 lih: Saleh A.Nahdi, Selayang pandang Ahmadiyah, hal. 33.]
Catatan kaki:
1 Dalam kisah Beibel dikatakan, bahwa bila Judas
mencium Yesus, itu tidak berarti ia cinta pada Gurunya,
melainkan ia telah merencanakan suatu pengkhianatan
yang keji.
2 lih: Saleh Nahdi, selayang pandang Ahmadiyah, hal.41.
3 lih: Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau’ud a.s., hal. 22
4 lih: Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau’ud a.s., hal. 17.
5 lih: Mirza Ghulam Ahmad, Ajaranku, terjemah R. Ahmad
Anwar, 1966, Wisma damai, Bandung, hal. 20.
6 lih: idem nomer. 4, hal. 20
7 lih: Sinar Islam, Januari/Pebruari/Maret/April 1974,
No: 5-6, hal. 34.
8 lih: Saleh A.Nahdi, Selayang pandang Ahmadiyah, hal.41.
9 lih. Syafi R. Batuah Ahmadiyah Apa, dan Mengapa?,
Jakarta, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1968, hal. 19.
4.2 VONNIS YANG MENGEJUTKAN
Oleh karena itu, demikian Ahmadiyah melanjutkan, perlu
kiranya dijelaskan ala kadarnya arti “khataman” didalam ayat
tersebut yang dijadikan sumber salah mengerti oleh sebagian
orang.1
Kata-kata: bertentangan dengan kandungan Al-Qur’an dan
sabda-sabda Rasulullah, dan kata-kata: sumber salah
mengerti, tampaknya tidak mempunyai effek-effek yang berat
pada mereka “sebagian orang itu.” Padahal kenyataannya itu
adalah sebaliknya; effek-effek itu telah disuarakan sendiri
oleh Ahmadiyah, yaitu effek yang paling berat bagi “sebagian
orang itu,” yakni bagi orang-orang yang menentang kandungan
Al-Qur’an dan sabda Nabi Muhammad s.a.w. adalah kafir buat
mereka. Kemudian kata-kata: “sebagian orang-orang Islam,”
kami garis-bawahi, oleh karena kata-kata tersebut
seolah-olah tidak mengandung problema yang serius atau
persoalan-persoalan yang perlu dibahas; demikian
kelihatannya. Padahal jika diteliti dengan seksama kata-kata
sebagian orang-orang Islam itu, mengandung isi yang berat
atau jumlah yang sangat banyak. Sebagian orang tentunya
orang-orang sang berada di luar Ahmadiyah, dan kalau
dibandingkan dengan jumlah pengikut-pengikut Ahmadiyah maka
sebagian orang-orang itu, mungkin sudah dua-ratus kali lebih
banyak dari pengikut Ahmadiyah. Bahkan lebih dari itu,
mungkin sudah empat ratus juta kaum Muslimin yang oleh
Ahmadiyah dikatakan: “telah bertentangan dengan kandungan
Al-Qur’an dan sabda-sabda Rasulullah s.a.w. atau dengan kata
lain, tidak mengikuti Al-Qur’an dan sabda Nabi s.a.w. atau
dengan kata lain tidak mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai
Nabi atau dengan kata lain, mengingkari seorang nabi Mirza
Ghulam, yang menurut istilah Islam adalah kafir!2
Tegasnya ratusan juta kaum Muslimin yang non Ahmadiyah
adalah kafir, demikian vonnisnya kaum Mirza Ghulam Ahmad.
Maka untuk kata-kata: “sebagian orang-orang Islam” itu
hendaknya dihapus saja dan sebaliknya Ahmadiyah
berterus-terang bila menyebut jumlah yang sebenarnya, jangan
bermain diplomasi. Belum lagi kaum Muslimin yang hidup
sebelum pendiri Ahmadiyah itu muncul, generasi-generasi
sampai pada Tabi’in dan para Sahabat Nabi s.a.w., mereka
telah bertentangan dengan faham Ahmadiyah yang menabikan
orang dari Qadian itu, dan alangkah malangnya nasib mereka
yang salah mengerti itu. Ataukah mereka adalah orang-orang -
hanifan, karena belum kedatangan seorang nabi (Mirza Ghulam
Ahmad)?!
Pendirian bahwa Ahmadiyahlah yang haq, oleh karena hanya
mereka yang memiliki nabi baru itu, maka untuk
persiapan-persiapannya untuk menguatkan landasan berpijaknya
Mirza Ghulam Ahmad diatas kenabiannya itu, tidak
tanggung-tanggung lagi, mereka menggunakan dalil-dalil
Al-Qur’an dan sabda-sabda Nabi Muhammad s.a.w.
Kemball pada pegangan mereka yang mula-mula yakni kata
“khatam” dari khataman nabiyin, menurut Ahmadiyah, perkataan
khatam adalah perkataan yang ratusan kali dapat dijumpai
dalam kata-kata lainnya yang menerangkan arti yang jelas
yaitu bukan penghabisan atau penutup. Didalam Itqaan juz I
ditulis, bahwa Imam Suyuthi adalah “khatam” bagi orang-orang
Muhaqqiq, padahal orang Muhaqqiq (penyelidik) tidak pernah
henti-hentinya di dunia ini. Muhammad Rasyid Ridha, pujangga
Mesir yang kenamaan menulis dalam tafsir Fatihahnya halaman
148 tentang Syeikh Muhammad Abduh: “khatimul – A-immah ini
tidak berarti Muhammad Abduh itu sebagai penutup dari
pemimpin-pemimpin (Imam). Seorang penyair yang kenamaan
yaitu Abu Tamam dikatakan “khatam Asy-Syu’ara” penyair yang
termulya. Tentu tidak dapat dikatakan penutup dari semua
penyair yang penghabisan. Singkatnya arti khatam tidak lain
ialah mulya dan kalimat tersebut dalam ayat tadi dimaksudkan
Nabi Muhammad s.a.w. sebagai Nabi termulya dari semua
nabi-nabi.3 Demikian Ahmadiyah menjelaskan.
Benarkah bahwa Suyuthi, Abduh dan Abu Tamam adalah
orang-orang yang digelari “khatam”? Jika salah seorang
muridnya atau banyak muridnya atau semua
pengikut-pengikutnya mengatakan bahwa Suyuthi adalah
Muhaqqiq termulya, Abduh adalah Imam yang termulya, dan Abu
Tamam adalah penyair yang termulya, maka biarkanlah mereka
berkata demikian. Itu adalah hak mereka. Bahkan jika mereka
mengatakan bahwa ketiga orang tersebut bergelar yang
penghabisan atau penutup, itupun adalah hak mereka.
Keyakinan yang mereka utarakan tentang ketiga orang itu
adalah relatip. Kita dan siapapun juga berhak untuk menolak
kedudukan khatam pada mereka itu.
Sebaliknya, jika Ahmadiyah mempopulerkan pengertiannya
tentang khatam dalam khataman nabiyin dari Al-Ahzab ayat 40
itu dengan menuduhkan pada ratusan juta kaum Muslimin bahwa
pendapat mereka telah bertentangan dengan kandungan isi
Al-Qur’an dan sabda Nabi Muhammad s.a.w.. yang menimbulkan
effek paling berat dalam pandangan Agama Islam, yakni
menjadi kafir, belum lagi mereka-mereka yang hidup sebelum
munculnya tokoh Qadian itu sampai pada para Tabi’in dan
sahabat-sahabat Nabi, maka atas penilaian Ahmadiyah yang
gegabah itu, akan kita lihat satu persatu.
