Adab bertelepon seluer; merekam tanpa izin
Terkadang seseorang menelepon temanya lalu merekam pembicaraan atau meletakkannya di dekat pengeras suara dan disekitarnya ada orang lain yang mendengarkan pembicaraan. Perbuatan semacam ini tidak layak dilakukan oleh orang yang berakal sehat terutama jika percakapan tersebut bersifat khusus atau rahasia, maka hal ini menjadi bagian dari sifat khianat atau bagian dari sifat namimah (menyebar aib orang lain). Terlebih lagi jika orang yang direkam pembicaraannya tadi adalah soerang yang berilmu kemudian direkam pembicaraannya tanpa izinnya kemudian disebarkan atau ditampilkan di internet, atau ditulis dengan diberi tambahan atau dikurangi sana sini.
Berkata Syaikh Allamah Bakr Abu Zaid hafidhahullah “Tidak boleh bagi seorang muslim yang menjaga amanah dan membenci sifat khianat untuk merekam pembicaraan tanpa izin atau tanpa sepengetahuan orang yang direkam meskipun pembicaraan itu berupa masalah agama, atau duniawi seperti fatwa, kajian ilmiah, atau kajian ekonomi dan lain-lain” (Adabul Hatif, 28).
Beliau juga berkata:”Jika engkau merekam pembicaraannya tanpa izin atau tanpa sepengetahuannya maka hal ini adalah makar, muslihat dan khianat terhadap amanah, dan jika engkau sebarkan pembicaraan itu kepada orang lain maka kesalahannya bertambah besar, terlebih lagi jika engkau rubah isi pembicaraan dengan mengurangi, menambahi, mengakhirkan atau mendahulukan, maka engkau telah melakukan pengkhianatan yang berlipat-lipat dan engkau terjatuh dalam kesalahan besar yang tidak dapat ditolerir”
Kesimpulannya merekam pembicaraan telepon atau pebicaraan biasa tanpa sepengetahuan orang yang direkam dan tanpa izinnya adalah kesalahan, dan pengkhianatan, dan merusak sifat keadilan. Hal ini tidak akan dilakukan kecuali oleh orang yang lemah agamanya, miskin akhlaq dan etikanya, terlebih lagi jika kesalahannya berlipat ganda seperti telah disebutkan, maka wahai para hamba Allah bertakwalah kepadaNya dan janganlah kalian mengkhianati amanah kalian dan janganlah menimbulkan kesusahan kepada saudara-saudara kalian” (Adabul Hatif, 29-30)
- Bersambung Bag. 05
- Bag. 01 Adab Bertelepon
- Bag. 02 Adab Bertelepon
- Bag. 03 Adab Bertelepon
- Bag. 04 Adab Bertelepon
- Download artikel ini Versi Ms Word DOC
- Download artikel ini Versi PDF

Leave a Reply