Selanjutnya Ahmadiyah mengatakan bahwa sekiranya sebagai
perumpamaan kita terima arti dan pengertian sementara
orang-orang itu, bahwa khatam itu berarti penutup, dapat
pula diartikan penutup, nabi-nabi yang membawa syariat.4
Sekali lagi Ahmadivah ingin mendekatkan pengertiannya dengan
pengertian kaum muslimin. Namun untuk menyebut bahwa Nabi
Muhammad adalah Nabi pertutup yang membawa syariat,
pengertian yang demikian tidak bisa diterima.
Pengertian yang benar adalah yang diberikan oleh ratusan
juta kaum muslimin, bahwa Nabi Muhammad adalah penutup
segala nabi-nabi. Tidak lagi ditambahi, yang membawa
syari’at. Itu hanya satu helah, dimana Ahmadiyah akan
berkata bahwa kesempatan untuk datang nabi baru sesudah Nabi
Muhammad akan ada. Dan satu hal yang pasti bagi mereka bahwa
nabi yang akan datang itu telah ada, yakni Mirza Ghulam
Ahmad, dengan tambahan di belakangnya: nabi ghair tasyri’
(nabi yang tidak membawa syariat).
Jika Ahmadiyah mengatakan lagi bahwa sebab-sebab turunnya
ayat 40 dari surah Al-Ahzab itu, juga dikarenakan atau
dimaksudkan Allah untuk membela nama baik nabi Muhammad
dikarenakan beliau mengawini bekas istri anak angkatnya,
maka andaikata yang diniatkan mereka itu demikian, justru
jalan yang mereka tempuh itu keliru. Jelasnya, bahwa
Ahmadiyah dengan hanya mengutamakan kata khataman nabiyin
saja yang diartikan termulya, mereka merasa telah mengangkat
nama baik Nabi Muhammad s.a.w.; padahal yang utama dari ayat
40 Al-Ahzab itu terletaknya pada ayat: “Aba Ahadin min
rijalikum” (bukan ayah seorang di antara laki-laki kamu),
hal ini telah diabaikan dan di sinilah letak salah jalannya
mereka.
Surah Al-Ahzab ayat 40, adalah mengandung salah-satu hukum
dari hukum-hukum Allah untuk menunjukkan pada kaum kuffar
bahwa apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad s.a.w. yakni
mengawini bekas istri anak angkat beliau (Zaid) adalah boleh
dan haq. Inilah hukum Allah dan inilah pembelaan Allah pada
Rasul-Nya. Adapun ayat “Rasulullah” dan “khataman nabiyin”
pengertiannya adalah pesuruh Allah dan Nabi penutup semua
nabi. Pengertian inipun adalah hukum Allah, ketetapanNya
yang harus diketahui semua manusia, termasuk orang-orangnya
Mirza Ghulam Ahmad, bahwa jumiah 124 ribu nabi itu telah
diakhiri dengan kenabian Muhammad s.a.w.
Ahmadiyah mengatakan, bahwa ayat tersebut tidak ada
hubungannya sedikitpun dengan soal ada atau tidak adanya
Nabi sesudah Nabi Muhammad s.a.w., padahal justru beberapa
kitab-kitab Ahmadiyah berbicara tentang khataman nabiyin
dari Al-Ahzab ayat 40 itu, selalu menghubung-hubungkan
dengan alasan-alasan yang memungkinkan munculnya nabi
sesudah Ke-Nabian Muhammad s.a.w. Kenyataannya Ahmadiyah
berbicara:
“Banyak orang mengatakan bahwa kata “Khataman
Nabi-”yin” yang tercantum dalam Al-Qur’an Surah Ahzab
ayat 40 maknanya ialah Nabi Muhammad s.a.w. itu Nabi
penutup dengan pengertian, bahwa sesudah beliau tak
akan datang lagi Nabi sekalipun hanya nabi-ikutan atau
nabi tak membawa syari’at. Benarkah arti ayat termaksud
demikian? Ahmadiyah menjawab: “Baik menurut sebab
musabab turunnya ayat, menurut jalan uraian Al-Qur’an
mengenai soal kenabian menurut pengertian Rasulullah
s.a.w. dengan para sahabat menurut para pujangga dan
orang suci terdahulu maupun menurut lughah, pengertian
tersebut di atas tidak benar.”5
Jelasnya Ahmadiyah selalu menghubung-hubungkan ayat 40
Al-Ahzab itu dengan soal ada atau adanya nabi sesudah nabi
Muhammad.
Maka untuk pengertian kata “khatam” dari khataman nabiyin
surah Al-Ahzab ayat 40 itu, tidak ada arti lain selain
pengertian: penutup! Dan tidak perlu menambah embel-embel
syari’at di belakang penutup itu. Demikian tafsir Jalalain
Al-Misbahul-Munir, tafsir Syaukani, tafsir Kabir (Mafatihul
ghaib) dari Muhammad Arrazi Fahruddin – Kairo-1324 H -
Amelia syarafia hal. 581, tafsir Ruhul Ma’ani (Alusi) sayid
Mahmud Alusi – 1270 H – juz 22 – Al-Muniriyah Mesir, hal.
30, juga tafsir-tafsir lainnya, tidak menyebutkan pengertian
lain melainkan arti “penutup” dari semua nabi-nabi.
Selanjutnya Ahmadiyah berkata; bahwasanya kalimat khatam
dapat pula dibaca “khatim” yang berarti hiasan bagi sang
pemakainya. Apabila diartikan demikian, maka Rasulullah
s.a.w. itu bagaikan hiasan indah bagi nabi-nabi. Dalam
Fathul-Bayan juga dikatakan, bahwa nabi Muhammad s.a.w.
adalah bagaikan hiasan cincin yang dipakai oleh para nabi
karena beliau nabi termulia.6 Kemudian masih dalam
pengertian khatam itu, Ahmadiyah berkata:
“Jadi, perkataan “khataman nabiyin” berarti cap atau
stempel daripada nabi-nabi. Yakni Nabi Muhammad s.a.w.
ialah kebagusan daripada segala nabi-nabi.”7
Ahmadiyah mengartikan cincin dan stempel buat Nabi Muhammad
sebagai kiasan dan menafsirkannya dengan kebagusan atau
termulia merupakan cara-cara orang yang telah kehabisan
bahan, hanya dengan maksud memanjang-manjangkan pujian palsu
pada Nabi s.a.w. Apakah bukan satu penghinaan, kalau Nabi
Muhammad dikiaskan sebagai cincin yang dipakai jari-jemari
para Nabi, dan stempel daripada Nabi-nabi? Yang patut ialah
jika Nabi Muhammad dikiaskan dengan benda maka seharusnya
para Nabi dikiaskan dengan benda juga. Misalnya baris-baris
kalimat dalam suatu surat (warkah) yang disudahi dengan
stempel. Baris-baris kalimat itu adalah para Nabi, warkah
itu adalah bumi, dan stempel (cap) itu adalah Nabi Muhammad
saw. Pada hamparan warkah itulah kalimat-kalimat yang rapi
merupakan barisan Nabi-Nabi dimana kesudahan dari baris
Nabi-nabi ditutup dengan stempel yakni Nabi Muhammad. Cap
atau stempel itu sendiri lebih bagus dan lebih mulia dari
barisan kalimat, dan cap itu pula yang menyudahi (menutup)
kalimat-kalimat itu. Pengibaratan inilah kiranya yang lebih
memadai dari pada cara-cara yang dikemukakan Ahmadiyah.
Catatan kaki:
1 lih: Saleh A.Nahdi, Selayang pandang Ahmadiyah, hal. 33.
2 lih: Syafi R. Batuah, Ahmadiyah Apa dan Mengapa?, hal. 19
3 lih: Saleh A. Nahdi, Selayang pandang Ahmadiyah, hal. 35
4 lih: Saleh A. Nahdi, Selayang Pandang Ahmadiyah, hal.35
dan lih: Saleh A.Nahdi, Soal-Jawab Ahmadiyah bag. I,
Ujung Pandang Rapen, 1972, hal. 11
5 lih: Saleh A.Nahdi, Soal-Jawab Ahmadiyah, hal. 8/10.
6 lih: Saleh A.Nahdi, Selayang Pandang Ahmadiyah, hal. 34.
7 lih: Bashiruddin Mahmud Ahmad, Jasa Imam Mahdi a.s.
4.3 DEMAGOOG QADIANI1
Bukan itu saja yang dipakai oleh Ahmadiyah untuk meluruskan
jalan buat kenabian Mirza Ghulam Ahmad, melainkan juga
mereka menggunakan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits.
Mula-mula Ahmadiyah berkata dengan lantangnya:
“Sekarang kita lihat arti khataman Nabiyin menurut
pengertian Nabi Muhammad s.a.w. sendiri. Apakah beliau
memahaminya, dalam arti tidak akan ada lagi Nabi
sesudah beliau.”2
Apakah beliau memahaminya, benarkah kalimat itu dipakai dan
ditujukan pada Nabi Muhammad?! Kiranya Ahmadiyah telah
melakukan keasalahan, ceroboh dan kurang-ajar dalam bahasa
dan akhlak terhadap Nabi.
Sebelum sampai pada ucapan-ucapan Nabi sendiri, marilah kita
lihat bagaimana Ahmadiyah mengutip dari ucapan Aisyah,
isteri Nabi Muhammad s.a.w.:
“Katakanlah Rasulullah itu khataman Nabiyin, tapi
jangan dikatakan tidak akan ada Nabi sesudah beliau.”3
Sungguh menggembirakan bahwa Ahmadiyah memperoleh landasan
berpijak yang kuat daripada ucapan isteri Nabi itu. Dengan
ucapan Aisyah itu, maka pintu kenabian sesudah Nabi Muhammad
terbuka lebar-lebar. Sudah tentu para pengikut Mirza
menyambut gembira ucapan Aisyah itu. Sekiranya perlu
menambah maka tambahkanlah ucapan-ucapan dari isteri-isteri
Nabi yang lain. Katakan juga bahwa Hafsah, Ummi Salamah
berkata seperti apa yang dikatakan Aisyah itu. Tentu saja
sangat lemah ucapan-ucapan demikian untuk dipakai menjadi
dasar.
Apakah beliau memahaminya? Seperti apa yang dikatakan
Ahmadiyah terhadap Nabi Muhammad s.a.w. demikian Ahmadiyah
mulai menggunakan Hadits-hadits untuk kepentingan. Mirza
Ghulam. Lima tahun sesudah turunnya ayat khataman Nabiyin,
demikian Ahmadiyah berkata, putera Nabi s.a.w. yang bernama
Ibrahim wafat. Dalam hubungannya dengan wafatnya putera
beliau ini, Nabi Muhammad s.a.w . bersabda:
“Sekiranya dia (Ibrahim) terus hidup niscaya dia
menjadi seorang Nabi yang benar. (Ibnu Majah).”4
Dari sabda Nabi tersebut di atas nyatalah pengertian Nabi
kita yang sebenarnya, pengertian yang tidak membenarkan
faham bahwa khataman Nabiyin berarti penutup Nabi-nabi.
Lebih jelas lagi Ahmadiyah mengatakan, bahwa sekiranya
Rasulullah berpengertian tidak akan ada Nabi lagi sesudah
beliau, niscaya tidak beliau katakan yang tersebut di atas.5
Ahmadiyah mengutip hadits tersebut dari ibn Majah jilid satu
halaman 234, yang kedudukannya tanpa menyebut-nyebut
sanadnya. Sedangkan kata “sekiranya” itu memberi arti “tidak
mungkin terjadi” sebab sekiranya Ibrahim hidup, padahal ia
telah wafat. Anehnya, sesudah seribu tahun lebih dari
kewafatan putera Rasulullah s.a.w. itu, ada seorang yang
berambisi mengambil-alih kesempatan yang mungkin ada pada
Ibrahim untuk menjadi Nabi, yakni Mirza Ghulam Ahmad.
Oleh karena segala kemungkinan adanya Nabi baru tidak akan
pernah ada dan tidak akan ada samasekali, bersabda Nabi
Muhammad:
“Kalau sekiranya ada Nabi sesudahku, maka Umarlah dia”
(Masnad ibn Hambal Umar bin Khattab masih hidup tatkala
Nabi Muhammad s.a.w. mengucapkan ucapan beliau
tersebut. Dan tatkala beliau s.a.w. telah lama pergi,
Umar masih ada, namun beliau hanyalah seorang Khalifah.
Ini bertepatan dengan sabda Rasul:
“Adapun bani Israil itu terpimpin oleh Nabi-nabi. Tiap
seorang Nabi wafat maka datanglah Nabi yang lain
mengikutinya. Dan sesungguhnya sesudah saya tidak akan
ada Nabi, melainkan Khalifah.” (Ibn Hambal, Muslim, Ibn
Majah)
Akan tetapi ambisi yang meluap-luap itu tidak memungkinkan
Mirza Ghulam mundur selangkah saja untuk membuang titel
kenabiannya. Juga ia tidak akan berkompromi pada siapa saja
untuk meninggalkan kerasulannya, keyesusannya, dan
kemahdiannya .
Saya ini Nabi, kata Mirza Ghulam Ahmad, dan saya bukan nabi
palsu! Sebab nabi palsu sudah diberi definisi oleh
Ahmadiyah, ialah, bahwa hidupnya singkat tidak lebih dari 23
tahun, setelah mana ia dan pengikut-pengikutnya hapus dari
muka bumi dengan tiada meninggalkan bekas, mereka tidak
memperoleh bantuan Tuhan.6
Dan kelahuilah bahwa Mirza Ghulam Ahmad hidup lebih dari 23
tahun. Untuk ini Ahmadiyah berkata:
“Beliau hidup lebih dari 23 tahun setelah menerima
wahyu dari pada Allah Ta’ala dan mengaku utusanNya.
Orang yang mengaku terima wahyu dari Allah Ta’ala dan
disiarkannya dengan pengakuannya sebagai utusan
daripada Allah Ta’ala dan dia hidup 23 tahun atau
lebih, maka (Qur’an mensahkan dakwanya. (seperti
tersebut di dalam surat Al-Haqqah: 45-47)”7
Menarik buat ditelaah, bahwa Ahmadiyah menggunakan limit
waktu 23 tahun, atau lebih untuk kebenaran suatu pendakwaan
kenabian sesudah Nabi Muhammad s.a.w. Bahkan Al-Qur’an yang
mensahkan kenabian baru itu seperti tersebut dalam surah
Al-Haqqah ayat 45-47. Padahal isi ayat itu tidak ada
hubungannya dengan pengesahan sesuatu kenabian baru. Ayat
dari Al-Haqqah itu terjemahnya sebagai berikut:
“Sebab itu biarkanlah Aku (menyiksa) orang-orang yang
mendustakan perkataan ini (Qur’an). Nanti akan Kami
turunkan (siksaan) kepada mereka sedikit demi sedikit,
sedang mereka tiada tahu. Aku beri mereka tempo,
sungguh tipu muslihatKu (siksaanKu) amat kuat. Bahkan
adakah engkau (ya Muhammad) meminta upah kepada mereka
lalu mereka merasa keberatan membayarnya? Atau adakah
di sisi mereka (ilmu) ghaib, lalu mereka
menuliskannya?”
Jelas ayat-ayat tersebut tidak mempunyai kaitan atau
hubungan apa-apa dengan dakwaan nabi baru sesudah ke-Nabian
Muhammad s.a.w.
Adapun alasan limit waktu yang dipakai Ahmadiyah yakni 23
tahun itu, adalah masa yang telah dilalui oleh perjuangan
Rasulullah s.a.w. Jika 23 tahun tersebut diterapkan oleh
Ahmadiyah pada Mirza Ghulam Ahmad, maka sungguh kelihatan
bahwa pegangan yang demikian itu adalah lucu. Andaikata ada
orang mengaku Nabi sesudah kenabian Muhammad s.a.w., dan ia
hidup lebih dari limapuluh tahun, menyiarkan kenabiannya dan
matinya tidak terbunuh, maka kenabiannya itu tetap sebagai
satu kepalsuan. Abad-abad terakhir ini banyak
kepalsuan-kepalsuan bertahan berpuluh-puluh tahun bukan
karena kebetulan saja, melainkan karena keorganisasiannya
yang rapi dan landasan hidupnya yang kuat serta tameng
pelindungnya yang ampuh.
Adalah satu contoh seperti Ahmadiyah ini yang datang
menyusup-nyusup ke dalam tubuh Islam dengan
merangkak-rangkak kemudian tegak dan mulai berbicara lantang
bahwa ialah yang mewarisi kesejatian agama, membawa
ajaran-ajaran yang kacau dan mengacaukan ketenangan iman
ummat Islam, mendakwa diri dengan seribu macam pangkat,
nama, keturunan, tingkah-laku, merupakan contoh yang bisa
diidentikkan dengan kelakuan-kelakuan biadab, penghinaan
maupun maki-makian yang keji terhadap pribadi Nabi Muhammad
s.a.w. perusakan mesjid-mesjid, pembunuhan biadab pada ummat
Muhammad, penghinaan kepada Allah, syirik, anti Tuhan, anti
Agama, dimana mereka itu hidup lebih dari duapuluh tahun.
Jika sekiranya Tuhan telah membinasakan nabi-nabi palsu maka
seharusnyalah Tuhan juga membinasakan kejahatan-kejahatan di
atas. Kedua-duanya tidak berbeda bahkan sejalan!
Kembali kita pada persoalan-persoalan Ahmadiyah dimana
disajikan berbagai dalil guna menguatkan kenabian Mirza
Ghulam Ahmad, maka sampailah kita pada ucapan-ucapan
tokoh-tokoh Ahmadiyah, antara lain Bashiruddin Mahmud Ahmad,
putera Mirza Ghulam Ahmad itu berkata:
“Dan beliau s.a.w., sahkan kebenarannya semuanya
Nabi-nabi baik yang dahulu baik yang akan datang.”8
Maknanya Nabi Muhammad telah mensahkan kebenaran Nabi-nabi,
baik yang datang sebelum beliau maupun Nabi-nabi yang datang
sesudah beliau. Jika yang dimaksud oleh Bashiruddin bahwa
sesudah Nabi Muhammad ada Nabi seorang saja yang disahkan,
maka itulah sebenarnya yang menjadi tujuannya dan tujuan
Ahmadiyah. Akan tetapi kenyataan dari ucapan Bashir itu
tidak demikian, sebab ia mengatakan nabi-nabi yang berarti
banyak Nabi.
Bukan begitu, tukas Ahmadiyah, melainkan banyak Nabi sebelum
Nabi Muhammad dan hanya satu Nabi sesudah beliau. Itu
hanyalah tergelincir pena atau keliru cetak. Maka untuk
sejenak kesalahan ucapan Bashir itu kita lampaui saja.
Baiknya melihat keterangan-keterangan atau dalil-dalil lain
seperti yang diucapkan tokoh-tokoh Ahmadiyah lainnya.
Berkata Ahmadiyah:
“Bahwa Nabi sesudah Nabi Muhammad itu kita akui ada dan
seterusnya akan ada.”9
Muncul lagi Kata-kata “dan seterusnya akan ada” yang
tentunya mengandung arti akan berdatangan Nabi-nabi sesudah
Nabi Muhammad, bukan begitu ? Dimana dan siapa-siapa mereka
gerangan Nabi-nabi sesudah Nabi Muhammad yang disahkan itu?
Bashiruddin tampil kemudian dengan memamerkan beberapa
Nabi-nabi akan tetapi sayangnya mereka Nabi-nabi palsu
belaka, yaitu Musailamah, Aswad Al-Ansi, Syajjah Al-Kahinah,
Abdullatif, Maulawi Muhammad Jar, Zahiruddin Abdullah
Timapuri, dan Nabi Bux.10 Tentu saja bagi Ahmadiyah
kedudukan Mirza Ghulam Ahmad tidak berada diantara Nabi-nabi
palsu itu. Lantas dimana dan siapa Nabi-nabi sah yang
seterusnya akan ada itu? Jika memang dicukupkan satu orang
saja menjadi Nabi dan “seterusnya akan ada” itu ternyata
menjadi seterusnya tidak akan ada, maka Ahmadiyah sewajarnya
menjelaskan bahwa hal itu kebetulan juga salah cetak atau
tergelincir lidah. Satu-dua kali keliru tidak apa-apa akan
tetapi berulang-ulang salah, adalah memalukan sekali.
Meskipun demikian, ternyata Ahmadiyah tidak kehilangan
langkah buat menutup-nutupi kesalahannya, sebab kemudian
Ahmadiyah berkata, bahwa adanya Nabi sesudah Nabi India
Mirza Ghulam Ahmad, bisa saja dan mungkin, bila Tuhan
menghendaki.11 Ahmadiyah masih memberi kesempatan, tentu
saja bila Tuhan menghendaki, adanya Nabi pengganti Mirza
Ghulam. Sikap lunaknya ini ternyata membelakangi sikapnya
yang lain. Ahmadiyah masih menggoreskan kedalam hati
pengikut-pengikutnya satu kebulatan iman bahwa Tuhan hanya
akan mengutus satu Nabi saja sesudah kenabian Muhammad
s.a.w. Cukup dan selesai dengan kenabian Mirza saja.
Ahmadiyah berkata:
“Didalam ummat Rasulullah yang mengikuti jejak beliau
memperoleh berkah ribuan hingga mendapat kedudukan
wali. Tetapi satu orang ada yang menjadi ummati dan
juga menjadi Nabi.”12
Satu orang cukup dengan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi,
yang lain wali-wali.
Catatan kaki:
1 Demagoog Qadiani ialah seorang pembohong dari Qadian
yakni Mirza Ghulam.
2 lih. Saleh A.Nahdi, Soal Jawab Ahmadiyah I, hal. 10
3 lih.M.Ahmad Nuruddin, Masalah Kenabian,
Wisma Damai Bandung, 1967, hal. 12: (qulu innahu khatamul
ambiya’i wa la taqulu la nabiyya ba’dahu) 19).
4 lih. Saleh A.Nahdi, Soal Jawab Ahmadiyah I, hal. 10
5 lih: Saleh A.Nahdi, Selayang Pandang Ahmadiyah, hal. 36.
6 lih: Saleh A.Nahdi, Selayang Pandang Ahmadiyah, hal. 46.
7 lih: sayyid Shah Muhammad, Menyingkap Keraguan, Jakarta,
Jemaat Ahmadiyah Indonesia, tahun tidak ada, hal. 18.
8 lih. Bashirudin Mahmud Ahmad, jasa-jasa Imam Mahdi,
hal. (e)
9 lih: M. Ahmad Nuruddin, Masalah Kenabian, hal. 16.
10 lih: Bashiruddin Mahmud Ahmad, Jasa-jasa Imam Mahdi,
hal. 15.
11 lih: Syafi R. Batuah, Ahmadiyah Apa dan Mengapa? hal. 6
12 lih: Saleh A. Nahdi, Mengapa dua Ahmadiyah? Jogyakarta,
1966, hal. 19.
4.4 WATAK YAHUDI
Tingkah laku yang disukai oleh Mirza Ghulam Ahmad dan
Ahmadiyahnya ialah mengubah makna maupun tujuan dari
ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits dengan selera serta
kepentingan mereka. Seperti watak yang dimiliki kaum Yahudi,
yaitu yuharriful alkalimah an-mawadi’ih, maka begitulah
sikap dan kelakuan kaum Ahmadiyah ini.
Dalam suatu penjelasan atas sebuah hadits yang menerangkan
tentang kesudahan Nabi pada Nabi Muhammad, Ahmadiyah
menyatakan pendiriannya yang menarik. Lebih dahulu kita
ketahui isi hadits tersebut, yaitu:
“Misal aku dengan Nabi-nabi yang sebelum aku seperti
seorang laki-laki yang telah mendirikan sebuah gedung
yang indah tetapi ketinggalan satu bata dan mereka
bertanya mengapa tidak engkau pasang sebata yang
ketinggalan itu. Akulah bata itu dan aku juga kesudahan
Nabi-nabi.”1
Apabila Hadits tersebut dipakai oleh ulama-ulama dengan
mengkiaskan satu bata itu untuk menyatakan kenabian Muhammad
sebagai Nabi terakhir, maka menurut Ahmadiyah, itu adalah
satu penghinaan atas diri beliau. Adakah beliau hanya
seperti batu bata saja bagi sebuah gedung yang indah
bentuknya itu? Jika dimisalkan dengan tiang mungkin juga
diterima, tapi jika Nabi s.a.w. cuma sekedar batu bata saja,
sangat keterlaluan, padahal Nabi Muhammad s.a.w. lebih dari
Nabi-nabi yang lain bahkan dari Malaikat-malaikat
sekalipun.2
Akhirnya karena itu satu penghinaan pada Nabi Muhammad, maka
Ahmadiyah mengajukan satu pembelaan juga. Adapun yang
dimaksud dengan satu bata itu, kata Ahmadiyah, ialah
syari’at atau Agama. Syari’at yang telah diturunkan kepada
Nabi-nabi yang dahulu merupakan satu gedung yang masih
kurang (satu bata, bukan? pen.) maka dengan kedatangan Nabi
Muhammad s.a.w. sempurnalah gedung itu.3
Yang menarik dari penjelasan Ahmadiyah di atas ialah bahwa
satu bata itu jika dimisalkan Nabi Muhammad adalah satu
penghinaan. Yang benar, kata Ahmadiyah, bahwa satu bata itu
adalah syari’at atau Agama, yakni Agama Islam yang dibawa
Nabi Muhammad s.a.w. Coba bayangkan bahwa gedung yang indah
itu diibaratkan syari’at-syari’at Nabi-nabi yang sebelum
Nabi Muhammad. Kemudian karena masih ketinggalan satu bata
yaitu masih ada satu lobang bata pada gedung yang indah itu.
Maka syari’at Nabi Muhammadlah pengisi lobang sebata itu.
Apakah ini bukan penghinaan juga?!
Ataukah ada pengertian lain dari Ahmadiyah, bahwa setiap
batu-bata pada bangunan yang indah itu adalah syariat atau
agama nabi-nabi sebelum nabi Muhammad. Hal ini perlu kiranya
minta bantuan Ahmadiyah untuk menaksir berapa jumlah batu
bata yang terdapat pada gedung yang indah itu? Jelasnya
berapa puluh ribu syariat atau agama sebelum syariat/agama
Islam datang? Apa yang dikatakan Ahmadiyah itu adalah
nonsense, omong-kosong. Itu tidak lain satu penghinaan atas
diri Nabi dan atas syariat yang dibawa beliau.
Selanjutnya Ahmadiyah mengataKan bahwa hadits tersebut
adalah dha’if atau lemah dan para perawi dalam hadits itu
tidak dapat dijadikan ukuran dan pegangan.4 Pada akhirnya
Ahmadiyah mengatakan bahwa dalam hadits itu ada satu
keganjilan yang perlu dipikirkan disini. Kalau hadits itu
shahih dan Nabi kita s.a.w. sudah menyempurnakan gedung
indah dengan penutup lobang yang tadinya terbuka dengan
kedatangan beliau. Dalam gedung yang sudah demikian itu Nabi
Isa a.s. akan menjadi sebagai apanya? Kita berdasarkan
Qur’an dan Hadits masih menunggu kedatangan Nabi, dalam
hadits dikatakan nabi Isa akan datang.5 Terakhir Ahmadiyah
bertanya:
“Kalau kita ibaratkan Nabi Isa sebagai batu-bata pula
dalam rangka susunan Nabi-nabi, maka dimana batu-bata
ini akan ditempatkan dalam gedung yang sudah tak ada
lobangnya itu?”6
Sekali lagi ulasan Ahmadiyah di atas menarik untuk dibahas.
Untuk menjawab pertanyaan: dimana batu-bata Nabi Isa akan
ditempatkan dalam gedung yang sudah tak ada lobangnya itu?
Ahmadiyah telah menjawab pertanyaan ini, akan tetapi dua
jawaban, dari mereka satu sama lain sudah tidak sama. Yang
pertama Ahmadiyah menjawab: “Hendaknya dikatakan, masih
tinggal dua batu bata lagi yaitu batu-bata nabi Muhammad
s.a.w. dan batu-bata nabi Isa a.s. yang akan turun di akhir
zaman.7 Jawaban mereka yang pertama ini jelas mengandung
satu penghinaan pada nabi Muhammad. Beliau s.a.w.
diibaratkan satu bata saja dan beliau disejajarkan dengan
satu bata lainnya yakni batanya nabi Isa a.s. akhir zaman
yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Kemudian pada jawaban yang kedua,
Ahmadiyah berkata: “Itulah sebabnya untuk menyempurnakan
syariat-syariat para nabi terdahulu itu datanglah nabi
Muhammad membawa syariat Al-Qur’an yang sempurna. Yang
sempurna itu tak memerlukan lagi perubahan apapun dalam
gedung indah itu. Tetapi untuk merawat, mengapur,
membersihkan dan menjaga gedung itu diperlukan seorang
petugas, dan untuk memelihara kebun dan halamannya
diperlukan tukang kebun yang diberi tugas oleh Tuhan.”8
Disini pada jawaban yang kedua, gedung indah itu sudah tidak
ada lobangnya lagi sebab sudah terisi dengan Nabi Muhammad.
Jadi yang ditanyakan oleh Ahmadiyah, dimana batu bata ini
akan ditempatkan dalam gedung yang sudah tak ada lobangnya
lagi? Telah dijawab sendiri oleh mereka, sedang Nabi Isa itu
hanya tukang kapur, tukang sapu, tukang kebun dan tukang
rawat atas gedung indah itu. Apa tidak kurang kalau hanya
seorang tukang yang merangkap segala pekerJaan atas gedung
yang indah itu? Salah-salah Tukang itu (Mirza Ghulam Ahmad)
bisa kelabakan, letih dan sakit-sakitan, bukan begitu?
Memang ternyata demikian keadaan si tukang Mirza Ghulam itu.
Ia sakit-sakitan saja dan kelak kita akan mengetahui betapa
hebatnya sakitnya dan betapa pula effeknya terhadap tugasnya
itu.
Dengan jawaban yang pertama yaitu bahwa seharusnya ada dua
batu-bata pada gedung indah itu, dan pada jawaban yang
kedua, bahwa sudah tidak ada lobang untuk pengisian satu
bata iagi, sehingga Nabi Isa (Mirza Ghulam) bukan lagi satu
batu-bata melainkan hanya tukang kebun dan lain-lain itu, di
sinilah Ahmadiyah berbeda jawab satu dengan yang lainnya.
Lebih menarik lagi kalau kita terus memperhatikan ulasan
Ahmadiyah atas hadits tersebut di atas. Sebagaimana tersebut
Ahmadiyah menyatakan bahwa hadits itu adalah dha’if dan
dengan sendirinya tidak dapat dijadikan ukuran dan
pegangan.9 Kalau sudah dinyatakan dha’if buat apa dipakai
dan diperpanjang uraiannya bertele-tele?! Dha’if ya sudah,
tidak perlu lagi. Akan tetapi rupa-rupanya tidak demikian
yang diniatkan oleh Ahmadiyah. Sebab hadits itu masih
dipakainya dan kemungkinan untuk terlaksananya satu
pengisian batu-bata pada lobangnya masih diharapkan dan
dipastikan ada.
Untuk ini lebih tepat kalau kita mendengar langsung ucapan
yang disampaikan oleh Mirza Ghulam Ahmad sendiri. Ia berkata
tentang hadits itu
“Adalah golongan Nabi-nabi yang diibaratkan satu gedung
itu kekurangan satu batu-bata, maka Allah akan cukupkan
dan sempurnakan gedung itu dengan satu bata yang akhir.
Maka akulah bata yang terakhir itu, hai orang yang
melihat!”10
Catatan kaki:
1 lih: A. Nuruddin, arti hakiki dari ayat
katamannabiyin, hal. 44
2 idem.
3 idem.
4 lih: Saleh A. Nahdi, Soal Jawab Ahmadiyah I, hal. 54.
5 lih: Saleh A. Nahdi, Soal Jawab Ahmadiyah I, hal. 54.
6 lih: Saleh A. Nahdi, Soal Jawab Ahmadiyah I, hal. 55.
7 lih: A. Nuruddin , khataman nabiyin , hal. 45.
8 lih: Saleh A. Nahdi, Soal Jawab Ahmadiyah I, hal. 55.
9 lih: Saleh A. Nahdi, Soal Jawab Ahmadiyah I, hal. 54.
10 lih: Mirza Ghulam Ahmad, Khutbat-ul-Ilhamiyah, hal. 32:
(fa kaana khaliyan maudi’u labinatin, au’nil mun-amaq
alaihi min hadzihil imarah, fa aradha Allahu an
yutimma-nabaa’ wa yukmila-al-binaa bil labinati -
akhirah, fa-ana tilkal-labinatu ayyuhan – nadhiruun.)
4.5 MIRZA PELEPAS AZAB
Itulah yang diniatkan oleh Mirza Ghulam dan Ahmadiyahnya,
bahwa hadits itu tidak dha’if dan bahwa satu bata itu memang
ada, jadi bukan dua bata, dan bukan tukang kapur maupun
tukang kebunnya gedung indah itu. Yang jelas bagi Ahmadiyah,
bahwa semua Nabi-nabi itu ibarat batu-batu bata, termasuk
Nabi Muhammad s.a.w. dan satu batu-bata yang kekurangan atas
gedung itu diisi oleh Mirza Ghulam Ahmad, sebab dialah Nabi
yang terakhir itu.
Selanjutnya Ahmadiyah masih mengutarakan dalil-dalilnya yang
lain, dalam rangka menyongsong kedatangan nabi baru sesudah
kenabian Muhammad s.a.w. Mereka lebih suka menggunakan
ayat-ayat Qur’an dan sekaligus mengartikan sesuai dengan
maksud-maksud mereka. Ayat 15 dari surah Bani Israiel, oleh
Ahmadiyah diartikan:
“Tidaklah kami menurunkan adzab, melainkan kami
kirimkan Rasul lebih dahulu. Ini untuk mencegah agar
jangan sampai orang-orang nanti pada hari qiamat
menyoal: (surah Thoha ayat 134): Wahai Tuhan kami,
kenapa Engkau tidak mengirimkan Rasul kepada kami lebih
dahulu supaya kami dapat menurut ayat-ayat Engkau
sebelum kami menderita kehinaan dan sengsara.”
Kemudian ayat lain yang berbunyi, ayat 58 Bani Israil:
“Tidaklah satu dusunpun sebelum berdirinya kiamat,
melainkan kami akan membinasakan atau mengadzabnya
dengan sehebat-hebatnya.”
Dari kedua ayat ini, demikian Ahmadiyah menegaskan, kita
dapat mengambil kesimpulan bahwa kedatangan Rasul-rasul
sebelum hari kiamat bukan mungkin saja, bahkan harus dan
pasti.1 Lagi-lagi Ahmadiyah mengatakan Rasul-rasul yang akan
datang. Kedatangan Rasul-rasul itu justru untuk
menyelamatkan kaum Muslimin dari kehancuran dan
kesengsaraannya. Bila kehancuran itu terjadi? Ahmadiyah
menjawab:
“Ummat Islam telah mengalami kehancuran dua kali.
Kehancuran pertama tatkala penyerbuan raja Moghol,
Hulagu Khan, pada tahun 1258 itu, dan kehancuran yang
kedua tatkala berada di bawah penjajahan imperialisme
Barat.”2
Karena dua kali kehancuran inilah maka Tuhan mengirim
Rasul-rasulNya. Siapakah rasul yang dikirim Tuhan pada tahun
1258 itu dan siapa Rasul yang dikirim pada masa penindasan
imperialisme Barat itu? Kaum Ahmadiyah tidak pernah
menyebut-nyebut nama rasul yang diutus Tuhan pada tahun
penyerbuan Hulagu Khan itu. Melainkan hanya satu rasul yang
diutus pada masa penindasan imperialisme Barat, yakni Mirza
Ghulam Ahmad. Ada kemungkinan Mirza rnerangkap sebagai rasul
tahun 1258 itu juga. Sungguh menarik, bagaimana ia dapat
menyelamatkan adzab sengsara kaum Muslimin pada tahun 1258
itu, padahal Mirza Ghulam Ahmad baru muncul ke dunia ini
lima ratus tahun kemudian. Tentunya dari saat ke saat kaum
Muslimin yang hidup antara 500 tahun itu akan mengajukan
soal pada Tuhan: “Wahai Tuhan kami, kenapa Engkau tidak
kirim rasul-Mu?” Justru pada waktu itulah saat yang paling
tepat bila Tuhan mengutus rasul-Nya,dan tidak menunggu
sampai Mirza Ghulam Ahmad lahir.
Kemudian pada kehancuran kaum Muslimin yang kedua kalinya,
Tuhan telah mengirimkan: rasulNya, yaitu Mirza Ghulam Ahmad.
Yang penting untuk ditanyakan di sini, apakah gerangan
kiranya yang dibuat Mirza Ghulam Ahmad untuk menyelamatkan
kaum Musilmin dan penindasan imperialisme Barat?!
Berikut ini Ahmadiyah mengemukakan satu dalil dari
Al-Qur’an. Diambil dari surah An-Nisa’ ayat 69 yang
berbunyi:
“Barangsiapa yang menurut perintah Allah dan RasulNya,
nabi Muhammad s.a.w., mereka akan termasuk golongan
orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah yaitu,
nabi-nabi orang-orang siddiq, syahid, dan saleh.”
Jelasnya mereka sebagai ummat selaras dengan keimanan
kesetiaan dan keikhlasan mereka masing-masing dan
taufik Ilahi menyertainya pula dapat menerima keempat
kedudukan tersebut. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa
ummat Islam sebagai ummat yang terbaik dan patuh serta
setia kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad s.a.w.
mereka akan diberi empat macam nikmat yaitu: menjadi
nabi, menjadi siddiq, menjadi syahid dan menjadi orang
saleh.”3
Ahmadiyah meneruskan lagi uraiannya tentang ayat An-Nisa’
itu dengan mengatakan, dan jika perkataan minannabiyin (dari
Nabi-nabi) dihubungkan dengan perkataan wa man yuthi’illaha
warrusula (dan barangsiapa mengikut Allah dan rasul) maka
adalah perkataan minan nabiyin itu tafsir (penjelasan) dari
kalimat wa man yuthi’ilaha (barangsiapa yang mengikut
Allah). Akhirnya Ahmadiyah berkata: “Maka dengan susunan
seperti ini sudah pasti adanya nabi-nabi pada masa rasul
atau kemudian beliau yang akan mengikut beliau.”4
Yang menarik buat kita bukan saja adanya nabi-nabi sesudah
Nabi Muhammad melainkan kata-kata: ada nabi-nabi pada masa
rasul. Untuk apa ditulis itu, apa Ahmadiyah buta pada
sejarah atau membodoh-bodohi pengikut-pengikutnya. Lebih
baik sebut saja: nabi-nabi di kemudian beliau. Inipun tidak
terlepas juga dari blundernya, sebab nabi-nabi itu masih
ditulisnya jua.
Lebih menarik lagi pada watak Ahmadiyah ialah mengubah arti
dan tujuan dari ayat-ayat Al-Qur’an. Seperti dalam surah
An-Nisa’ tersebut di atas, pengertiannya, bukanlah dimaksud
bahwa yang taat pada Allah dan RasulNya akan diberi nikmat
menjadi nabi-nabi, siddiqin, syuhada, dan shalihin,
melainkan bagi mereka yang taat akan diberi nikmat
sebagaimana nikmat yang diterima oleh para nabi, siddiqin,
syuhada’ dan shalihin. Jika ada dari orang-orang itu
muttaqin, shabirin, syakirin, mu’minin, maka Allah akan
memberi nikmat sebagaimana yang diterima oleh Nabi-nabi
siddiqin syuhada’ dan shalihin. Bukankah yang diharap mereka
itu ialah keridhaan Allah di dunia dan di akhirat? Jadi
jelas bukan nikmat menjadi nabi-nabi. Memang benar sudah
banyak ummat Muhammad s.a.w. yang siddiqin, syuhada dan
shalihin, tapi tidak pernah ada yang nabiyin, bahkan tidak
pernah ada yang nabi, sekalipun. Itu hanya satu kecerdikan
Ahmadiyah dengan tujuan membuka jalan bagi masuknya Mirza
Ghulam Ahmad menjadi nabi.
Dan inipun juga satu kecerdikan kaum Ahmadiyah yang lain.
Diambilnya dari surah Al-Maidah ayat 21: “dan ketika nabi
Musa a.s. berkata pada kaumnya (Bani Israel) wahai kaumku,
ingatlah kamu pada, nikmat Allah yang telah diberikannya
kepadamu yaitu waktu ia mengangkat diantara kamu menjadi
Nabi-nabi dan raja-raja.” Ayat ini tegas menjelaskan bahwa
ummat Islam pasti akan menerima kedua macam nikmat tersebut.
Nikmat yang kedua sudah sempurna yaitu sudah banyak sekali
ummat Islam yang telah menjadi raja-raja dan nikmat yang
kedua pasti sempurna pula.”5 Demikian Ahmadiyah.
Yang dimaksud nikmat pertama yang ditunggu-tunggu kaum
Muslimin ialah nikmat menjadi nabi-nabi. Nikmat yang kedua
menjadi raja-raja sudah banyak dan kalau nikmat itu sudah
dirasakan ummat Muhammad, maka itu sudah berlawanan dengan
kenyataannya. Justru raja-raja dalam Islam tidak ada dan
syari’at Muhammad s.a.w. tidak mengenal kerajaan serta tidak
mengajarnya. Raya-raja yang bangun di kalangan kaum muslimin
adalah raja-raja yang banyak mendzalimi rakyatnya, dan hanya
menikmati kemewahan harta dan perempuan. Apakah yang
demikian satu kenikmatan dari Allah?! Ahmadiyah hanya
omong-kosong. Apatah lagi datangnya nikmat inabi-nabi
sesudah Nabi Muhammad.
Catatan kaki:
1 lih: M. Ahmad Nuruddin, Masalah Kenabian, hal 22.
2 lih: Ali Muchajat, Hakikat al-Masih, Jakarta Al-Busyra,
tanpa tahun, hal. 53.
3 lih: M. Ahmad Nuruddin, Masalah Kenabian hal. 20.
4 lih: idem hal. 21/22.
5 lih: M. Ahmad Nuruddin, Masalah Kenabian, hal. 17/18.
4.6 CABIKLAH TIRAI ITU
Satu ucapan tidak beres yang berkali-kali dilontarkan
Ahmadiyah. Namun demikian kalau sekiranya hendak ditanggapi
obrolan Ahmadiyah itu, hanya semata-mata for the sake of
arguments saja, katakanlah bahwa menjadi raja-raja di
kalangan ummat Islam itu adalah satu kenikmatan dari Allah,
lantas menjadi nabi-nabi, yang mana mereka itu? Satu hal
yang pasti ialah bahwa Ahmadiyah hanya memiliki satu nabi
saja sesudah Nabi Muhammad s.a.w., yaitu Mirza Ghulam Ahmad.
Jika ini dikatakan satu kenikmatan pula, maka yang dimaksud
ialah kenikmatan buat Mirza sendiri, ketuarganya maupun para
pengikut-pengikutnya yang setia. Bahkan kenikmatan itu
begitu besarnya sehingga Ahmadiyah berani mengatakan bahwa
ayat-ayat 6 dan 7 dari surah Al-Fatihah, tidak lain
ditujukan bagi datangnya Mirza Ghulam.
Jelasnya, menurut Ahmadiyah bahwa dari surah Al-Fatihah ayat
6 dan ayat 7 yang berbunyi:
“Tunjukilah kami ke jalan yang lurus yaitu jalan yang
telah Engkau tunjukkan kepada orang-orang yang telah
Engkau beri nikmat.”
Ayat ini, demikian Ahmadiyah, ialah ayat di mana Allah telah
memerintahkan kepada ummat Islam supaya sebagai ummat
meminta kepadaNya, agar nikmat-nikmat yang pernah diterima
oleh ummat dahulu terutama kaum Bani Israiel (Yahudi)
diberikan pula pada mereka. Apakah nikmat-nikmat itu? Tidak
lain, kata Ahmadiyah, ialah menjadi raja-raja dan
nabi-nabi.1
Jadi bagi kaum Muslimin yang selalu mengucapkan do’a dalam
Al-Fatihah pada waktu mereka melakukan shalat, tujuh belas
kali sehari semalam itu, ternyata do’a mereka telah
dikabulkan Tuhan yaitu, dengan munculnya Mirza Ghulam Ahmad
dari India, sebagai satu-satunya nabi. Pantas juga kalau
orang-orang pengikut Mirza mengatakan bahwa kedatangan Mirza
sebagai fadhlan kabiran (buat siapa?!)
Last but not least, untuk lebih banyak mengenal model watak
ke-Yahudian kaum Ahmadiyah ini, kita melihat satu uraian
lagi dari mereka, dimana satu khabar gembira dari Tuhan
telah turun pada Mirza Ghulam Ahmad, isi kabar itu ialah
“Hai Mirza engkau dari Aku dan Aku dari engkau.”2
Wahyu Tuhan di atas sangat menggembirakan Mirza Ghulam, akan
tetapi bagaimana mengartikannya? Satu hal yang tidak beres
pada Ahmadiyah; bagaimana Tuhan bisa dikatakan dari Mirza
dan Mirza dikatakan dari Tuhan? Apanya yang dari Tuhan dan
apanya Tuhan yang dari Mirza Ghulam? Ada lagi wahyu yang
bikin Mirza Ghulam Ahmad lebih bergembira:
“Wahai bulan (Mirza) engkau dari padaKu dan
Aku dari padamu.”3
Andaikata wahyu Tuhan itu diartikan harafiah, maka kata-kata
itu jelas keluar dari akal tidak waras. Tentu saja Ahmadiyah
menolak tuduhan semacam itu. Maka inilah pengertian mereka
yang disodorkan ke tengah-tengah pengikutnya. Mula-mula
dikemukakan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda pada
Sayyidina Ali r.a.:
“Hai Ali engkau dari padaku, dan aku dari padamu.”4
Kemudian dikemukakan contoh lain, yaitu ketika Nabi Muhammad
bersabda pada suku Asy’ari, ialah: “Mereka dari padaku dan aku dari pada mereka.”5
Akhirnya Ahmadiyah bertanya tentang contoh-contoh yang dikemukakannya itu: anehkah itu dan ganjilkah? Dijawab sendiri oleh Ahmadiyah: “Ini senafas dengan ilham di atas, yakni ilham Tuhan pada Mirza di atas.”6
Tentu saja kalau Ahmadiyah yang menjawab, tidak aneh dan
tidak ganjil wahyu Tuhan pada Mirza itu. Akan tetapi
obrolan-obrolan mereka itu lebih daripada aneh dan ganjil,
malah sangat tidak beres maupun tidak karuan.
Bahwa nabi Muhammad pernah bersabda, beliau s.a.w. daripada suku Asy’ari dan suku tersebut dari pada Nabi, ucapan yang demikian itu wajar, sebab terjadi antara dua jenis yang sama yaitu manusia. Juga sabda beliau s.a.w. pada sayyidina Ali tersebut di atas, wajar pula adanya. Bahwa Nabi adalah
sepupu Ali bin Abi Thalib r.a., Nabi dipelihara ayah Ali, dan Ali diambil Nabi, dikawinkan pada puteri beliau, kemudian Nabi bersaudara dengan Ali, maka sungguh bahwa Nabi dari pada Ali dan Ali dari pada Nabi s.a.w. Terserah pada Ahmadiyah kini kalau mereka hendak menurunkan martabat Ketuhanan pada dan menjadi martabat manusia seperti Mirza Ghulam Ahmad itu; suatu kebodohan pada akal yang cerdik.
Bahkan kecerdikan itu bertambah-tambah karena ucapan-ucapan mereka yang salah. Antara lain Ahmadiyah mengemukakan contoh ayat-ayat al-Qur’an yang diartikan menurut selera mereka, misalnya ayat 249 dari surah Al-Baqarah. Anak buah Mirza Ghulam Ahmad ini mengartikan ayat tersebut sebagai berikut:
“Siapa yang minum dari padanya (air sungai) dia bukan dari padaKU.” (faman syariba minhu falaisa minni).
Kemudian Ahmadiyah bertanya: “Apakah ini berarti bahwa orang yang tidak minum air sungai itu dia dari pada TUHAN?” Inipun senada dengan ilham Tuhan pada Mirza di atas tadi.
Cobalah perhatikan bagaimana Ahmadiyah telah mengubah makna dari ayat tersebut dan sekaligus mengubah jalannya sejarah. Mereka suka mengambil ayat-ayat Al-Qur’an hanya potong-potongannya saja. Tentu saja mereka bermaksud untuk menguatkan ucapan-ucapan mereka. Padahal kelengkapan makna dari surah Al-Baqarah ayat 249 itu ialah sebagai berikut:
“Maka ketika Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu yang meminum airnya bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada merasakan airnya kecuali orang yang hanya menciduk seciduk tangan, maka ia adalah pengikutku.”
Itulah arti yang sebenarnya sesuai dengan sejarah terjadinya peristiwa itu. Bukan diartikan seperti kehendak kaum Ahmadiyah, bahwa yang minum air dari sungai itu, ia bukan dari padaKu (TUHAN). Ini pengertian yang dibuat-buat atau sikap ke-Yahudiannya dengan yuharrifun-al-kalimah
an-mawadhi’ih, selalu tampak menyolok pada mereka.
Contoh lain daripada watak-watak menyalah-gunakan arti dan tujuan dari ayat-ayat Al-Qur’an, dikemukakan lagi oleh golongan Mirza Ghulam Ahmad ini. Ahmadiyah mengatakan bahwa kedatangan Imam Mahdi yang dinanti-nantikan itu telah disabdakan Nabi Muhammad dalam sabda beliau:
“Sesungguhnya bagi kedatangan Imam Mahdi itu ada dua tanda yang belum pernah terjadi sejak dijadikan langit dan bumi oleh Allah. Tanda itu ialah: akan terjadi gerhana bulan pada permulaan bulan puasa dan gerhana matahari pada pertengahan bulan puasa yang sama. Kejadian serupa ini belum pernah terjadi sejak dijadikannya langit dan bumi oleh Allah.”
Tanda-tanda tersebut yang dinyatakan dalam hadits di atas, telah terjadi sesuai dengan berita yang tertera, yaitu terjadi pada tahun 1311 hijriah atau bertepatan dengan tahun 1894 masehi.
Tanda-tanda yang istimewa itulah yang menyongsong kedatangan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi yang dinanti-nantikan.
Menurut Ahmadiyah keistimewaan tanda-tanda dari datangnya Mirza Ghulam Ahmad sebagai Al-Mahdi Al-Ma’huud itu, telah disinggung secara nyata, baik dalam kitab Beibel maupun dalam Al-Qur’anul Karim.
Lebih lanjut meneruskan, bahwa Yesus telah memberi isyarat akan saat-saat kedatangan beliau yang kedua kalinya itu dalam kitab Beibel. Dalam surat Mattius 24;29, tanda-tanda itu dikatakan:
“Maka sejurus kemudian daripada ketika sengsara itu, matahari akan dikelamkan, dan bulan juga tiada akan bercahaya.”11
Itulah kutipan Ahmadiyah dari Beibel yang menggambarkan saat-saat kedatangan Yesus kembali. Orang-orang Ahmadiyah ini ternyata berbicara cukup
